Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Berelasi Baik dengan Saudara Tiri

Ditulis oleh: S. Setyawati

Dalam kehidupan di dunia, manusia tentu tidak luput dari konflik. Hal ini juga terjadi dalam keluarga, terlebih keluarga campuran. Keluarga campuran (blended family) adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung dan tiri. Di dalam keluarga seperti ini, konflik yang terjadi antaranggota keluarga tentu lebih kompleks dibandingkan keluarga pada umumnya, apalagi jika pihak suami dan istri memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Mengapa? Sebab, masing-masing anggota keluarga memiliki latar belakang budaya dan kebiasaan keluarga yang berbeda. Misalnya, keluarga dari pihak suami memiliki kebiasaan piknik saat akhir pekan, sementara keluarga dari pihak istri terbiasa bersih-bersih rumah. Selain itu, rasa cemburu antara anak yang dibawa dari pihak suami dan yang dibawa dari pihak istri juga dapat memicu munculnya konflik di antara saudara tiri. Jika perbedaan dan persoalan semacam ini tidak dikomunikasikan dengan baik, intensitas meningkatnya konflik akan semakin tinggi.

Dalam keluarga campuran, anak-anak biasanya lebih merasa terbeban untuk beradaptasi dan lebih merasa sulit untuk membaur dengan keluarga baru. Anak mungkin tidak dapat menerima orang tua dan saudara tiri dengan cepat. Anak-anak mungkin juga merasa tidak nyaman tinggal dengan saudara tiri karena harus berbagi kamar, rumah, serta kasih sayang dan perhatian orang tua mereka.

Konflik memang tidak dapat dielakkan selama kita hidup di dunia yang penuh dosa ini, termasuk konflik dengan saudara tiri. Namun, konflik yang terjadi dengan saudara tiri sebenarnya dapat disikapi dengan bijaksana, bahkan diselesaikan. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk hidup dalam damai seorang dengan yang lain (1 Tesalonika 5:13). Oleh karena itu, kita harus mengupayakan hidup damai dengan sesama kita, termasuk dengan saudara tiri, dan juga mengupayakan rekonsiliasi saat konflik antarsaudara tiri terjadi, sesuai anjuran firman Tuhan. Jika kita membiarkan konflik antarsaudara tiri berlarut-larut tanpa ada penyelesaian, seluruh energi dan emosi bisa terkuras, kesatuan keluarga bisa hancur, dan tugas panggilan kita sebagai duta Allah Bapa bagi dunia pun terhambat. Konflik yang tidak terselesaikan itu seperti kanker yang menggerogoti jiwa kita. Dampaknya akan sangat mengerikan dan menghancurkan. Oleh karena itu, segeralah mencari penyelesaian setiap kali terjadi konflik antarsaudara tiri atau antaranggota keluarga.

Mungkin, dalam relasi dengan saudara tiri, kita merasa diperlakukan dengan tidak baik dan tidak adil, tetapi itu bukan alasan bagi kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan (Roma 12:17). Justru ketika kita tetap berbuat baik saat saudara tiri kita bertindak keras atau arogan, kita menjadi saksi kasih Kristus. Selain hidup dalam damai, kita juga harus sabar terhadap saudara tiri kita dan mau mengampuni kesalahannya dengan kasih. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Sebagai manusia yang tidak sempurna, saudara tiri atau kita sendiri tentu bisa mengecewakan atau menjengkelkan orang lain. Karena itu, marilah kita memohon hikmat dan kebijaksanaan dari Tuhan untuk dapat menyikapi dengan tepat terhadap sikap dan perilaku saudara tiri yang menyakiti dan melukai perasaan kita.

Rekonsiliasi dan Pengampunan

Pemicu konflik yang terjadi antarsaudara tiri pada dasarnya sama seperti konflik yang terjadi pada umumnya, antara lain perbedaan kepribadian, kecemburuan, keegoisan (Yakobus 4:1), kesombongan (Yakobus 4:6), ketidakdewasaan pemikiran, dan sebagainya. Gaya bicara saudara tiri kita mungkin juga berbeda dengan kita sehingga kita tidak perlu tersinggung ketika ia berbicara dengan gayanya. Dalam hal ini, mungkin kita perlu memiliki "praduga tak bersalah" bahwa pada dasarnya, saudara kita itu tidak bermaksud menyakiti kita.

Bagaimana jika kita yang justru menyakiti saudara tiri kita tanpa kita sadari? Kalau begitu, diperlukan sikap proaktif untuk mengintrospeksi dan memeriksa hati kita. Mohonlah pengampunan dari Tuhan karena sikap kita itu dan memintalah maaf kepada saudara tiri yang telah kita sakiti. Orang yang selalu berusaha membereskan hubungannya dengan Tuhan akan lebih mampu mengatasi masalah dengan sesama (Amsal 16:7). Kita harus memohon belas kasihan, pengampunan, dan pertolongan dari Tuhan agar kita tidak egois dan sombong di hadapan Tuhan Yesus dan saudara tiri kita. Untuk meminta maaf memang diperlukan keberanian dan kerendahan hati. Mintalah Tuhan untuk memampukan kita melakukannya, diikuti dengan tidak menghakimi atau mengungkit-ungkit kesalahan yang pernah dilakukan satu dengan yang lain (Yakobus 4:11-12). Usahakanlah hal ini agar konflik tidak berkepanjangan.

Ingatlah bahwa hubungan yang buruk dengan sesama hanya akan menghambat hubungan kita dengan Allah (Matius 5:23-24). Jika kita dalam posisi sebagai "pihak yang tertindas", kita harus dengan lapang dada mengampuni saudara tiri kita. Karena Tuhan Yesus telah mengampuni kita, kita pun harus mengampuni orang lain. Mengampuni adalah kunci terjadinya pemulihan pascakonflik. Ketika kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, hal itu sama artinya kita telah membebaskan seorang narapidana. Dan, narapidana itu adalah kita sendiri.

Salah satu cara rekonsiliasi dengan saudara tiri adalah dengan mengajaknya berbicara secara pribadi. Jika cara ini tidak berhasil, kita perlu mengajak orang lain untuk menjadi pihak pendamai, bukan orang yang akan memihak sebelah. Demikianlah prinsip mengupayakan rekonsiliasi atas konflik yang kita hadapi, termasuk dengan saudara tiri, menurut Matius 18:15-20.

Kesimpulan

Konflik terjadi bukan untuk dihindari, tetapi diatasi. Kita harus mengupayakan perdamaian karena itulah yang dikehendaki Tuhan Allah. Seperti halnya Yesus Kristus datang ke dunia untuk mendamaikan manusia yang berdosa dengan Allah yang Mahasuci, kita pun harus mengusahakan perdamaian seorang akan yang lain. Dengan membiarkan konflik berlarut-larut, berarti membiarkan hubungan kita dengan Tuhan Yesus dan sesama tidak sehat. Untuk dapat hidup damai dengan Tuhan Yesus, kita pun harus hidup damai dengan sesama. Pastikan keluarga kita tidak membiarkan konflik berkepanjangan dan senantiasa hidup damai dalam Kristus.

Sumber bacaan:

  1. Cole, Steven J. 2005. "Lesson 16: Resolving Conflicts God's Way (James 4:7-10)".
    Dalam https://bible.org/seriespage/lesson-16-resol
  2. _____. "The Jesus Prescription for Conflict Resolution".
    Dalam http://www.sewardunitedmethodist.com/TheJesusPrescriptionforConflictResolution

Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 

Komentar