Hidup Dalam Dunia Materialisme -- Mengapa Tidak Akan Memuaskan Jiwa yang Lapar

Pada saat saya dan suami masih terbilang pengantin baru dan tinggal di sebuah apartemen kecil, saya berpikir bahwa andai saja kami dapat membeli sebuah rumah, pasti saya akan merasa puas.

Beberapa tahun kemudian, akhirnya kami memiliki rumah. Meskipun sederhana, dengan tiga kamar tidur yang memerlukan perbaikan dan dekorasi, rasanya menyenangkan memiliki rumah sendiri! Dan berjalan keluar melewati pintu depan ke halaman berumput -- bukannya sebuah lorong yang lembab, terasa seperti surga ada di bumi. Karena rumah ini rumah sendiri, tentu saja saya dapat mendekorasinya semau saya.

Masa Iya?

Tidak berapa lama kemudian saya menyadari bahwa saya tidak mudah puas. Oh, saya baik-baik saja selama sukacita memiliki rumah baru masih ada. Namun, keinginan hati kembali menguasai saya. Seandainya kita dapat mengganti karpet yang rusak atau mendesain ulang dapur, maka saya akan puas.

Sudah 10 tahun berlalu. Kami telah melakukan semua hal itu (bahkan lebih!) dan saya menyadari: tak peduli seberapa banyak yang kita beli, akan selalu ada lebih banyak lagi hal yang kita inginkan. Saya tidak pernah puas, dan Anda mungkin juga.

Menyingkap Mitos

Dalam dunia yang tak pernah puas, seolah-olah diajarkan bahwa mitos materialisme adalah kebenaran Injil. Setiap kali membuka majalah, menyalakan televisi, atau berbicara dengan tetangga, kita hampir selalu dibombardir dengan pesan bahwa materi memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup. Seberapa berhargakah saya? Seharga cat rambut termahal. Apakah sukses itu? Memunyai kartu "American Express". Bagaimana agar pikiran saya damai? Ikut banyak asuransi. Bagaimana saya menunjukkan kepada seseorang betapa saya sangat mencintainya? Mengirim sebuah hadiah. Dan apa yang saya lakukan saat merasa bosan? Tentu saja pergi berbelanja.

Materialisme menjanjikan bahwa jika kita memperoleh pendapatan lebih banyak, memperoleh rumah impian, mengenakan pakaian bagus, dan bersenang-senang, kita akan puas. Tetapi kenyataannya, hal itu sering menciptakan keluarga yang tidak dapat keluar dari rutinitas kerja karena mereka terjerat utang. Materialisme menciptakan orang tua yang tidak punya waktu untuk berbagi satu sama lain atau dengan anak-anaknya. Materialisme memberi kita hal-hal yang lebih menyenangkan daripada yang didapatkan orang tua kita ketika mereka seusia kita, namun kita memiliki lebih sedikit waktu untuk menikmatinya. Materialisme juga mencetak para pria dan wanita yang tahu bagaimana memakai busana yang menunjang kesuksesan, namun sebenarnya hati mereka dipenuhi dengan keraguan dan pertanyaan.

Harapan-Harapan Besar

Saya tidak tahu dengan Anda, tapi saya melihat diri saya termasuk dalam golongan orang-orang yang berharap lebih. Saya berharap bahwa "rumah awal" yang kami tinggali sekarang hanyalah batu loncatan untuk sesuatu yang lebih besar. Tapi baru-baru ini saya harus bertanya pada diri saya sendiri, "Kata siapa?" Ada banyak orang di seluruh dunia dan di kota kami yang tinggal bersama keluarga besar mereka di apartemen-apartemen kecil. Mereka tidak pernah "berharap" untuk memiliki sebuah rumah yang bisa direnovasi sesuai keinginan saya dan orang lain harapkan. Saat ini, di daerah pinggiran kota tempat saya tinggal, rumah-rumah seperti itu harganya antara 0.000 sampai 0.000! Siapa bilang hidup berutang sebanyak itu pada saya?

Saya tidak mengatakan kita tidak akan pernah membeli rumah yang lebih luas; sikap yang mengharapkan hal itulah yang harus saya tentang dan pertanyakan.

Sumber Ketidakpuasan

Saya menemui bahwa sumber dari ketidakpuasan saya tenyata jauh lebih dalam daripada pengaruh harapan-harapan budaya. Saya paling rapuh saat saya keluar dari relasi-relasi yang untuknya saya diciptakan, dan arus kehampaan diri mengancam akan menarik saya ke dalam lautan materialisme yang menghanyutkan.

Kita adalah makhluk sosial yang diciptakan pertama kali untuk menjalin hubungan dengan Tuhan. Saat dosa, pemberontakan, atau kurangnya perhatian menimbulkan adanya celah pada relasi terpenting ini, kehampaan jiwa yang kemudian terjadi, bisa sangat menyakitkan.

Meskipun kita mencoba untuk mengisi kehampaan kita dengan mendapatkan lebih banyak hal, namun perhatikan baik-baik: tidak akan ada materi yang cukup untuk memuaskan kerinduan jiwa manusia. Itulah mengapa Kitab Ibrani dalam Alkitab menarik sebuah hubungan yang kuat antara kebebasan dari materialisme dan relasi kita dengan Tuhan: "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: `Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan sekali kali tidak akan meninggalkan engkau`" (Ibrani 3:15). Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam mitos materialisme hanya bisa dipuaskan dalam hubungan pribadi dengan Tuhan. Semakin kita konsisten mengejar hubungan itu, semakin kita tidak terobsesi dengan uang dan materi.

Memandang Segala Sesuatu Seimbang

Saya akan menjadi orang yang tidak realistis jika saya tidak mengakui betapa saya menikmati segala sesuatu yang bisa dibeli oleh uang. Rumah dengan halaman berumput dan tetangga kami yang baik telah menjadi sebuah tempat yang sangat bagus untuk membangun keluarga dan menyambut teman-teman kami. Dapur hasil desain ulang menghemat waktu saya dan mencegah rasa frustasi sehingga saya bebas mencurahkan lebih banyak waktu untuk orang-orang dan aktivitas yang benar-benar menarik bagi saya. Dan hidup pasti akan menjadi lebih sulit tanpa penghasilan rutin yang cukup. Saya menikmati anugerah-anugerah ini tanpa rasa bersalah karena Tuhan "dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (1 Timotius 6:17).

Namun, sudut pandang yang seimbang mengingatkan saya bahwa uang memiliki batasan-batasannya. Uang dapat membeli pakaian, tapi tidak kecantikan yang sejati. Tempat wisata yang eksotis, tapi bukan kemampuan untuk bersantai dan tidur. Sebuah rumah yang besar, tetapi tidak keluarga yang bahagia. Biaya dan peralatan olahraga, tetapi tidak seorang ayah. Hadiah yang mahal, tetapi tidak cinta. Sebuah rumah dan taman yang lebih baik, tetapi tidak seorang ibu yang memiliki waktu dan tenaga untuk bermain bersama atau membacakan buku.

Sudut pandang yang seimbang juga menjaga saya agar tidak termakan keinginan hati dan memperingatkan saya tentang mengorbankan segala yang benar-benar penting dalam kehidupan untuk sesuatu yang tidak akan pernah cukup memuaskan. Bertolak belakang dengan mitos materialisme, bukan mereka yang mati dengan materi paling banyak yang menang. Adalah mereka yang mencintai keluarganya dengan baik, dan merasakan sukacita karena juga dicintailah yang menang. Adalah mereka yang tahu, apa makna di balik menghabiskan kehidupan untuk sebuah tujuan yang lebih besar dari diri merekalah yang menang. Adalah mereka yang mengenal Tuhan mereka, dan menanti kehidupan kekal bersama-Nyalah yang menang.

Mengajukan Pertanyaan yang Tepat

Sering kali, mengajukan pertanyaan yang tepat adalah sama pentingnya dengan menemukan jawaban yang benar. Faktanya, saya menemukan bahwa proses mengajukan pertanyaan adalah jawaban atas perjuangan saya dengan pengaruh-pengaruh budaya, harapan-harapan besar, dan kehampaan jiwa: Apa yang saya harapkan dalam hidup dan dari mana harapan itu berasal? Apakah sukses itu dan apakah saya cenderung mengukurnya dengan materi yang nampak dari luar? Seberapa banyak saya memberi diri untuk orang-orang yang saya cintai dan seberapa banyak saya bergantung pada hadiah-hadiah yang mahal (misalnya untuk ulang tahun atau Natal) untuk mengekspresikan cinta? Apakah sumber yang sebenarnya dari kehampaan atau sifat kompulsif yang saya rasakan?

Di dalam kegaduhan kehidupan sehari-hari, sulit untuk menenangkan diri kita dan menunggu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sama pentingnya dengan jawaban-jawaban ini. Jawaban-jawaban benar dan salah atau yang menyelesaikan masalah dengan cepat, bukanlah jawaban-jawaban yang kita cari. Jawaban-jawaban yang sejati memberikan kepada kita pengetahuan mengenai diri kita sendiri, dunia material, dan dunia spiritual, dan membebaskan kita untuk memilih gaya hidup yang konsisten dengan nilai-nilai pokok daripada harapan-harapan budaya. Jawaban-jawaban yang sejati membantu kita menjaga perspektif kita di dunia di mana keinginan hati berada di luar kendali kita. Jawaban-jawaban yang sejati membawa kita lebih dalam kepada relasi-relasi yang untuknya kita diciptakan. Dan jika semua jawaban itu terpenuhi, maka kita akan dipuaskan. (t/Adwin)

Diterjemahkan dan disesuaikan dari:

Nama situs : Today Christian`s Woman
Judul asli artikel : Living in a Material World
Penulis : R. Ruth Barton
Alamat URL : http://www.christianitytoday.com
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar