Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Iman dalam Mengatasi Tantangan Hidup

Ditulis oleh: N. Risanti

Dari kisah Ester, kita mengetahui bagaimana iman dan kesalehan Ester menjadi kunci dalam menghadapi tantangan dan situasi sulit yang ia hadapi sehingga ia menjadi pahlawan bagi bangsanya. Iman yang sama tidak hanya dimiliki oleh Ester, tetapi juga pada tokoh-tokoh wanita dalam Alkitab seperti Sara, Lea, Hana, Debora, Maria, Elisabet, dan yang lainnya. Mereka semua dapat menjadi pahlawan wanita yang beriman bagi kita melalui kisah hidupnya masing-masing.

Mungkin kita tidak menghadapi dilema seperti Ester, harus menghadapi penindas yang kejam seperti Debora, mengalami situasi direndahkan dan dihina seperti Hana, atau dilema untuk menghadapi sesuatu yang dapat mengancam nama baiknya serta hidupnya seperti Maria. Namun, bagaimana dengan persoalan dan pergumulan hidup yang begitu berat yang harus kita hadapi? Bagaimana jika kita ditempatkan dalam situasi terancam kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup kita? Bahkan, di beberapa wilayah dunia ini, seseorang dapat kehilangan nyawa atau penghidupan jika ia memilih untuk tetap beriman kepada Tuhan Yesus. Apa yang harus kita lakukan untuk dapat memiliki iman dan keteguhan hati ketika menghadapi situasi hidup yang sulit dan menyesakkan?

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk tetap beriman dan memiliki kekuatan dalam situasi sulit yang kita hadapi.

1. Berpaling kepada Tuhan.

Alkitab menjadi buku yang paling banyak memberi referensi kepada kita akan kasih dan pertolongan Tuhan kepada umat-Nya. Dalam kitab Mazmur, kita bahkan berkali-kali menemukan ayat yang menyaksikan iman dan kepercayaan kepada Allah sebagai sumber kekuatan dan pertolongan. Sebelum dan sesudah menjadi raja, Daud selalu menjumpai bahaya, musuh, pengkhianatan, serta pergumulan berat dalam hidupnya. Namun, ia menemukan pengharapan di dalam Tuhan seperti yang dinyatakannya dalam Mazmur 28:7, "TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya." Ia tidak pernah gagal dalam pengharapannya. Mazmur 23 menjadi bukti akan pemeliharaan Allah dalam hidupnya. Seperti Pemazmur, hendaknya kita juga berpaling kepada Allah dan mengandalkan Dia dalam setiap kesesakan dan kesukaran yang kita hadapi. Yeremia 17:7 menyatakan berkat yang dijanjikan kepada setiap orang yang mengandalkan Allah. Dan, satu-satunya cara bagi kita untuk mencari dan menemukan Tuhan adalah dengan berdoa dan senantiasa menyediakan waktu untuk membaca firman-Nya. Melalui waktu-waktu itulah, kita dapat berelasi dan menjumpai Dia secara pribadi, dan mencari pertolongan-Nya.

2. Mengenyahkan takut.

Khawatir sesungguhnya bersifat manusiawi, tetapi kecemasan yang terus-menerus dirasakan akan menciptakan keadaan paranoia atau ketakutan yang berlebihan dalam diri kita. Firman Tuhan memiliki ratusan pasal yang menekankan kepada kita untuk tidak menjadi takut karena efeknya yang melumpuhkan dan lambat laun mematikan pengharapan dan pertumbuhan iman kita. Kita akan begitu terfokus kepada diri sendiri sehingga tak mampu berfokus kepada Tuhan, untuk melihat karya-Nya dalam hidup ini. Jika kita merasa takut dan cemas akan situasi yang tengah terjadi dalam hidup kita, ingatlah akan perkataan Tuhan dalam Yesaya 41:13 (Draft AYT) yang berkata, "Sebab, Akulah TUHAN, Allahmu, yang menopang tangan kananmu, yang berkata kepadamu, 'Jangan takut! Aku akan menolongmu.'" Jadi, buanglah kecemasan atau ketakutan kita dengan segera ketika itu menghampiri. Jangan membuatnya menjadi semakin besar sehingga perlahan-lahan melumpuhkan kita. Camkanlah selalu dalam benak kita bahwa Allahlah yang berkuasa atas hidup kita, bukan masalah atau situasi dalam hidup ini. Ia, yang menciptakan langit dan bumi serta yang tidak menyayangkan putra-Nya untuk menyelamatkan kita, masakan tidak akan menolong kita dari kesesakan atau tekanan yang ada dalam kehidupan ini?

3. Tidak menghindar, tetapi bertumbuh.

Ketika Allah mengizinkan kesesakan terjadi dalam hidup kita, ingatlah bahwa Ia menginginkan kita untuk memiliki iman dan karakter yang murni, yang hanya dapat terjadi dan teruji melalui penderitaan dan kesulitan. Ia lebih peduli pada kekudusan kita dibanding kebahagiaan kita karena kekudusan lebih memiliki nilai kekekalan. Setiap orang yang dikasihi-Nya pasti memiliki saat-saat penderitaan dan kesukaran pada waktu-waktu tertentu saat Tuhan menghendakinya. Tidak ada yang akan terbebas dari hal itu. "Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibrani 12:6) Karena itu, dibanding menghindar atau menjadi takut pada penderitaan atau tantangan hidup, mari kita menghadapinya dengan meminta Tuhan agar menjadikan kita bertumbuh melaluinya dan menggunakannya untuk tujuan yang baik dalam kehidupan kita. Roma 5:3-5 menyatakan: "Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan."

Jika kita mengasihi Allah dan sungguh-sungguh menginginkan agar kehendak-Nya terjadi dalam kehidupan kita, kita dapat memercayai-Nya bahwa apa pun yang terjadi kepada kita akan mendatangkan kebaikan dalam diri dan jiwa kita.

4. Percaya akan penyertaan Allah.

Sebelum Maria mengandung, Malaikat Gabriel datang kepadanya untuk menyatakan kehendak Tuhan sekaligus juga untuk memberi kekuatan kepadanya. "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau," kata malaikat itu, yang kemudian disambung dengan, "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah." (Lukas 1:28,30). Dalam sapaan Malaikat kepada Maria tersebut terkandung dua pernyataan penting: bahwa Tuhan menyertainya dan bahwa ia akan beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Dari sana, kita mendapat pelajaran, bahwa ketika kita menghadapi pergumulan dan beban berat, Allah sudah mengetahui hal itu sebelumnya. Ia akan menyertai dan memperlengkapi kita seperti halnya kepada Maria serta orang-orang percaya lainnya, dan bahwa kita akan beroleh kasih karunia di hadapan-Nya. Hal itu adalah kekuatan serta garansi utama bagi kita untuk dapat menghadapi dan menjalani masa-masa yang sulit, yang tak dapat kita peroleh dengan sendirinya. Tidak ada satu pun kekuatan dari diri sendiri ataupun orang lain yang dapat menyamai kekuatan serta penyertaan yang berasal dari Allah, atau yang dapat memberi damai sejahtera dan sukacita sejati. Lagi pula, damai sejahtera dan sukacita yang sejati bukanlah yang terdapat pada saat-saat tenang atau nyaman dalam kehidupan, melainkan yang justru tetap ada saat badai hidup melanda. Itulah tanda penyertaan serta kekuatan dari Allah yang memampukan kita untuk terus bertahan dalam melalui penderitaan.

Kiranya damai sejahtera dan pemeliharaan Allah yang melampaui akal dan pikiran senantiasa menyertai kita semua terutama dalam saat-saat terberat kehidupan kita. Amin.

Sumber bacaan:

  1. Patrick, Tim. 2005. "Encouragement for Difficult Times". Dalam http://www.sermoncentral.com/sermons/encouragement-for-difficult-times-tim-patrick-sermon-on-faith-general-86210.asp?Page=1
  2. Meyer, Joyce. "Getting Through Hard Times". Dalam http://www.joycemeyer.org/articles/ea.aspx?article=getting_through_hard_times
  3. Hopler, Whitney. 2012. "How to Find Strength in Tough Times". Dalam http://www.crosswalk.com/faith/spiritual-life/how-to-find-strength-in-tough-times.html
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar