Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Ketika Muda Aku Dimudakan, Ketika Tua Aku Dianggap Kuno

Salah satu filsuf terkenal, Bertrand Russel, melontarkan sebuah pemeo yang menjadi judul tulisan ini. Kutipan ini menggambarkan posisinya yang ketika masih muda tidak diterima oleh generasi tua pada zamannya. Segala pemikirannya dianggap masih mentah, tidak perlu ditanggapi dan dipikirkan. Dia dianggap remeh karena usia muda. Kegiatan-kegiatan yang dilakukannya merupakan kegiatan yang tidak berarti bagi generasi yang memegang kendali pada saat itu. Apalagi kalau ia mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan arus pemikiran pada masa itu, pendapatnya akan ditertawakan. Waktu berjalan dan generasi beralih. Sang filsuf menjadi tua dan generasi muda menganggapnya sudah terlalu tua untuk mereka. Arus pemikirannya berbeda sama sekali. Generasi muda menganggapnya sudah ketinggalan zaman.

Apakah artinya? Seorang filsuf selalu melampaui zamannya. Ia berada pada posisi garis depan yang tidak diterima pada zamannya. Pemikiran yang dilontarkannya jauh ke depan, visinya melampaui visi orang sezamannya, sehingga ia sering berpikir dan bertanya-tanya kepada dirinya, apakah dia hadir pada waktu yang salah? Ia berada di antara ada dan tiada, walaupun orang tidak sadar bahwa mereka sedang melaksanakan apa yang dipikirkan oleh sang filsuf.

Proses Berpikir

Manusia dibedakan dari binatang melalui proses berpikirnya. Hewan pun sesungguhnya memiliki daya pikir. Buktinya, dengan bunyi-bunyian mereka berkomunikasi dengan sesamanya, walaupun dipisahkan oleh jarak yang jauh. Ada burung yang dapat berkicau dan didengar oleh kawannya dari jarak beberapa kilometer. Hewan-hewan yang lain pun membentuk dunia mereka sendiri dengan cara komunikasi yang khas. Daya pikir mereka yang terbatas membuat dunia mereka berbeda dari dunia manusia. Manusia dikaruniai Tuhan kemampuan berpikir yang luar biasa. Otak manusia diberi kemampuan yang tidak pernah dapat dipikirkan oleh manusia itu sendiri. Tuhan menciptakan manusia dengan daya kreativitas yang tinggi. Selain berpikir secara rasional, manusia dikaruniai Tuhan dengan akal budi, daya imajinasi yang tinggi. Tatkala Tuhan menjadikan manusia (Adam), dilihat-Nya manusia itu "baik adanya" sesuai dengan citra-Nya. Dunia makhluk hewan tidak pernah berubah, tetapi dunia makhluk manusia selalu berubah sesuai dengan kreativitas yang dimilikinya.

Proses berpikir manusia berkembang sejalan dengan pertumbuhan usianya. Setiap manusia mengikuti proses perkembangan jasmani, mulai dari masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa tua. Pada waktu usia 0-2 tahun, pikiran manusia berfungsi sebagai alat rekam. Bayi menyesuaikan diri dengan lingkungannya sesuai dengan batas usianya. Masa dua tahun pertama kehidupannya digunakan untuk menyeleksi kata dan bunyi, menyimpannya di dalam memori, dan setelah itu merangkai di dalam hati. Ia dapat membedakan bunyi dan getar suara, dapat membedakan gerak bibir orang tuanya. Memorinya berkembang dalam batas tertentu dan bertumbuh sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohaninya. Intelektualnya pun semakin cerdas seiring dengan rasa ingin tahunya yang tinggi.

Memori adalah sarana yang paling penting dalam pertumbuhan seorang anak. Kalau ada jaringan otak yang putus, maka daya ingat bayi akan berkurang dan berakibat pada perkembangan komunikasi yang kurang baik. Kekayaan memori dan seleksi yang ketat membuat seorang anak menjadi cerdas. Proses berpikirnya semakin meningkat. Pertumbuhan dan perkembangan ini dipengaruhi oleh lingkungannya, orang tua yang mengasuh dan mendidiknya, teman sepermainannya, dan kesempatan yang diberikan kepada anak itu untuk mengembangkan proses kreatifnya sebagai anak yang sedang bertumbuh.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, mengapa ada anak yang sering lupa? Apakah memorinya mengalami gangguan? Daya ingat selalu ada hubungannya dengan pendengaran. Pendengaran selalu berkaitan dengan proses berpikir. Apabila ada sesuatu yang penting yang perlu direkam di dalam benak, maka hal itu akan direkamnya dan digunakan pada saat-saat tertentu. Akan tetapi, seorang anak menjadi lupa karena apa yang dikatakan kepadanya tidak dianggapnya penting, ia mencoba menutup pendengarannya agar tidak masuk ke dalam hati dan direkam di dalam benaknya. Hal-hal yang tidak disenangi dari lingkungannya cenderung untuk dilupakan. Hal-hal yang menggembirakan, harapan dan janji yang menyenangkan dalam kehidupannya, akan dimasukkan ke dalam kenangan dan akan bertahan di sana sampai hari tuanya. Begitu pula hal-hal yang menyedihkan, hal-hal yang mengagetkan, peristiwa yang mengejutkan, cenderung tertanam jauh di lubuk hati dan muncul ke permukaan pada waktu kejadian yang serupa.

Tuhan menyediakan tempat di dalam benak kita untuk belajar melupakan sesuatu. Keadaan lupa tidaklah selalu merupakan hal yang negatif. Sifat lupa pun ada gunanya. Sejak awal, leluhur kita telah diberi kemungkinan seperti itu. "Jika kamu berpaling kepada-Ku dan mengikuti firman-Ku, maka Aku akan melupakan dosa dan kesalahanmu. Aku akan mengampunimu," adalah salah satu dari sekian banyak janji di dalam Alkitab -- Kitab Kejadian sampai Wahyu.

Tuhan menyediakan kemungkinan di dalam otak kita untuk lupa, bahkan Tuhan mengajar kita "mengampuni" orang yang bersalah kepada kita, dengan catatan melupakan kesalahannya dan menghapusnya dari ingatan kita. Kalau hal ini tidak diberikan kepada kita, kemungkinan besar manusia akan menjadi pendendam, yang membalaskan kejahatan dengan kejahatan.

Mengapa Terjadi Proses Pikun?

Bagaimanapun, manusia sebagai makhluk yang fana memiliki pertumbuhan sel dan keausan sel di dalam jaringan tubuh. Proses penuaan terjadi seiring dengan pertambahan usia. Tiga periode dalam kehidupan manusia yakni: masa kanak-kanak dan remaja, dewasa, dan tua. Secara administratif, manusia membagi dirinya menjadi masa produktif dan masa tidak produktif, yang ditandai dengan masa bakti dengan saat untuk pensiun.

Masa pertumbuhan berhubungan dengan masa kreativitas dan energi yang digunakan untuk mewujudkan imajinasi kepada hasil yang konkret. Dulu orang menggunakan kuda untuk menarik kereta, sekarang orang menggunakan mesin untuk menarik kendaraan. Mobil diikuti dengan pesawat terbang, dan pesawat terbang diikuti oleh pesawat luar angkasa. Manusia dalam usia produktif menggunakan imajinasi dan kreativitasnya secara maksimal, sampai tiba saatnya masa pensiun, saat kreativitas semakin surut dan akhirnya berhenti karena usia lanjut.

Mengapa orang menjadi pikun? Kata orang awam karena sakit-sakitan. Mungkin karena gangguan saraf tertentu, serangan stroke, dan lain-lain. Akan tetapi, orang-orang yang normal, selepas usia pensiun masih dapat mempertahankan kreativitasnya sampai tua, apabila ia terus mengasah pikirannya, menggunakannya secara kreatif. Ia terus berpikir dalam jalur yang telah dibentuknya sejak masa muda. Misalnya, penulis-penulis terkemuka yang menjadi pemenang Nobel adalah penulis yang tetap tekun sampai tua: menulis dan menulis, terus mengolah daya kreativitasnya sehingga serangan kepikunan tidak menyentuhnya. Otak yang digunakan untuk berpikir terus cenderung menahan kepikunan atau kelupaan yang total. Orang yang terus berpikir dan tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan masa lampau, akan dapat mengatasi ancaman kepikunan.

Di negara-negara maju, kita membaca sejarah kepemimpinan mereka bahwa negeri itu banyak dipimpin oleh orang yang sudah lewat usia pensiun. Mereka yang sudah berusia di atas enam puluh masih mencalonkan diri menjadi pemimpin negara. Bahkan, Lee Kuan Ju (pemimpin Singapura) dalam usianya yang sudah di atas 80-an, masih ingin mencalonkan diri dalam pertarungan kepemimpinan negaranya. Mengapa? Karena ia dari hari ke hari memiliki kegiatan yang produktif dan kreatif, walaupun tidak sebaik pada masa mudanya. Ia berusaha mempertahankan kemampuannya dan mengatasi proses penuaan dengan terus berpikir secara kreatif, serta tidak meratapi masa lalu yang sarat dengan kegagalan. Ia selalu memandang ke depan, bukannya menoleh ke belakang.

Cara Mengatasi Sifat Lupa

Tidak ada cara singkat untuk mengatasi sifat pelupa. Banyak orang yang lupa pada nama-nama orang lain, nama kota, bahkan kadang-kadang lupa pada nama cucunya. Cara sederhana untuk mengatasi kelupaan (tentunya bukan waktu sudah tua) dibentuk dari masa muda. Misalnya, agar Anda tidak lupa di mana kaca mata Anda, taruhlah selalu di tempat yang sama dan lokasi yang sama. Begitu pula dengan kunci, tempatkan kunci di tempat yang sama sehingga kalaupun listrik padam, Anda akan menemukannya. Disiplin diri, ketertiban, sangat besar andilnya untuk mencegah sifat lupa. Bila ini sudah dibina sejak masa muda, pada waktu tua tidak akan menjadi pelupa yang parah. Namun, sifat lupa itu sendiri adalah sangat manusiawi karena Tuhan pun menyediakan ruang di dalam benak kita, di mana kita dapat melupakan sesuatu. Kalau Anda tidak pelupa sebelum pensiun, setelah pensiun tingkat kelupaan Anda tidaklah begitu parah.

Diambil dari:

Judul majalah : Kalam Hidup, Februari 2007
Penulis : Dr. Wilson Nadeak, M.A.
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2007
Halaman : 30 -- 31
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar