Kesetiaan Tuhan bagi Kemi dari Nigeria

Kesetiaan Tuhan bagi Kemi dari Nigeria

Peristiwa yang pernah menimpa Kemi, ibu dari Lima, telah meninggalkan kesedihan yang mendalam. Berawal pada tahun 2011, ketika sekelompok ekstremis yang tidak rela menerima hasil akhir dari pemilihan umum yang telah berlangsung di kota Jos. Mereka melakukan tindakan anarkis dengan membunuh orang Kristen dan menghancurkan semua bangunan dan harta benda mereka. Dalam peristiwa itu, Kemi sekeluarga tidak dapat melarikan diri. Para pesuruh datang menghancurkan segala kepunyaannya. Tidak hanya itu, mereka mengejar mereka sekeluarga, membunuh Samuel, suaminya, saat ia mencoba menyelamatkan Kemi dan anak-anak dari penyerangan.

Kemi Nigeria

Bersyukur kepada Tuhan atas pertolongan-Nya, Kemi dan anak-anaknya terluput dari maut. Seorang tetangga ikut membantu mereka melarikan diri. Meskipun Kemi sangat terpukul atas kematian Samuel suaminya, tetapi ia mengambil keputusan untuk menerima peristiwa itu dengan respons yang benar. Dia memilih untuk memercayai Tuhan daripada larut dalam kesedihannya.

"Saya tidak bersedih karena suami saya telah pergi ... Andaikata Tuhan tidak mengizinkan, hal itu tentu tidak akan terjadi. Namun, saya menemukan banyak orang telah melewati lembah kekelaman dan mereka tetap kuat karena Dia yang mengizinkan. Saya tidak meragukan Tuhan dengan berpikir bahwa semua itu bisa terjadi karena saya tahu Dia mengizinkannya."

Sejak peristiwa tragis tersebut, secara ajaib Tuhan selalu memberikan kekuatan kepada saya setiap hari. "Saya merasa Dia tidak pernah meninggalkan sedetik pun, Dia menyediakan segala yang kami butuhkan setiap hari karena kasih setia-Nya selalu ada dan selalu baru setiap pagi. Jujur, memang saya terkadang sangat merindukan suami saya karena suami saya adalah sahabat terbaik saya."

Kemi sangat berterima kasih atas dukungan dari Tubuh Kristus di seluruh dunia. "Ketika kami sangat memerlukan dukungan, Bapak dan Ibu telah menguatkan kami. Kami sangat dikuatkan oleh dukungan doa, penulisan surat dan dukungan materi yang diberikan kepada kami. Saya menerima banyak surat sejak Januari 2009 ketika Open Doors mengadakan program pemulihan trauma. Setiap kali saya merasa tertekan, saya kembali membaca surat tersebut, melalui kata-katanya saya bisa bangkit kembali. Kami benar-benar dikuatkan, Bapak dan Ibu telah melakukan banyak hal, dan kasih yang Bapak dan Ibu punya untuk tubuh Kristus yang teraniaya dengan mengatakan 'Kami berdoa untuk Anda' adalah kasih yang menguatkan."

Diambil dari:
Judul buletin : Open Doors Frontline Faith
Edisi : Maret/April 2016
Penulis artikel : Tim redaksi Open Doors
Halaman : 8 -- 9
Tipe Bahan: 
kategori: 

Komentar