Pendidikan Anak dalam Keluarga

Max Jukes tinggal di New York. Dia tidak percaya kepada Yesus Kristus dan tidak mengizinkan anak-anaknya pergi ke gereja, meskipun mereka menginginkannya. Max Jukes memiliki 1026 keturunan. Sebanyak 130 orang di antaranya dipenjarakan pada usia rata-rata 13 tahun, 190 orang menjadi pelacur, 680 orang pecandu alkohol, dan 150 orang jahat. Keluarga Jukes, telah merugikan pemerintah Amerika Serikat lebih dari setengah juta dollar untuk merehabilitasi mereka. Artinya, mereka bukan saja tidak memberikan kontribusi apa-apa kepada masyarakat namun malah merugikan.

Pada saat yang sama, hiduplah keluarga Jonathan Edwards yang juga tinggal di New York. Dia mengasihi Tuhan dan mengantar anak-anaknya ke gereja setiap minggu. Jonathan Edwards memiliki 1400 keturunan. Sebanyak 65 orang menjadi profesor, 13 orang menjadi rektor universitas, 100 orang menjadi pengacara, 30 orang menjadi hakim, 75 orang menjadi pengarang buku terlaris, 5 orang menjadi anggota kongres Amerika Serikat, 2 orang menjadi senat, dan 1 orang menjadi wakil presiden Amerika Serikat. Keluarga Edwards tidak pernah membebani negara satu sen pun, tapi justru memberikan kontribusi yang besar untuk masyarakat.

Keluarga merupakan satu-satunya tempat di mana orang tua memegang tanggung jawab untuk mempersiapkan anak-anaknya untuk diajar, disiplin, dan pada akhirnya mereka di lepas untuk dipersatukan dengan pasangannya. Dari sini kita melihat betapa pentingnya membangun sebuah keluarga sesuai dengan firman Tuhan. Ada empat hal yang harus dibangun dalam suatu keluarga.

1. Identitas

Keluarga merupakan tempat pertama di mana seorang anak belajar untuk mengenal citra dirinya di hadapan Tuhan. Ketika keluarga hancur, maka identitas dan jati diri anak akan hancur, sehingga timbul rasa minder, sakit hati, kepahitan, dan lain sebagainya.

2. Disiplin

Disiplin berbicara mengenai hak untuk mendidik anak-anak. Keluarga merupakan tempat pertama seseorang belajar mengenai sistem nilai -- apa yang baik dan buruk, terutama dalam hal kasih dan membangun hubungan dengan orang lain.

3. Kasih Tanpa Syarat

Keluarga merupakan tempat pertama kita mengalami kasih dan penerimaan. Di sini kita belajar untuk saling membangun, mendidik, bahkan mengasah satu dengan yang lainnya. Selalu ada pengampunan dan penerimaan -- kasih tanpa syarat.

4. Keintiman

Ketika anak tumbuh besar dalam sebuah lingkungan yang memiliki kasih tanpa syarat, dia tidak akan mengalami kesulitan untuk mengalami keintiman dengan Tuhan sebagai Bapa di Surga. Sebaliknya, jika seseorang mengalami masalah dengan keintiman di dalam keluarganya, dia tidak hanya kesulitan mengenal kasih Bapa, tetapi juga dengan pasangan yang (akan) dinikahinya.

Diambil dari:

Nama buletin : Mardh of the Heroes, Edisi 14 Agustus 2010
Judul asli artikel : Family Ties
Penulis : Raymond M. Njotorahardjo
Penerbit : Share GISI Peduli
Halaman : 7

"Kita Tidak Akan Pernah Dapat Menerima Janji Allah Selama Kita Ragu Terhadap Janji Allah Itu Sendiri"

Kategori Tips: 
Tipe Bahan: