Anak Nakal Dihukum Atau Diberi Pelajaran?

Seorang gadis cilik mengambil alat tulis dan menulis di dinding. Bosan menulis di dinding, ia mengambil paku dan beralih ke mobil ayahnya yang ada di garasi. Mobil itu baru dibeli. Catnya masih mulus sekali. Gadis cilik itu kemudian mencoret-coret dinding mobil dengan paku. Ayahnya sedang tidak menggunakan mobil itu ke kantor karena menurut radio, jalan sedang macet. Ia dengan istrinya menggunakan sepeda motor, supaya tidak terhalang oleh kemacetan lalu lintas.

Sepulang dari kantor, gadis cilik itu dengan gembira memberi tahu ayahnnya, bahwa ia sudah membuat gambar yang bagus di dinding. Ia juga menunjukkan kepada ayahnya bahwa gambar yang lebih bagus telah dibuatnya di dinding mobil. Ayahnya amat terkejut dan marah melihat coretan di mobil barunya. Tanpa pikir panjang, sang ayah memukuli tangan kanan anaknya. "Dengan tanganmu ini, kamu coret-coret mobil sampai rusak. Kamu harus dihukum!" Anak gadisnya menjadi ketakutan dan menangis minta ampun. Namun, sang ayah terus saja memukuli tangan anak itu.

Malam harinya, anak itu dibiarkan tidur di kamar asisten rumah tangganya. Keesokan harinya, asisten rumah tangganya memberitahukan bahwa tangan gadis cilik itu membengkak, tetapi ayahnya berkata, "Biarkan saja!" Asisten rumah tangga itu diam dan merasa kasihan. Anak itu mengeluh, tetapi tidak berani lagi menangis karena takut kalau-kalau dipukul oleh ayahnya lagi.

Hari berikutnya, asisten rumah tangganya memberitahukan bahwa gadis cilik itu demam. Panasnya tinggi sekali. Ia menganjurkan supaya dibawa ke dokter. Sang ayah masih berkeras. Hari berikutnya, karena panasnya tidak turun-turun, terpaksa anak itu dibawa ke dokter. Dokter kemudian memeriksa dan mengatakan bahwa tangan anak itu infeksi dan harus diamputasi. Sang ibu dan ayah terkejut sekali. Mereka tidak menyangka berakibat seperti itu. Mereka lalu berkata, "Apakah tidak ada jalan lain, Dok? Misalnya, dengan pengobatan?" Namun dokter menjawab, "Sudah terlambat, Pak."

Ketika anak itu dibawa ke meja operasi, ia terus minta ampun. Ia menangis di pelukan ibunya dan mengatakan bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi. Dokter menyuntiknya dan melakukan operasi. Sesudah tangan kanan anak itu dioperasi dan ia sadar, ia berteriak, "Ampun, Pak! Ampun! Saya tidak akan melakukannya lagi. Kembalikan tanganku! Kembalikan tanganku!" Anak itu menangis melihat tangannya yang sudah buntung. Kedua orang tuanya pun turut menangis. Mereka semuanya menangis.

Itukah yang Dimaksud dengan Pelajaran?

Apa perbedaan "disiplin" dengan "pelajaran"? Apakah sang ayah sudah memberikan sebuah "pelajaran" kepada anak gadisnya? Atau, pendisiplinankah yang dilakukannya? Untuk memberikan pelajaran kepada anak itu, supaya ia jangan sembarang menulis, karena harga pengecatan mobil begitu mahal, haruskah seorang anak diberi pelajaran untuk mendisiplinkan tangannya yang lancang?

Ketika sang ayah memukul tangan anak itu, mungkin ia berpikir ini sebuah pelajaran penting baginya. Tangannya yang melakukan dan tangan itu harus diajar untuk melakukan sesuatu yang baik, bukan sesuatu yang merugikan. Sebenarnya, ia lebih tampak hendak mengajarkan sebuah "konsep" kehidupan kepada anak itu, bukan sebuah pelajaran atau prinsip hidup. Hukuman "berat" yang diberikan kepada anaknya bernuansa dendam dan kemarahan yang meluap, bukan sebuah pelajaran maupun disiplin.

Anak itu belum mampu membedakan dinding rumah atau lantai rumah dengan dinding kendaraan. Ia belum mampu menimbang harga pengecatan dengan perilaku yang dianggap salah. Pemahamannya belum ada, sehingga itu bukan sebuah pelajaran dan disiplin baginya. Ganjarannya, ia harus menderita seumur hidupnya. Kalau seorang anak belum mengerti tentang sesuatu, lalu dihukum, itu bukanlah sebuah pelajaran, kecuali anak itu sudah paham sebelumnya, lalu melawan, itu baru namanya disiplin. Setidaknya, sebuah disiplin berupa koreksi atas tindakan yang salah.

Jenis Disiplin

Alkitab tidak sepi dari tindak disiplin. Banyak contoh dalam Alkitab yang memberikan pelajaran berupa disiplin kepada umat-Nya. Kadang-kadang Tuhan mendisiplin umat pilihan-Nya supaya mereka kembali kepada ajaran yang pernah diberikan-Nya kepada mereka. Bukan hanya anak-anak yang patut didisiplinkan, para pemimpin, raja, dan bahkan nabi pun perlu didisiplin dan diberi pelajaran. Raja Salomo dalam Amsal 13:24 menulis, "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya."

Ada rotan untuk memukul pantat seorang anak yang nakal. Hal itu akan membuatnya sadar tentang sesuatu pelajaran, karena tindakan salah yang dilakukannya sudah diketahuinya dan itu tidak pantas untuk dilakukan. Kalau kesalahan itu dibiarkan saja tanpa disiplin, kemungkinan anak akan menjadi manja dan menganggap bahwa kesalahan itu bukanlah sesuatu yang serius. Anak perlu "dihajar pada waktunya", kata Salomo. Kapan waktu yang tepat itu? Orang tua harus dapat membedakan disiplin fisik kepada anak-anaknya sesuai dengan tingkat usia mereka. Perlu juga diperhatikan bagaimana hukuman itu diberikan; apakah secara pribadi atau langsung di depan orang lain. Jika dilakukan di depan orang lain, hukuman itu akan memberikan efek psikologis kepada anak karena hal itu membuatnya malu di depan orang lain.

Disiplin atau hukuman, bagaimanapun kecilnya, haruslah berdasarkan kasih. Hukuman yang dijatuhkan dalam emosi yang tidak terkendali akan melukai anak itu secara fisik dan psikologis. Jika anak sampai mengalami cedera, itu berarti orang tua tidak berhasil menanamkan disiplin ke dalam diri mereka. Hukuman rotan di pantat mungkin hanya cocok bagi anak yang berusia 12-13 tahun. Apa pun yang hendak diajarkan kepada anak yang melakukan perilaku menyimpang, haruslah disertai alasan yang tepat.

Jenis yang kedua adalah disiplin dengan konsekuensi. Sifat dari jenis disiplin ini adalah menghasilkan akibat yang baik, yaitu untuk memulihkan anak pada suasana semula, pada jalan yang baik dan benar. Sebagai contoh, anak Anda meminjam mobil Anda dan Anda mengizinkannya menggunakan mobil itu sampai waktu yang disetujui. Namun, anak itu menggunakannya tidak seperti yang dijanjikan. Anda tidak lagi mengizinkannya menggunakan mobil itu. Maksudnya, supaya kelak ia menepati janji. Disiplin seperti itu disebut disiplin dengan konsekuensi. Dengan alasan yang logis, anak dapat mengerti mengapa kendaraan tidak boleh lagi dipakainya sesuka hatinya. Alasan seperti itu dapat diterima anak.

Menegakkan Rasa Hormat

Komunikasi yang baik, yang tercipta di antara anggota keluarga, akan mengurangi ketegangan. Kata-kata sindiran dan cemoohan, bahkan kata-kata yang kasar, pada hakikatnya adalah cara yang kurang mendidik. Bahasa yang sopan dan ramah, jauh lebih bermanfaat ketimbang makian dan gerutu yang tidak keruan. Teguran semacam itu kurang efektif, malahan akan merendahkan wibawa orang tua. Wibawa yang merosot di mata anak-anak menunjukkan kepemimpinan yang tidak baik.

Anak-anak yang takut melihat orang tuanya, bukanlah petunjuk bahwa mereka menyatakan rasa hormat kepada orang tua mereka. Rasa hormat umumnya diperlihatkan dalam suasana penurutan yang sukarela dan dengan senang hati karena sudah selayaknya ia menerima tanggung jawab dalam keluarga. Kalau toh dihukum karena melakukan kesalahan yang tidak disengaja, umumnya mereka mudah meminta maaf, dan orang tua harus memaafkannya tanpa diikuti dengan nasihat yang panjang lebar.

Saat sang ayah dilanda emosi, sebuah disiplin yang baik, mungkin, harus diserahkan kepada pihak ibu. Ibu dapat bertanya kepada anak, "Kamu lebih suka dihukum oleh ayah atau oleh ibu?" Umumnya, anak akan memilih didisiplin oleh ibunya ketimbang oleh ayahnya. Hukuman dari ibu biasanya lebih mengandung "kasih" daripada ayah.

Disiplin yang baik, tepat, dan berguna adalah disiplin yang menghasilkan rasa hormat anak kepada orang tuanya. Jika ia mengetahui bahwa ia pantas mendapat ganjaran, ia akan menerimanya dengan hati yang ikhlas, dan menghargai disiplin itu sebagai pelajaran yang baik baginya. Ia menaruh hormat terhadap ayah dan ibunya, sekaligus beroleh pelajaran yang mematangkan jiwanya.

Diambil dari:

Judul majalah : Kalam Hidup, No.708, Februari 2005
Penulis artikel : tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup
Halaman : 17 -- 20
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar