Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Ester: Seorang Wanita yang Beriman dan Berani

Alkitab memberikan kepada orang Kristen banyak contoh orang beriman, yang dari mereka kita dapat belajar dan dikuatkan. Salah satu contoh yang paling luar biasa adalah Ratu Ester.

Apakah rasa takut pernah melumpuhkan Anda, membuat Anda takut untuk membuat keputusan penting karena adanya kemungkinan konsekuensi yang serius?

Telah dikatakan bahwa keberanian bukanlah tidak adanya rasa takut; melainkan penguasaan atas rasa takut. Alkitab, bagaimanapun, menambahkan elemen penting untuk definisi keberanian: kepercayaan dan iman kepada Allah. Musa mengatakan kepada bangsa Israel agar tidak takut kepada bangsa-bangsa lain ketika mereka menyeberangi Sungai Yordan ke Tanah Perjanjian, sebab Allah menyertai mereka dan tidak akan meninggalkan mereka (Ulangan 31:6).

Bagaimana agar Anda bisa memiliki iman seperti ini? Bagaimana agar Anda dapat melangkah keluar dan dengan yakin membuat keputusan yang akan memengaruhi jalannya kehidupan fisik Anda -- dan bahkan mungkin kehidupan rohani Anda?

Dari seorang anak yatim piatu menjadi seorang ratu.

Untuk jawabannya, perhatikan teladan dari seorang gadis Yahudi di Persia kuno.

Pada tahun ketiga pemerintahannya, Ahasyweros, raja Media dan Persia, mencari seorang ratu baru dari kalangan gadis-gadis cantik di kerajaannya. Ratu baru itu nantinya akan menggantikan Ratu Wasti. Wasti telah mempermalukan suaminya di depan banyak orang, termasuk semua pegawainya. Dia menolak untuk menampilkan kecantikannya di depan semua orang di pestanya yang spesial (Ester 1:10-22).

Ester, seorang yatim piatu muda, adalah salah satu perempuan yang diperintahkan raja supaya dibawa ke istana untuk dimanjakan dan dipersiapkan secara khusus untuk pemilihan ketat oleh raja sebagai calon pengganti ratu kerajaan. Pamannya, Mordekhai, telah membesarkan dia. Mordekhai adalah seorang hamba Yahudi "di pintu gerbang istana raja" (Ester 2:19), yang menunjukkan bahwa ia memegang posisi di istana raja. Mengikuti saran pamannya, Ester tidak mengungkapkan identitas kebangsaannya. Setelah raja memilih dia sebagai ratu, ia terus melakukan kontak dengan pamannya (Ester 2).

Rencana untuk membinasakan sebuah ras.

Beberapa waktu kemudian Ahasyweros menunjuk Haman, seorang yang terkemuka di kerajaan, untuk jabatan khusus sebagai pembesarnya. Ahasyweros memerintahkan bahwa setiap hamba harus tunduk kepada Haman, menyembah dia. Mordekhai menolak.

Haman marah dengan tindakan Mordekhai. Namun, dia tidak puas hanya membalas dendam pada satu orang; ia menyusun rencana untuk membinasakan semua orang Yahudi di kerajaan. Ia mendekati raja dan mengatakan bahwa orang-orang Yahudi tidak menaati hukum raja. Dia meyakinkan raja untuk mengeluarkan keputusan yang menyatakan 10.000 talenta perak akan diberikan kepada siapa saja yang mau membunuh orang-orang Yahudi (Ester 3).

Di Persia kuno, ketika raja membuat keputusan dan dimeterai dengan cincinnya, itu tidak akan dicabut atau diubah. Keputusan Ahasyweros pun dikeluarkan, mengakibatkan perkabungan besar dan puasa di antara orang Yahudi di seluruh negeri. Berpakaian baju berkabung dan menaruh abu di atas kepalanya, Mordekhai duduk di alun-alun dekat pintu gerbang istana raja. Ketika Ester mengetahui keadaan Mordekhai, dia menyuruh pelayan memberikan pakaian untuk dia dan untuk melepas kain kabungnya. Namun, Mordekhai tidak mau menerimanya.

Ester kemudian mengutus Hatah, salah satu sida-sida raja yang mengunjungi dia, untuk mencari tahu ada masalah apa dengan Mordekhai. Mordekhai menceritakan segala yang telah terjadi dan memberinya salinan keputusan tertulis untuk ditunjukkan kepada Ester. Dia juga mengatakan kepada Ester untuk pergi menghadap raja dan memohon demi bangsanya.

Ester tidak bertemu dengan raja selama 30 hari. Raja menetapkan hukum bahwa siapa pun yang datang ke pelataran untuk menghampiri dia yang tidak secara khusus dipanggil akan mati. Namun, raja bisa membuat pengecualian dengan mengangkat tongkat emasnya sehingga orang itu selamat. Maka, Ester mengirim sida-sida itu kembali ke Mordekhai dengan pesan bahwa dia tidak bisa masuk ke pelataran untuk bertemu raja.

Mordekhai menjawab bahwa jika dia tidak melakukan apa pun, dia mempertaruhkan kematian bersama dengan semua orang sebangsanya di kerajaan. Dia juga mengajukan pertanyaan yang menusuk: Bagaimana jika Tuhan telah mengangkat Ester ke posisi ratu untuk tujuan khusus, yaitu membantu menyelamatkan rakyatnya di saat kritis ini? (Ester 4:13-14)

Dilema Ester.

Keputusan yang sangat sulit bagi seorang wanita muda! Kematian adalah hal yang pasti, terlepas dari apa yang dia putuskan. Wasti hanya terbuang dari posisi sebagai ratu. Ester mungkin benar-benar dibunuh!

Dia harus menjawab Mordekhai. Apa yang akan dia lakukan? Dia pasti berdoa dan menderita sekali karena keputusannya. Ketegangan dan kecemasan harus ditelannya. Dia muak dengan rasa takut untuk dirinya sendiri dan bangsanya.

Dia pasti bertanya seratus kali pada dirinya sendiri akankah Tuhan benar-benar membiarkan dia mati jika ia menolak untuk membantu orang-orang Yahudi? Dia masih sangat muda. Tentunya, Allah tidak ingin dia mati. Di sisi lain, bisakah dia berdiam diri dan menonton Haman yang tak berperasaan memusnahkan bangsanya? Mengapa dilemanya tidak bisa hilang begitu saja seperti mimpi buruk?

Di tengah kekacauan itu, Ester menyadari dia tidak bisa membiarkan rasa takut melumpuhkan dia sampai tidak bertindak apa pun; itu pun akan menjadi sebuah keputusan. Sebaliknya, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah. Jelaslah dia hanya punya satu pilihan nyata.

Bahkan, dalam memberikan jawabannya kepada Mordekhai, Ester menyadari bahwa dia tidak punya keberanian dari dirinya sendiri untuk menghadapi Ahasyweros. Namun, dia tahu ke mana harus memohon keberanian yang tidak ia miliki: kepada Allah dalam doa dan puasa. Menaruh hidupnya di tangan Tuhan, ia membiarkan Dia yang akan memutuskan hasilnya bagi dirinya dan bangsanya.

Dia mengirim pesan kepada Mordekhai bahwa ia meminta sesama Yahudi mereka untuk berpuasa baginya selama tiga hari tiga malam. Dia dan pelayannya akan melakukan hal yang sama. Lalu, ia berjanji untuk pergi ke hadapan raja, benar-benar menyadari bahwa ia sedang mempertaruhkan hidupnya (Ester 4:16).

Anda dapat membaca kelanjutannya di kitab Ester untuk melihat apa yang terjadi. Raja mengangkat tongkat emasnya, dan ia membiarkan Ester hidup. Setelah mengadakan beberapa jamuan makan khusus untuk raja dan Haman, Ester akhirnya mengungkap rencana Haman dan mengajukan permohonannya bagi bangsanya. Raja memerintahkan agar Haman digantung pada tiang gantungan yang sebetulnya ia siapkan untuk menghukum mati Mordekhai.

Raja pun mengeluarkan keputusan baru: Orang-orang Yahudi bebas untuk membela diri dan membinasakan siapa saja yang akan menyerang mereka. Dia mengangkat Mordekhai, dan orang-orang Yahudi diselamatkan. Sampai hari ini, banyak orang Yahudi merayakan hari raya Purim untuk menghormati peristiwa ini.

Apa yang bisa kita pelajari?

Terkadang rasa takut adalah reaksi manusiawi kita yang wajar ketika kita dihadapkan dengan keputusan yang tampaknya mustahil. Mengakui kurangnya keberanian adalah langkah pertama untuk mengatasi hal itu. Namun, kita tidak harus membiarkan rasa takut melumpuhkan kita untuk tidak mengambil tindakan sama sekali.

Anda harus menyadari bahwa Anda perlu pertolongan dan bahwa Anda tidak bisa melakukannya sendiri. Mengakui bahwa Allah berkuasa, bahwa Dia telah berjanji untuk tidak meninggalkan Anda atau membiarkan Anda (Ibrani 13:5). Datanglah kepada-Nya dalam doa dan puasa untuk mencari kehendak-Nya dalam membuat keputusan yang tepat. Kemudian dengan yakin buatlah keputusan, dengan keberanian dan keyakinan bahwa Tuhan ada di pihak Anda.

Mungkin kesimpulan yang tepat untuk kisah keberanian yang saleh ini bisa didapat dari kata-kata yang ada pada tanda peringatan di Westminster Abbey. Tertulis di monumen untuk Lord Lawrence kata-kata ini: "He feared man so little because he feared God so much." (Rasa takutnya akan manusia begitu kecil karena rasa takutnya akan Allah jauh lebih besar - Red.) (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : United Church of God
Alamat URL : http://www.ucg.org/christian-living/esther-woman-faith-and-courage/
Judul asli artikel : Esther: A Woman of Faith and Courage
Penulis artikel : Donna Butler
Tanggal akses : 4 November 2014
Tipe Bahan: 
kategori: 

Komentar