Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Herodias, seorang wanita yang merendahkan dirinya sendiri melalui balas dendam dan pembunuhan (Markus 6:17-28)

Herodias, seorang wanita yang merendahkan dirinya sendiri melalui balas dendam dan pembunuhan. (Markus 6:17-28)

"Ketika ia (seorang perempuan) memilih untuk melakukan yang baik, ia memberkati lebih banyak daripada yang seorang laki-laki dapat lakukan. Tetapi di saat ia menyerah untuk berbuat dosa, rasa bencinya kepada anak-anak Allah lebih bernafsu, lebih keji, lebih fatal. Ia tidak akan berhenti pada apa pun." Abraham Kuyper (Dari Women of the Old Testament oleh Abraham Kuyper, halaman 60. Hak cipta 1933, 1961 oleh Zondervan Publishing House. Digunakan dengan izin)

"Kepala Yohanes Pembaptis," desis Herodias (Markus 6:24). Tidak ada keraguan dalam suaranya, tidak ada kesangsian. Di sekitarnya banyak orang sedang berbicara. Sekelompok orang-orang pilihan berkumpul bersama di kerajaan untuk merayakan ulang tahun Raja Herodes Antipas. Banyak pemimpin-pemimpin terkenal, pejabat militer tinggi, dan tamu-tamu penting dari Galilea datang untuk menghormati undangan penguasa tersebut (Markus 6:21).

Salome, putri Herodias, membungkuk dengan hati-hati kepada ibunya dan bertanya, "Apa yang sebaiknya aku minta?" (Markus 6:24)

Dengan pertanyaan itu, Herodias hampir tidak bisa memaksakan senyum kemenangan. Balas dendam tersirat di matanya. Ia tidak akan kehilangan waktu untuk menjawabkan, bahkan dalam sedetik. Ia menuntut kepala nabi itu, Yohanes Pembaptis.

Rencana Herodias berjalan sukses. Sekarang pada akhirnya ia terbebas dari laki-laki yang ia benci amat sangat lebih dibandingkan orang lain. Ketika kata-kata gagal, kelicikan akan sukses. Herodes, suaminya, sekarang akan dipaksa untuk membunuh Yohanes. Bukankah ia baru saja mengatakan kepada Salome di hadapan setiap orang, "Mintalah apa saja yang kau sukai dan aku akan memberikannya kepadamu"? Ia bahkan menegaskan kata-kata itu dengan: "Bahkan jika itu separuh dari kerajaanku!" (Markus 6:23)

Herodias mengetahui kehendak hati suaminya terhadap kekejaman. Ia mendapatkan unsur keluarga itu dari ayahnya, Herodes Agung (Matius 2:13). Herodes bukan orang dengan moral yang agung. Di samping itu, bukankah ia menolak mengakui istrinya yang sah -- seorang puteri Arab -- baginya, Herodias, istri dari saudara laki-lakinya Filipus? Bukankah keduanya sudah meninggalkan pasangan hidup mereka yang semula demi untuk hidup bersama?

Herodias juga sangat sadar dengan kebanggaan dan sensualitas suaminya. Ciri-ciri ini membentuk dasar spekulasinya dan alasan ia mendorong Salome beberapa saat sebelumnya untuk menari di hadapan para tamu. Pada waktu itu, tarian seperti ini adalah sesuatu yang biasa dilakukan pada saat perayaan, meskipun tidak boleh bagi Yahudi ortodoks.

Tarian dari seorang gadis yang membangkitkan nafsu ini menyukakan mereka yang hadir; gerakannya membuat gembira orang-orang yang menghabiskan malam itu dengan makan dan minum. Memutuskan bahwa pencapaian kesukarelaan ini -- dan di matanya fantastis -- harus dihargai dengan tinggi, raja membuat pernyataannya yang tidak dapat dibenarkan.

Herodias juga tahu bahwa Herodes bukanlah seorang laki-laki yang berani. Ia tidak akan berani mengakui kalau ia sesuai kehendak hatinya menjanjikan sesuatu yang ia, pada kenyataannya, tidak ingin memberikannya. Ia tidak akan mengakui bahwa hidup dari sesamanya tidak menjadi milik kerajaan dari penguasa duniawi. Meskipun kehilangan dari suatu kehidupan bukan ada di tangannya, dalam situasi ini ia tidak akan mengakui bahwa sumpahnya tidak sah dan tidak ada kuasa.

Bangga dan egois, Herodes akan memilih untuk kepentingannya sendiri bukan kepentingan nabi itu. Tetapi Herodias harus memaksakan keputusan itu padanya. Suaminya ragu untuk membahayakan Yohanes atas persetujuannya sendiri.

Ini bukanlah pertama kalinya kalau Herodias sudah berusaha membunuh Yohanes Pembaptis. Sampai saat ini suaminya selalu melindungi nabi itu dari rencananya. Tiap usaha yang ia lakukan untuk membunuh Yohanes sudah gagal. Tetapi sekarang akhirnya ia dapat membentuk perangkap yang bagus dan sudah diperhitungkan bagi Herodes. Ia sudah melakukannya dengan sangat liciknya sehingga suaminya tanpa disangka tertangkap di dalamnya. Permainan untuk kepala Yohanes Pembaptis sudah berakhir. Herodias menang.

Tindakannya yang mengerikan tidak muncul dari keinginan hati yang sesaat. Ia tidak bertindak dalam suatu kondisi sakit jiwa yang parah. Ia sudah bekerja dengan rencana jahat ini selama hampir satu setengah tahun. Fakta-fakta ini membentuk latar belakang dari drama mengerikan yang terbuka.

Cara Herodes dan Herodias hidup bersama secara terbuka menghina hukum dari rakyat di mana mereka berada. Hukum Allah mengutuk apa yang mereka lakukan dengan kata-kata yang jelas. "Bila seorang laki-laki mengambil isteri saudaranya, itu suatu kecemaran, karena ia melanggar hak saudaranya laki-laki, dan mereka akan tidak beranak." (Imamat 20:21)

Bagaimanapun, sulit, karena persoalan Herodes dan Herodias untuk memarahi mereka. Raja dan pasangan hidupnya adalah orang-orang dari otoritas tinggi. Mereka mewakili kaisar Romawi yang pasukannya menduduki negeri Yahudi.

Tetapi kemudian seorang laki-laki muncul yang tidak terhambat oleh otoritas kerajaan mereka. Ia berbicara demi nama Allah. Ia, Yohanes Pembaptis, menyampaikan perintahnya tanpa hormat atas manusia. Pesannya tegas dan sederhana (Matius 3:1-6).

Suaranya, yang mana kekasaran dan kekerasan padang gurun di mana ia sudah tinggal (Lukas 1:80) masih bisa didengar, bergema di seluruh negeri Yahudi.

Pesan tersebut bukannya tidak diketahui. Nabi-nabi sebelumnya, orang-orang seperti Musa (Ulangan 30:9-11) dan Yeremia (Yeremia 18:11), sudah menyampaikan penggailan yang sama untuk bertobat. Mereka, juga, sudah mendesak bangsa itu untuk meningkatkan cara hidup mereka. Jika orang-orang Israel bertobat, Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka dan memulihkan negeri mereka (2 Tawarikh 7:14).

Bagaimanapun khotbah Yohanes benar-benar penting: kerajaan Allah sudah dekat. Ia menyatakan, "... Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya." (Matius 3:3b)

Banyak orang mengenali suara Allah. Mereka berkumpul kepada Yohanes dalam jumlah yang besar dan mengakui dosa-dosa mereka. Sebagai bukti hati mereka yang diubahkan, mereka dibaptis.

Suara Yohanes tidak hanya mengetuk pintu penduduknya. Suaranya juga bergema di pintu gerbang-pintu gerbang kerajaan bawahan, jabatan Herodes yang tepat (Lukas 3:19). Jabatan "raja", meskipun menggoda, sebenarnya tidak tepat karena ia hanya memerintah atas propinsi Galelia dan Perea, seperempat dari negeri Yahudi.

Herodes dan Herodias bukan bangsa Israel tetapi bangsa Edom, keturunan Esau. Yakub, yang merupakan asal usul Israel, bukanlah bapa leluhur mereka. Bagaimanapun, mereka berasal dari garis keturunan Abraham dan Ishak dengan orang-orang Israel. Mereka secara jarak terhubung dengan orang-orang Yahudi yang bersamanya mereka hidup.

Pesan dari nabi itu tidak ditujukan bagi bangsa Yahudi saja. Pesan itu juga ditujukan bagi Herodes dan Herodias, karena mereka, juga, harus bertobat. Mereka perlu berbalik dari arah yang salah di mana mereka berjalan. Allah memiliki pesan bagi mereka. Setelah pertobatan, pengampunan dan perbaikan akan tersedia bagi mereka.

Yohanes tidak puas meninggalkan mereka dengan peringatan yang umum. Ia tidak ragu memperingatkan pasangan itu secara pribadi -- "Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" (Markus 6:18) Ia memberitahu Herodes dengan sejujurnya. Ia juga menunjuk kejahatan-kejahatan lain yang Herodes lakukan (Lukas 3:19-20).

Perbedaan yang lebih besar antara nabi yang benar, tegas dengan Herodes yang tidak bermoral, tidak tegas hampir tidak bisa dipikirkan. Tetapi hubungan tertentu telah terjalin di antara kedua laki-laki itu. Raja itu tertarik dengan nabi tersebut meskipun kenyataannya Yohanes selalu memberitahu Herodes suatu kebenaran yang keras. Ia mengakui karakteristik di dalam Yohanes kalau ia kehilangan dirinya: cara hidup yang lurus dan kudus. Sehingga Herodes sudah memanggil Yohanes beberapa kali untuk mendengarkan dia berbicara. Sebagai akibatnya raja itu menjadi makin bingung, tetapi tidak ada perubahan kerohanian terjadi di dalam hidupnya.

Herodias mengalami penyerahan suaminya kepada nabi itu sebagai ancaman tambahan. Perempuan itu melalui pengaruhnya, dua pernikahan sudah tergelincir, ingin menyakinkan kalau dia tidak ditolak. Dari saat Yohanes membuka hubungan mereka yang berdosa, ia sudah membenci Yohanes -- pengganggu ketenangannya. Ia akan mendapatkan dia, apa pun caranya!

Herodias ingin menjaga Herodes, yang paling utama, dari makin jauh di bawah pengaruh Pembaptis. Jadi ia meminta Yohanes dipenjarakan dan akhirnya dilakukan. Kemungkinan untuk membunuhnya sekarang tampak dalam jangkauannya, karena penjara ditempatkan di dalam tembok pertahanan perumahan keluarga kerajaan.

Bagaimanapun Herodes terus-menerus waspada, demi kepentingannya sendiri dan juga kepentingan Yohanes. Ia tahu bahwa kematian Yohanes dapat berakibat kegemparan, karena orang-orang tidak diragukan lagi mengangggapnya seorang nabi (Matius 14:5). "Tahta"nya yang goncang mungkin tidak mampu bertahan dalam pergolakan.

Jadi nabi yang mulai untuk membawa orang kembali kepada Allah terkunci di dalam penjara. Orang yang mana Yesus mengatakan, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya." (Matius 11:11) sekarang ditahan. Ia adalah mangsa dari wanita yang haus darah, tidak main-main, dan laki-laki yang tidak tegas. Terisolasi dari kebebasannya, ia duduk dirantai -- hari lepas hari, minggu lepas minggu -- sampai akhirnya ia meragukan panggilannya sendiri (Matius 11:2-6).

Herodias membuktikan kebenciannya. Dengan kehati-hatian yang mematikan ia memasang perangkap di sekitar Yohanes. Ia juga menjebak Herodes dalam perangkap-perangkap itu dengan merusak kewaspadaannya.

Seperti banyak orang tua, Herodias memiliki karakteristik untuk memanfaatkan anaknya demi keuntungannya sendiri. Bahkan anak perempuannya sendiri dikorbankan untuk rencananya yang jahat, yang mana fase terakhirnya sekarang sudah tiba.

Salome, dipengaruhi oleh ibunya, tidak menyia-nyiakan waktu menyampaikan permohonan itu di hadapan raja. Reaksi-reaksinya bahkan lebih tidak mempunyai hati daripada ibunya. Salome menyadari kalau misinya yang mengerikan perlu segera dilakukan. Tugasnya harus dikerjakan secepatnya, sebelum suasana hati raja berubah. Sebaliknya ia mungkin menarik kembali tawarannya yang sembrono.

"Berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis secepatnya," ia nyatakan dengan kasar. "Dan aku ingin diletakkan di atas sebuah piring." (Markus 6:25)

Bahkan ibu Salome tidak bertindak sejauh itu. Tetapi kebencian ibu itu sudah meracuni pikiran anak perempuannya. Bagi Salome, tidaklah cukup kalau Yohanes tidak dibunuh tanpa suatu proses hukum yang terbuka, interogasi, atau bentuk yang lain dari pembelaan. Ia tidak puas kalau Yohanes meninggalkan hidup ini tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya. Yohanes terus dihina dengan amat sangat setelah kematiannya; piring dengan kepala yang sudah kaku menjadi menu hidangan terakhir bagi pesta ulang tahun Herodes atas permohonan yang eksplisit dari Herodias dan Salome.

Hari-hari perayaan puncak adalah kesempatan yang selama waktu itu para raja seringkali menunjukkan anugerahnya, tetapi Herodias dengan mengerikan menghinakan hari perayaan ini. Ia membunuh seorang yang tidak bersalah yang "kejahatan" satu-satunya adalah karena telah berbicara tentang firman Allah dengan tanpa takut, dan membuat kedua keluarga Herodias menjadi kaki tangan dalam kejahatannya.

Meskipun nama Herodes dan Herodias bermakna "kepahlawanan", jarang sekali makna nama menjadi suatu kontradiksi yang menyolok terhadap kehidupan mereka yang menggunakannya. Tindakan mereka bukanlah tunas dari kepahlawanan. Sebaliknya, mereka didikte oleh neraka.

Galeri manusia di Alkitab menunjukkan banyak perempuan berdosa, tetapi sedikit dari mereka yang sekeji Herodias. Tidak banyak di mana tangan mereka dicemarkan dengan darah seperti yang dilakukannya. Kemungkinan untuk bertobat jelas ditawarkan kepadanya, tetapi ia menolaknya, sehingga membuat dia melakukan dosa terbesar.

Sebelum Yohanes dibawa ke penjara, ia sudah menunjukkan seorang yang bepergian di tanah Yahudi, berkhotbah dan melakukan banyak mukjizat -- Yesus dari Nazaret. "Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29) kata Pembaptis. Dan ia menambahkan, "Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak." (Markus 1:7)

Orang-orang Yahudi memahami lambang ini. Kata-kata itu meramalkan bahwa Yesus -- seperti domba yang tidak berdosa di bawah perjanjian mereka dengan Allah (Keluaran 12:1-16) -- akan memberikan hidup-Nya untuk menebus mereka. Dari sekarang tidak ada hewan kurban diperlukan untuk menggantikan manusia yang berdosa. Yesus adalah Mesias yang diberitakan--Juruselamat manusia, umat-Nya, di seluruh dunia (Yohanes 3:16).

Yohanes mendesak Herodes dan Herodias supaya mereka mungkin juga ambil bagian dalam hubungan mereka yang baru dengan Allah. Tetapi untuk melakukan itu, mereka harus mau rendah hati. Mereka harus mengakui dosa-dosa mereka, memperbaharui hidup mereka. Yohanes ingin mereka juga berjumpa dengan Mesias yang sudah hidup di antara mereka. Tetapi pasangan itu menolak menjawab panggilan Allah.

Berbeda dengan perempuan Samaria yang menanggapi situasi yang serupa. Seperti Herodias, ia secara publik dikenal karena keasusilaannya (Yohanes 4:18). Ia juga dikunjungi secara pribadi, meskipun oleh Yesus sendiri (Yohanes 4:7-26) bukan Yohanes.

Perempuan itu, menyadari bahwa dosa telah membawanya ke lorong yang gelap, sampai kepada keyakinan yang menyelamatkan. Hidupnya secara radikal berubah dan menjadi berkat bagi yang lain. Orang lain di desanya menjadi beriman di dalam Yesus Kristus melalui kesaksiannya (Yohanes 4:28-39).

Bagaimanapun dengan Herodias, kebalikannya yang terjadi. Hidupnya merosot. Ia menjadi kutuk bagi sekitarnya. Ia melakukan kekejian beban nurani anaknya sendiri dengan darah salah satu hamba Allah yang terpilih. Anak perempuannya Salome tidak pernah menunjukkan pertobatan. Hati nuraninya, seperti ibunya, terbakar jauh di atas kesembuhan.

Herodias juga melakukan pengaruh yang merusak bagi suaminya. Awalnya, Allah telah melihat suatu keterbukaan dengan Herodes bagi pertobatan. Pintu hatinya sudah berada sedikit bagi iman sampai, melalui pengaruh Herodias, pintu itu telah tertutup.

Ketika Yesus beberapa waktu kemudian dihukum mati, Ia memperhatikan Pilatus. Di kayu salib-Nya, Ia bahkan membuka surga bagi seorang pembunuh (Lukas 23:39-43). Tetapi Ia tidak memiliki sesuatu pun yang dikatakan kepada Herodes (Lukas 23:9). Herodes sudah kehilangan kesempatan. Seperti Herodias, ia tidak mendengarkan ketika Allah berbicara kepadanya melalui Yohanes. Keduanya mengalami kenyataan bahwa Allah seringkali berbicara kepada seseorang lebih dari sekali (Ayub 13:14). Tetapi ketika orang-orang tidak memperhatikan panggilan-Nya, mereka mungkin akan kehilangan kesempatan mereka selamanya.

Herodes, yang pernah berusaha mencegah kematian Yohanes Pembaptis, mengambil bagian yang sesungguhnya dalam kematian Yesus (Lukas 23:8-12). Ia melanjutkan tradisi pembunuhan dari keluarganya. Hatinya sudah dikeraskan.

Kehidupan Herodias akan berbeda jika ia mengoreksi dirinya sebelum terlambat dan mendengarkan peringatan Allah. Sayangnya, Herodias menyukai dosa; ia mengabaikan kasih Allah, yang telah memperingatkan dia sebelum terlambat. Dengan menolak menerima pemecahan masalah dari masalahnya, ia mengundang bencana atas dirinya sendiri. Ia mengeraskan hatinya (Amsal 28:14) terhadap ajaran Allah. Dosa terbesar Herodias bukanlah perzinahan atau pembunuhan; tetapi ketidakpercayaan.

"Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu." (Amsal 12:1) Itu adalah kata-kata Salomo, orang paling bijaksana di sepanjang masa.

"Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu." (Amsal 4:13) "Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat." (Amsal 10:17)

Herodias menolak teguran yang dimaksudkan untuk kebaikannya, dan konsekuensinya mengerikan, baik itu secara material dan spiritual.

Flavius Josephus menuliskan bahwa ambisi Herodias menjadi kejatuhannya. Ia menaksir terlalu tinggi pengaruhnya atas Herodes dan mendorong suaminya untuk meminta Kaisar Caligula sebagai gelar raja. Permohonan itu ditolak, Herodes diasingkan, dan sisa hidupnya ia dianggap rendah (Flavius Josephus, Antiquities of the Jews, Buku XVIII, Bab 7). Herodias ambil bagian dalam penghinaan suaminya. Penghargaan atas seorang perempuan yang, karena balas dendam, merendahkan dirinya untuk melakukan pembunuhan.

(t/Anna).

Diterjemahkan dari:

Judul asli buku : Her Name Is Woman
Judul asli artikel : Herodias, a woman who degraded herself through revenge and murder
Penulis : Gien Karssen
Penerbit : Navpress, Colorado 1997
Halaman : 181 -- 189
Tipe Bahan: 
kategori: 

Komentar