Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Bagaimana Membangun Hubungan yang Sehat dengan Anak Tiri Anda

Pengasuhan anak memiliki banyak tantangan yang besar. Hal ini sedikit lebih menantang daripada peran orang tua tiri Kristen. Singkat kata, orang tua tiri melibatkan orang tua kandung dalam membesarkan anak mereka, tetapi pada awalnya ia melakukannya tanpa suatu ikatan yang jelas dengan si anak. Otoritas orang tua didasarkan pada kedalaman hubungan antara orang dewasa dan anak. Hubungan orang tua tiri dan anak tiri yang lemah karena kecilnya hubungan emosional dan hanya memiliki kenangan bersama yang singkat (dikembangkan saat orang tua berpacaran), membuat peran orang tua tiri menjadi sangat sulit dan mengecewakan.

Coba pertimbangkan email yang saya terima dari seorang ayah kandung yang membutuhkan pertolongan: "Jean adalah ibu tiri bagi anak laki-laki saya yang berusia 7 tahun. Selama sepuluh minggu terakhir, sebuah hubungan yang sangat intensif telah berkembang di antara mereka. Setelah berpisah, sekarang Jean sama sekali tidak mau berhubungan lagi dengannya dan terus-menerus mengatakannya kepada anak laki-laki saya. Hal ini membuat pernikahan kami tegang, dan Jean mengatakan ingin pergi. Pernikahan kami sama sempurnanya dengan pernikahan orang lain ketika anak laki-laki saya mengunjungi ibu kandungnya. Namun, ketika anak saya kembali, keadaan menjadi sangat tidak nyaman untuk semua orang. Istri saya (Jean) tidak mengerti mengapa Allah melakukan hal ini kepadanya dan ia mempertanyakan imannya."

Mengasuh Sebagai Orang Tua Tiri itu Sulit!

Saya dapat membayangkan bagaimana ibu tiri ini menjelaskan keadaannya. Ia sepertinya bingung dengan perannya, yang digantikan oleh suaminya saat anak tirinya itu di dekatnya, dan tidak kuasa untuk mengubah keadaan. Selain itu, pengalaman saya mengatakan bahwa ia juga merasa bersalah karena ia tahu bahwa Allah mengharapkannya mengasihi anak tirinya itu. Itu memang situasi yang sulit. Menemukan peran orang tua tiri yang efektif benar-benar suatu tantangan. Akan tetapi, dengan harapan-harapan yang sehat dan strategi yang spesifik untuk membangun hubungan, sebuah ikatan yang menyenangkan dapat dipupuk.

Harapan yang Realistis

Orang tua tiri dan orang tua kandung hampir sama, sering kali terlalu banyak berharap kepada orang tua tiri, terutama pada awal pembangunan keluarga tiri. Penelitian menegaskan, misalnya, bahwa orang tua tiri dan orang tua kandung umumnya beranggapan bahwa orang tua tiri seharusnya sayang kepada anak tiri dan berusaha mendapatkan rasa hormat (untuk membangun posisi mereka sebagai "orang tua"). Akan tetapi, anak-anak tiri melaporkan -- bahkan lima tahun setelah pernikahan -- bahwa mereka berharap orang tua tiri akan mencoba memberikan sedikit kasih sayang secara fisik dan enggan memberikan hukuman. Karena itu, tantangan bagi orang tua tiri dan orang tua kandung sepertinya adalah untuk menurunkan harapan-harapan mereka dan merundingkan sebuah hubungan yang "cocok untuk kedua pihak", baik untuk anak tiri maupun untuk orang tua tiri. Mari kita menyelidiki beberapa prinsip penting yang mungkin dapat menolong.

  1. Sediakan waktu Anda untuk mengembangkan sebuah hubungan yang dapat diterapkan. Sadarilah bahwa untuk menumbuhkan kasih dan kepedulian itu membutuhkan waktu, khususnya bagi anak praremaja dan remaja. Beberapa penelitian menyatakan bahwa anak-anak balita akan terikat pada orang tua tiri dalam kurun waktu satu atau dua tahun. Akan tetapi, anak-anak remaja yang lebih tua khususnya, mungkin membutuhkan seumur hidup mereka ketika pernikahan kedua terjadi. Dengan kata lain, anak berusia 10 tahun membutuhkan 10 tahun untuk merasa benar-benar terhubung dengan Anda. Cobalah membayangkan keluarga tiri Anda dalam sebuah kuali; kuali memang lambat untuk mematangkan makanan, jadi jangan memburu-burunya. Namun demikian, kuali secara perlahan akan membuat semua bumbu menjadi satu, jadi percayalah bahwa api kecil pada akhirnya akan membuat proses memasak berjalan dengan baik. Berikut ini adalah beberapa rekomendasi tentang memasak menggunakan kuali dengan "api kecil":

    • Jangan berharap bahwa Anda dan anak tiri Anda akan secara ajaib merasa gembira sepanjang waktu Anda bersama-sama. Anak-anak tiri sering kali merasa bingung dengan hubungan keluarga baru, merasa harus menerima dengan baik sekaligus kesal dengan perubahan-perubahan yang dibawa orang baru ke dalam hidup mereka. Berikan ruang dan waktu kepada anak-anak untuk menangani emosi mereka.

    • Izinkan diri Anda sendiri untuk tidak sepenuhnya diterima oleh mereka. Penerimaan mereka terhadap Anda sering kali lebih tentang keinginan untuk tetap berhubungan dengan orang tua kandung mereka daripada tentang penerimaan atau penolakan terhadap Anda. Kesadaran ini akan menolong Anda untuk mengurangi berbagai penolakan mereka yang tampak jelas.

    • Berikan waktu kepada anak tiri Anda untuk jauh dari Anda, terlebih baik lagi jika mereka bersama orang tua kandung mereka. Waktu khusus yang dimiliki anak tiri bersama orang tua kandung mereka sebelum ayah/ibunya menikah dengan Anda akan perlahan berhenti setelah pernikahan yang kedua. Menghormati anak-anak tiri Anda dengan memberikan waktu khusus ini akan menolong mereka untuk segera menghormati Anda.

    • Kesetiaan anak-anak kepada orang tua kandung mereka mungkin terganggu dengan penerimaan mereka terhadap Anda. Anak-anak sering kali merasa terkoyak secara emosi ketika mereka harus hidup dengan orang tua tiri. Rasa takut bahwa menyukai Anda bagaimanapun juga akan melukai orang tua kandung mereka merupakan hal yang umum. Rasa bersalah yang muncul, yang mereka alami, dapat mengarahkan mereka pada sikap tidak taat dan hati yang tertutup. Untuk menolong anak tiri, usahakanlah hal ini:

      • Biarkan anak-anak menjaga kesetiaan mereka (kepada orang tua kandung) dan sarankan untuk tetap berhubungan dengan orang tua kandung mereka.

      • Jangan pernah mengkritisi orang tua kandung mereka karena itu akan merusak pendapat anak terhadap Anda.

      • Jangan berusaha menggantikan orang tua kandung yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Anggaplah diri Anda sebagai orang tua tambahan yang digambarkan dalam kehidupan anak -- jadilah diri Anda sendiri.

    • Aturan utama untuk hubungan antara orang tua tiri dan anak tiri adalah sebagai berikut: Biarkan anak-anak menentukan langkah mereka bagi hubungan mereka dengan Anda. Jika anak tiri Anda terbuka kepada Anda dan tampak menginginkan kasih sayang fisik dari Anda, jangan mengecewakan mereka. Akan tetapi, jika mereka tetap menjauh dan curiga, jangan memaksakan diri Anda kepada mereka. Hargailah batasan-batasan mereka karena sering kali, itu mewakili kebingungan mereka atas hubungan baru dan rasa kehilangan mereka pada masa lalu. Sementara itu, dalam "kuali keluarga tiri" yang menyatukan Anda bersama, tingkatkan secara perlahan keterlibatan dan kasih sayang Anda. Bersama-sama, Anda dapat membangun sebuah hubungan yang dapat dipupuk, yang akan terus bertumbuh selamanya.

    Akhir-akhir ini, seorang pria memberi tahu saya bahwa dibutuhkan 30 tahun untuk ia bisa memberi tahu ayah tirinya bahwa ia mengasihinya. Tidak diragukan lagi, ayah tirinya pasti berjuang selama tahun-tahun untuk mendapatkan penerimaan dari putra tirinya. Akan tetapi, meskipun ia memiliki sikap saleh dan berjiwa pemimpin, anak tirinya tidak dapat mengizinkan dirinya sendiri membalas kasih itu. Akan tetapi, pada akhirnya, kasihlah yang menang dan mampu mengekspresikan penghargaan kepada ayah tirinya karena keterlibatannya dalam hidup anak itu. Rasa percaya yang melakukan hal benar di dalam nama Kristus pada akhirnya akan menyatukan Anda dan anak tiri Anda. Pada saat yang sama, tetapkan harapan-harapan yang realistis yang tidak akan membuat Anda merasa gagal (sampai saatnya tiba).

    Santai dan Bangunlah Hubungan

    Santai. Ini merupakan kata yang menarik untuk didengar ketika Anda merasa seolah tidak melakukan suatu kemajuan sebagai orang tua tiri, tetapi itulah kata yang terus saya gunakan dalam terapi untuk keluarga-keluarga tiri. "Kuali" itu pada akhirnya akan membawa Anda lebih dekat dengan anak-anak tiri Anda, tetapi Anda tidak dapat memaksakan kasih sayang mereka. Jadi, santai saja. Terima saja tingkat hubungan yang ada saat ini dan percayakan saja pada "kuali" itu untuk meningkatkan hubungan Anda dari waktu ke waktu. Sementara itu, gunakan saran-saran berikut ini untuk menolong Anda lebih intens pada membangun hubungan Anda secara perlahan.

    Pertama, awasilah (1) kegiatan-kegiatan anak-anak tiri Anda. Ketahuilah apa yang mereka lakukan di sekolah, gereja, dan di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler; dan menjadikan hal itu sebagai bagian tujuan Anda. Ajaklah mereka bermain sepak bola, tanyakan ujian matematika yang mereka pelajari, dan bantulah mereka mempelajari peran mereka dalam drama sekolah. Pengawasan berguna untuk menyeimbangkan ketertarikan dalam diri anak tanpa melakukannya dengan terlalu keras.

    Saran yang kedua juga berusaha untuk membangun hubungan, tetapi pelan-pelan. Dalam tahun pertama pernikahan kembali, orang tua tiri harus terlibat dengan anak tiri ketika anggota keluarga yang lain ada. Aktivitas "kelompok" keluarga ini mengurangi kecemasan yang dirasakan anak saat sendirian bersama orang tua tiri. Orang dewasa sering kali beranggapan bahwa cara untuk mengenal anak tiri mereka adalah dengan meluangkan waktu pribadi dan khusus bersama mereka. Mungkin ini berlaku bagi beberapa anak tiri; akan tetapi, kebanyakan anak tiri lebih senang jika tidak "dicampakkan" ke dalam situasi seperti itu sampai mereka mendapatkan waktu untuk menumbuhkan kenyamanan dengan orang tua tiri. Hormatilah perasaan itu hingga si anak merasa yakin bahwa ia akan baik-baik saja saat sendirian bersama orang tua tiri.

    Saran lain untuk membangun hubungan adalah dengan menceritakan talenta, keterampilan, dan minat Anda kepada anak, dan penasaran dengan talenta, keterampilan, dan minat mereka. Jika Anda dapat bermain gitar dan seorang anak tiri tertarik, luangkan waktu untuk mengajarinya. Jika seorang anak tertarik pada seri buku atau video game tertentu, tertariklah dengan hal itu dan minta anak tersebut menceritakan hal itu kepada Anda. Ketertarikan-ketertarikan yang diceritakan ini menjadi titik-titik koneksi yang menguatkan rasa percaya antara orang tua tiri dan anak tiri. Menceritakan Tuhan melalui dialog, musik, atau kegiatan gereja adalah sumber-sumber koneksi yang dahsyat. Misalnya, proyek-proyek pelayanan merupakan kegiatan yang sangat bagus untuk para orang tua dan orang tua tiri untuk dijalani bersama. Hal-hal kecil dapat menyatukan orang-orang seperti melayani orang lain di dalam nama Tuhan. Mendiskusikan nilai-nilai melalui mata Kristus dan memiliki saat teduh keluarga juga dapat menguatkan hubungan Anda, serta memperkuat pembentukan rohani dalam diri anak.

    Temukan Peran Anda dengan Disiplin

    Mungkin, peran yang paling membingungkan bagi orang tua tiri adalah bagaimana menetapkan batasan, mengajarkan nilai-nilai, dan melaksanakan konsekuensi. Bahkan, jebakan paling umum bagi keluarga tiri adalah ketika orang tua kandung terlalu melepaskan tanggung jawab untuk membesarkan anak, dan orang tua tiri mulai terlalu cepat menghukum anak karena kelakuannya yang tidak baik. Tentu saja, pendekatan tim terpadu yang melibatkan orang tua kandung dan orang tua tiri adalah cara yang terbaik.

    Awalnya, kerja sama antara orang tua kandung dan orang tua dimulai dengan pengakuan tentang kurangnya otoritas orang tua tiri karena lemahnya hubungan dengan anak, meskipun itu sedang bertumbuh. Sebelum status (2) orang tua diperoleh (bisa saja membutuhkan waktu 18 bulan sampai beberapa tahun), orang tua tiri harus berfokus pada membangun hubungan (baca bagian di atas) dan menjadi perluasan otoritas orang tua kandung. Awalnya, hal ini terjadi melalui dua tugas:

    1. Merundingkan serangkaian peraturan rumah tangga dan sebuah standar tingkah laku bagi semua anak (baik anak kandung maupun anak tiri).

    2. Menempatkan orang tua tiri dalam peran "baby-sitter" (pengasuh bayi).

    Merundingkan serangkaian peraturan dan perilaku rumah tangga harus melibatkan kedua orang dewasa (orang tua kandung dan orang tua tiri), tetapi itu dilakukan (awalnya) tanpa sepengetahuan anak. Sebagaimana semua orang tua yang efektif, pasangan ini harus mendiskusikan peraturan, standar, konsekuensi, dan sistem pendisiplinan bagi anak-anak. Kemudian, orang tua kandung dapat mengomunikasikan hal ini kepada anak. Ketika salah satu orang tua bertindak di luar peraturan-peraturan yang sudah dibicarakan (atau gagal mempertahankannya), anak-anak dapat memisahkan atau menaklukkan pasangan tersebut. Konflik dan kebencian pasti akan menjadi hasilnya.

    Di pihak lain, ketika seorang pengasuh bayi merawat anak-anak, dapat dipahami bahwa mereka memiliki otoritas karena orang tua kandung anak telah memintanya bertanggung jawab. Demikian juga, ketika peraturan-peraturan telah diumumkan, orang tua kandung harus memberikan kuasa kepada orang tua tiri dengan mengomunikasikan kepada anak-anak harapan bahwa mereka akan menaati dan menghormati orang tua tiri mereka. Jika satu peraturan dilanggar, ini berarti melanggar peraturan "rumah tangga" atau peraturan "orang tua", bukan peraturan orang tua tiri. Jika hukuman diberikan oleh orang tua tiri, itu adalah hukuman dari "orang tua kandung". Selanjutnya, ketika orang tua kandung terlibat dalam hal ini, mereka harus mendukung keputusan-keputusan orang tua tiri (semoga keputusan-keputusan tersebut sejalan dengan sistem pendisiplinan yang sudah ditetapkan sebelumnya), dan kemudian memperkuat harapan mereka bahwa di kemudian hari anak itu akan menaati orang tua tiri. Dengan demikian, peran pengasuh bayi di sini menciptakan jarak antara orang tua tiri dan anak tiri untuk membangun sebuah hubungan, dan pada saat yang sama, memberdayakan orang tua tiri untuk memiliki pengaruh di rumah.

    Jika anak-anak sudah berjuang menerima posisi orang tua tiri, bandingkan ketaatan mereka kepada orang tua tiri dengan ketaatan mereka kepada guru, pelatih, atau konselor kamp. Kadang-kadang, rasa takut mengkhianati orang tua kandung yang tidak mendapatkan hak asuh dapat membuat anak sulit bekerja sama dengan orang tua tiri. Akan tetapi, rasa takut mereka mungkin dapat dikurangi jika mereka melihat orang tua tiri "seperti mereka melihat guru".

    Terakhir, orang tua tiri dapat beralih dari berperan sebagai pengasuh bayi menjadi berperan sebagai paman atau bibi (yang mana anak mengakui orang tua tiri sebagai "kerabat", tetapi jangan menawarkan otoritas pengasuhan yang penuh kepada mereka). Apalagi, karena orang tua tiri akan lebih cepat terikat dengan anak-anak yang lebih muda, mereka mungkin menjadi "kerabat" bagi anak-anak yang masih kecil dan menjadi "pengasuh bayi" bagi anak-anak yang lebih tua. Seperti yang dapat Anda ceritakan, menjaga komunikasi yang terbuka dengan anak-anak tentang perubahan peran orang tua tiri terhadap anak-anak merupakan tugas penting bagi pasangan.

    Nilai Orang Tua Tiri

    Pernahkah Anda berhenti memerhatikan bahwa Allah semesta alam memercayakan Anak-Nya untuk diasuh oleh ayah tiri-Nya, Yusuf? Ya, dalam pengertian ini, Yesus adalah seorang anak tiri. Meskipun hanya sedikit ayat yang berbicara tentang karakter Yusuf, kita dapat memastikan bahwa Allah memilih dia karena alasan tertentu. Ia pasti memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap Yesus pada awal-awal tahun hidup-Nya. Saya kira kita dapat mengatakan bahwa pengaruh Yusuf pada pertumbuhan Yesus dalam hal hikmat, perawakan, dan disukai Allah dan manusia (Lukas 2:40, 52) tentu sangat besar.

    Tantangan-tantangan menjadi orang tua tiri sangat nyata. Pentingnya peran Anda dalam kehidupan anak tiri Anda benar-benar tak ternilai. Berkomitmenlah pada Tuhan, seperti yang dilakukan Yusuf, dan memberikan kasih-Nya kepada anak-anak tiri Anda (sampai sebanyak mungkin). Anda mungkin tidak pernah menyadari betapa pentinya Anda. (t/Berlin B.)

    Diterjemahkan dari:

    Nama situs : CBN.com
    Alamat URL : http://www.cbn.com/family/Parenting/Deal_healthystepchild.aspx
    Judul asli artikel : How to Build a Healthy Relationship With Your Stepchild
    Penulis : Ron L. Deal, M.MFT.
    Tanggal akses : 4 Juni 2014
    Kategori Tips: 
    Tipe Bahan: