Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Kejarlah Hadirat Tuhan

"Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Yesus di rumahnya. Perempuan itu memunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: 'Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.' Tetapi Tuhan menjawabnya: 'Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.'" (Lukas 10:38-42)

Uraian ayat di atas, menceritakan tentang kakak beradik yaitu Maria dan Marta, yang sama-sama mengasihi Tuhan, tetapi masing-masing dari mereka memiliki esensi yang berbeda tentang melayani Tuhan. Marta berpendapat bahwa dengan aktif melayani, sibuk sana sini, dan seterusnya merupakan yang terbaik untuk Tuhan. Berbeda dengan Maria, dia menganggap bahwa duduk dekat kaki Tuhan adalah yang terbaik untuk Tuhan. Sering kali, kita tidak sadar melakukan hal yang sama dengan Marta. Kita sibuk sendiri dengan pelayanan, sekolah, dan pekerjaan yang akhirnya membuat kita lupa bahwa kita harus tetap duduk dekat kaki Tuhan, seperti yang dilakukan Maria. Jika kita melakukan semuanya tanpa Tuhan, semuanya akan sia-sia, bahkan cenderung menjauhkan kita dari Tuhan.

Menurut filosofi Pascal, ada sebuah lubang pada setiap diri manusia, yaitu lubang hampa yang hanya bisa diisi oleh Sang Penciptanya. Manusia terdiri dari tiga bagian yang harus dipuaskan, yaitu:

1. Tubuh

Tubuh adalah bagian yang dapat kita lihat dan rasakan. Untuk memuaskan tubuh, kita bisa melakukan olahraga, makan yang banyak, supaya tubuh kita terpuaskan.

2. Jiwa

Jiwa terdiri dari tiga hal, yaitu: pikiran, perasaan, dan kemauan. Kita dapat memuaskan pikiran dengan membaca atau bersekolah tinggi. Perasaan dapat dipuaskan dengan cara mendengarkan musik, rekreasi ke gunung, pantai, dan sebagainya. Untuk memuaskan kemauan, yaitu dengan menuruti kemauan kita, salah satunya adalah dengan melakukan hobi kita.

3. Roh

"Diri kita yang sejati bukanlah apa yang kita lihat. Diri kita yang sejati adalah roh kita." Hanya Tuhan yang sanggup memberikan kepuasan kepada roh kita. Roh kita dipuaskan pada saat kita intim dengan Tuhan.

Mengapa kita tidak bisa intim dengan Tuhan?

1. Meninggalkan Kasih Mula-Mula, Kasihnya Suam-Suam

Keaktifan kita dalam pelayanan dan pekerjaan tidak akan memengaruhi kedekatan kita dengan Tuhan. Wahyu 2:2-5 berkata, "Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat."

Surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, meskipun sepertinya mereka berbuat yang benar, tetapi jemaat ini telah meninggalkan kasih mula-mula pada Tuhan. Kejatuhan tidak selalu berupa perzinahan, tindakan jahat, atau tindakan kriminal lainnya. Kejatuhan di mata Tuhan adalah meninggalkan kasih mula-mula.

2. Kehilangan Prioritas Hidup

Tidak dekat dengan Tuhan akan membuat kita tidak bisa fokus. Hidup tanpa prioritas merupakan kesalahan terbesar dalam kehidupan manusia. Prioritas utama kita yaitu Matius 6:33, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."

3. Sudah Terbiasa untuk Hidup Biasa-Biasa Saja

Sering kali kita berpikir, "Toh, tanpa melekat kepada Tuhan, segala sesuatu berjalan dengan baik. Bisnis tetap jalan, sekolah/kuliah tetap oke, dan semuanya oke." Tetapi, tanpa sadar kita telah jauh dari Tuhan. Mentalitas mediokritas yang melanda bangsa kita semakin merajalela. Tetapi Tuhan mau kita memiliki mentalitas yang di atas rata-rata.

4. Sudah Sering Tuhan Tidak Menolong dalam Doa dan Pergumulan

Sering kali, kita terburu-buru menghakimi Tuhan pada waktu Tuhan. Sepertinya, Tuhan tidak menolong dalam setiap doa dan pergumulan kita. Padahal, menurut Tuhan adalah yang terbaik. Satu hal yang harus kita pegang, Tuhan membuat semua indah pada waktunya.

Bagaimana dengan kita sekarang? Apakah kita menjadi Marta (khawatir, bingung dengan banyak perkara) ataukah kita menjadi Maria (tahu bagian yang tidak akan pernah diambil dari dia)? Anda sendiri yang tahu jawabannya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul tabloid : Keluarga, Edisi 40, Tahun II -- 2008
Penulis : Ronny Daud Simeon
Penerbit : PT. Anugerah Panca Media, Surabaya
Halaman : 15
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar