Ketika Hidup Terluka: Membantu Anak-Anak Menghadapi Kekecewaan

Saya masih ingat kekecewaan besar saya yang pertama. Walaupun saya yakin sudah ada kekecewaan-kekecewaan lain - yang lebih kecil - sebelum kekecewaan ini, tidak ada yang cukup menonjol seperti saat tidak jadi berperan dalam drama sekolah ketika saya masih di kelas tujuh.

Saya kira itu terjadi karena berperan di dalam drama adalah hal pertama yang paling saya inginkan - lebih buruknya - saya sudah bekerja keras, berlatih, mencoba, tetapi dikeluarkan. Itulah saat pertama, pada intinya, saya mendapat perkataan "Kau tidak cukup baik."

Atau setidaknya, itulah yang saya baca di lembar putih, yang diketik, yang mencantumkan daftar nama-nama yang bukan nama saya - tergantung di papan pengumuman untuk dilihat oleh semua murid SMP.

Saya ingat saat-saat berikutnya dengan begitu jelas: saya, berpura-pura sakit kepala, menuju ke kantor sekolah, meminta untuk menelepon ibu saya. Saya ingat begitu sampai di rumah, langsung memberitahu ibu saya tentang berita itu, beranjak ke pangkuannya dan hanya menangis. Menangis dan menangis. Dia mengayun saya - mungkin untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun (saya 12 th!) - dan membiarkan saya menangis. Dia mungkin mengatakan kepada saya bahwa semua akan baik-baik saja atau memberikan beberapa kata yang menenangkan. Tetapi, yang dapat saya ingat adalah dia memeluk saya sementara saya menangis.

Kemudian, ketika tangisan saya berubah menjadi isakan yang jarang, ketika saya sudah siap untuk berbicara sedikit, dia bilang tidak apa-apa bahwa itu menyakitkan sekarang. Tetapi, mungkin suatu hari nanti - mungkin - itu semua akan bisa dipahami. Tetapi bahkan jika tidak, dia bilang saya harus membuat keputusan: untuk tetap merasa pahit dan marah pada teman-teman yang bermain drama, atau untuk tetap menyemangati mereka - bahkan jika itu sedikit menyakitkan.

Kemudian, ia berdoa dengan saya

Saya tidak bisa memikirkan sesuatu yang lebih baik yang bisa dikatakan atau dilakukan oleh ibu untuk saya pada saat-saat itu.

Hampir 30 tahun kemudian, dalam hidup saya, saya tidak ingat mengapa saya tidak menerapkan kebijaksanaan dan penghiburan ibu saya untuk banyak kekecewaan besar lainnya dalam hidup saya (saya kira saya hanya terlalu angkuh untuk pangkuan ibu saya dan itu semua dimulai dari sana). Begitulah, ketika saya membesarkan anak-anak saya sendiri, hari itu, memori itu, telah menjadi contoh untuk bagaimana saya mengajar anak-anak saya menghadapi kekecewaan. Hal-hal yang diberikan ibu saya pada hari itu telah membantu anak-anak saya menentukan cuaca badai mereka sendiri dalam kehidupan anak-anak mereka dan membantu mereka melihat pilihan yang kita semua miliki di tengah-tengah kekecewaan. Keempat hal ini dapat membantu Anda juga:

  1. Biarkan Mereka Menangis.

    Saya harus mengakui, yang satu ini adalah yang paling sulit bagi saya. Dan, mungkin bagi kebanyakan dari kita. Kita semacam ingin menetapkan batas waktu pada air mata, bukan? Sejujurnya, kita ingin melihat anak-anak kita berhenti menangis karena kita pikir itu berarti bahwa mereka "semua lebih baik" ketika mereka berhenti. Meskipun hal ini mungkin benar dalam hal lutut tergores, tetapi dalam hal seperti kekecewaan, itu tidaklah demikian. Sesulit-sulitnya menghadapi anak yang menangis atau merengek atau bermuram durja di sekitar rumah, mengizinkan anak-anak Anda untuk tenggelam dalam kesedihan mereka adalah pemberian yang sangat besar.

    Bagi beberapa anak-anak (dan orang dewasa!) pemberian itu bahkan menjadi lebih manis ketika diberikan dalam bentuk bersedia duduk bersama mereka, memeluk mereka, atau hanya menawarkan tisu. Bagi yang lain, pemberian terbaik dapat berupa kesendirian dan memberikan ruang untuk berduka. Bisa juga berupa diperbolehkan untuk melewatkan makan malam dengan keluarga selama beberapa waktu untuk bisa menyendiri.

    Tidak peduli bagaimana anak Anda menangis atau paling berduka karena kekecewaan - asalkan tidak merusak atau berbahaya, tentu saja - biarkan saja mereka melakukannya. Rasa bersalah - dan malu – dilepaskan.

  2. Biarkan Mereka Tahu Mungkin Itu Tidak Masuk Akal/Tidak Bisa Dipahami.

    Orang Kristen yang tidak bijaksana menawarkan kartu "ini adalah rencana Allah" untuk menjawab banyak kekecewaan atas hidup. Dan, walau sesuatu itu sangat mungkin adalah rencana Tuhan, kata-kata itu jarang menghibur untuk seseorang yang sangat merasa tersakiti. Alih-alih mencoba untuk menunjukkan semua "bagian baik" dari kekecewaan, beritahu anak Anda ia mungkin tidak mengerti apa yang terjadi. Itu tidak masuk akal bagi Anda juga. Anda berharap seandainya itu berbeda.

    Tentu saja, mengatakan kepada mereka bahwa suatu hari mereka akan dapat memahami, bisa bermanfaat. Tapi kecenderungan kita untuk mendorong orang keluar dari kesedihan mereka, sering merugikan. Kemungkinannya adalah, suatu hari anak Anda akan mengerti - bahkan menghargai - bahwa itu sulit dan sebuah keputusan yang mengecewakan. (Syukurlah saat ini sudah sangat jelas bagi saya mengapa saya tidak jadi bermain drama! ) Tetapi, seringkali hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah hanya belajar bagaimana menghadapi kekecewaan kita, belajar darinya apa yang kita bisa, dan kemudian melanjutkan.

  3. Biarkan Mereka Tahu bahwa Mereka Memiliki sebuah Pilihan.

    Jika diserahkan ke diri saya sendiri, saya akan sering memilih kepahitan dan kebencian. Itu terasa menyenangkan, bukan? Setidaknya dalam jangka pendek. Banyak anak-anak juga tidak berbeda. Ketika dihadapkan dengan sakit hati atau kekecewaan, sifat manusia adalah ingin membalas orang-orang yang menyakiti kita atau orang-orang yang menikmati apa yang kita inginkan tapi tidak bisa kita miliki.

    Ketika ibu saya mengingatkan bahwa saya punya pilihan tentang bagaimana saya akan menanggapi kekecewaan saya, dia tidak mengancam untuk menghukum saya jika saya membuat pilihan yang "salah". Dia hanya memberitahu saya apa konsekuensi dari masing-masing pilihan. Bahwa saya bisa – pada dasarnya - untuk menjadi teman yang baik atau kehilangan beberapa teman baik.

    Dia mengajari saya bahwa cara saya bertindak keluar dari kesedihan dan kekecewaan, bisa memiliki efek yang abadi. Dan, bahwa jawaban saya akan bisa menghasilkan yang baik untuk diri saya (bahkan ketika itu menyakitkan) ataupun merugikan saya (bahkan ketika rasanya baik - setidaknya dalam jangka pendek).

  4. Biarkan Mereka Mendengar Anda Berdoa.

    Ketika ibu saya berdoa untuk saya hari itu, ia hanya meminta agar Tuhan bersama dengan saya. Dan bahwa saya akan merasakan kehadiran-Nya. Dia tidak meminta pembalikan keputusan atau supaya saya tiba-tiba akan menemukan sesuatu yang "lebih baik" dari drama sekolah. Dia hanya meminta agar Allah mendekat. Dan Dia ada di dekat saya.

    Anak-anak kita perlu belajar bahwa Tuhan menyertai kita dalam segala hal. Dalam penderitaan. Dalam kesulitan. Dalam kekecewaan. Dalam kesedihan kita. Dan tentu saja, dalam sukacita dan keberhasilan kita juga.

Belajar bahwa Tuhan menyertai saya di saat-saat tersebut akhirnya membantu saya belajar untuk melihat-Nya, merasakan-Nya , merasakan Dia di saat-saat itu. Dan untuk mulai melihat dan memperhatikan apa yang akan Dia lakukan dengan kekecewaan saya. (t/Jing Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama Situs : Today's Christian Woman
Alamat URL : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2012/april/whenlifehurts.html
Judul asli artikel : When Life Hurts
Penulis artikel : Caryn Rivadeneira
Tanggal Akses : 30 Mei 2013
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar