Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Mengalami Sukacita Natal

Lagu Natal lama menyatakan, "It’s the most wonderful time of the year". (Saat terindah di tahun ini - Red.) Dan, bagi orang Kristen, nyanyian itu harusnya bergema dengan benar. Namun, bagi banyak orang, Natal adalah waktu untuk bertahan. Depresi, kesedihan, dan kesepian yang kemudian sering kali diperburuk dengan keadaan keluarga yang hancur dan beban utang yang semakin menumpuk. Daftar acara Natal yang terlalu padat sehingga membuat kita berpikir untuk "mengakhiri hari raya". Kita menjadi bertanya-tanya apakah ucapan selamat Natal masih ada? Apa yang terjadi dengan suasana Natal yang damai di masa kanak-kanak?

Natal telah diambil alih maknanya oleh orang-orang yang sinis, dimanfaatkan oleh kapitalis, dan diinjak-injak oleh konsumen. Sorak-sorai Natal dikritik habis-habisan. Antrean para pembeli tidak ada habisnya; kita menggeram dan mengeluh ketika hanya satu dari sepuluh loket yang dibuka. Tidak ada kemurahan hati di tempat parkir pusat perbelanjaan; kita berburu tempat parkir yang sulit didapatkan seperti serigala. Para santa yang berkostum murahan memasang harga yang sangat mahal untuk sebuah foto dari Eddie atau Tiffany kecil yang sedang menangis. Desember dipenuhi dengan hari-hari yang panjang, yang riuh memuncak pada nyanyian "Malam Kudus" yang membosankan. Lelah dengan puji-pujian Natal, pesta, belanja, jamuan makan, keluarga dan perjalanan, kita tiba di palungan Betlehem dengan lelah karena hawa panas. Di malam Natal, kita mengangkat suara kita yang letih untuk menyanyi, "Dunia Gemar dan Soraklah, Tuhan datanglah". Kemudian, kita terburu-buru keluar dari ibadah untuk mendapatkan satu hadiah terakhir atau pergi ke satu pesta terakhir.

Begitu cepat itu semua berakhir. Kita menyimpan pita-pita dari dekorasi Natal, membakar kertas-kertas pembungkus kado, membongkar pohon Natal, dan berusaha keras mewujudkan resolusi Tahun Baru kita. Terlalu sering kita melewatkan maknanya. Kita seperti orang yang pergi ke pantai, tetapi tidak pernah melihat laut. Ancaman akan kehilangan makna dari hari raya terlalu nyata. Kecuali kita melibatkan hati kita dalam perayaan sejati dari sukacita Natal, maka kita akan dengan mudah terjebak dalam hari raya yang sia-sia dan tak ada artinya. Ketika kita melupakan makna Natal, maka masa Natal akan menjadi sangat berkurang maknanya.

Yesaya melihat perayaan agama yang terpisah dari ibadah yang sejati. Orang-orang menyukai jamuan makan dan perayaan mereka, tetapi mereka kehilangan perspektif mereka. Allah menyampaikan firman-Nya melalui Yesaya yang mendarat seperti pukulan: "Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya" (Yesaya 1:13,14). Anak-anak Israel membuat hari suci mereka menjadi hari raya dan Allah menolak untuk dimasukkan ke daftar tamu. Jika Yesaya hidup pada zaman ini, dia juga bisa memberikan nubuat yang sama tanpa ada satu kata pun yang diubah.

Semangat sejati dari Natal kristiani harus dibangun kembali dalam hati dan keluarga kita. Semua itu tidak hilang. Kisah utama tentang kasih Tuhan masih benar. Kemuliaan masih ada untuk disaksikan oleh orang-orang yang mencarinya. Bagaimana kita bisa benar-benar mengalami sukacita Natal? Bagaimana kita mengartikan "semangat Natal" yang benar?

Sukacita Natal dapat ditemukan dalam semangat pendamaian.

Natal harus mengarahkan hati kita pada karya pendamaian Kristus. Paulus mengajarkan kedatangan Kristus dalam hubungannya dengan pendamaian. "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus" (2 Korintus 5:19). Setiap perayaan akan Kristus harus mencerminkan tujuan inti dari kedatangan-Nya.

Sebagian besar masalah yang menyesatkan orang-orang adalah kepicikan dan keegoisan. Betapa tragis jika perayaan Natal sering kali menjadi penyebab bagi kepahitan baru, atau pengulangan yang melelahkan dari pelanggaran di masa lalu.

Betapa kita bisa mengalami sukacita dalam semangat Kristus jika kita melakukan hak prerogatif yang sama dengan yang Allah lakukan dengan mengutus Anak-Nya ke dunia, hak prerogatif dalam pengampunan dan pendamaian. Natal menyediakan pengingat yang tegas bahwa orang-orang yang kita biarkan dalam ketidakpedulian dapat memiliki tempat yang hangat bersama dengan kita di dekat pohon Natal jika saja kita bersedia untuk menjadi lebih seperti Dia yang kita rayakan.

Sukacita Natal dapat ditemukan dalam semangat persatuan.

Kabar baik harus diberitakan. Natal seharusnya mempersatukan kita untuk menceritakan kisah terhebat di dunia sekali lagi, dan berbagi persekutuan yang sejati. Yesus menceritakan tentang seorang wanita yang kehilangan sebuah koin yang berharga. Dia menggeledah rumahnya sampai koin itu ditemukan, dan ketika koin berharga itu telah ditemukan, dia memanggil semua tetangga dan teman-temannya sehingga mereka bisa bersukacita bersama-sama. Implikasinya mutlak. Kabar baik adalah alasan untuk mengumpulkan orang-orang yang dekat dan jauh untuk merayakan. Keluarga yang berkelahi selama masa Natal menunjukkan rasa tidak hormat yang tidak berperasaan terhadap Tuhan.

Perkelahian keluarga jarang menghasilkan apa-apa selain lebih banyak dendam dan kepahitan. Perayaan Natal harus menolak semua keluhan "terlarang" jika Kristus sungguh-sungguh dihormati. Sebuah perayaan yang tepat dan penghargaan terhadap karya Kristus akan sering melenyapkan perselisihan dan menyembuhkan patah hati.

Semakin saya dewasa, semakin saya menghargai bacaan pagi Natal tentang kisah terbesar yang pernah diceritakan. Ada sesuatu yang kuat dan sakral ketika generasi-generasi bersama-sama hidup dalam inti iman kita.

Hubungan antara cucu-cucu dan kakek nenek melalui iman bersama menciptakan kenangan yang menyentuh generasi-generasi yang akan datang. "Natal" dan "sendirian" adalah dua kata yang seharusnya tidak pernah terkait. Sukacita pada waktu Natal ditemukan dalam berhubungan kembali dengan orang yang kita kasihi, dan bahkan dengan orang-orang yang telah kehilangan kontak selama ini.

Sukacita Natal dapat ditemukan dalam semangat menyembah.

Lukas menceritakan bahwa kelahiran Kristus diiringi dengan pujian malaikat (Lukas 2:13,14). Kita juga akan bergabung dengan paduan suara malaikat. Sebuah upaya dengan sengaja harus dilakukan oleh setiap orang percaya untuk menyingkirkan semua hambatan dalam memuji. Scrooge (tokoh yang tidak menyukai Natal dan selalu bersikap tidak ramah dalam kisah Christmas Carol karya Charles Dickens - Red.) seharusnya tidak termasuk di antara kita pada malam Natal.

Waktu Natal menyediakan sebuah kesempatan untuk membersihkan hati dari kesedihan dan kesuraman. Harapan yang mencerahkan dan memutihkan semua yang disentuhnya. Palungan Betlehem adalah jauh, jauh lebih daripada sekadar sebuah tonggak sejarah; itu adalah janji yang terus ada bagi semua orang yang percaya. Yesus adalah Hadiah yang terus memberi. Orang Kristen dapat bersukacita dalam hal-hal yang kekal, bahkan ketika dalam keadaan jasmani yang sulit.

Sukacita Natal dapat ditemukan dalam semangat kemurahan hati.

Teks Natal favorit saya terdapat di Yohanes 3:16, "Karena Allah begitu mengasihi dunia sehingga Ia telah mengaruniakan ...." Kita perlu menegaskan kembali dasar agung yang mendukung tradisi pemberian hadiah pada waktu Natal. Meskipun kita tidak boleh terseret dengan utang yang berlebihan dan pengeluaran demi gengsi, kita harus melakukan kemurahan hati dalam perbuatan dan semangat sebagai sebuah perayaan sejati akan Yesus. Ingatlah bahwa hadiah selalu merupakan pemberian dari hati. Sebagian besar hadiah akan segera rusak, usang, dan dilupakan, tetapi hati yang penuh kasih dan memberi, bertahan melewati ujian waktu.

Kecuali kita memberikan kembali Natal dengan pesan dan makna yang mulia, maka hari raya itu akan berlalu seperti festival orang kafir. Kecuali kita benar-benar merayakan Kristus, maka kisah terbesar yang pernah diceritakan akan terlewatkan di tengah lonceng, pita-pita, dan pernak-pernik. Jadikan hari raya Anda sebuah hari yang suci. Tambahkan satu atau dua kursi lain di meja Anda. Buanglah dendam apa pun atau sakit hati yang masih ada. Nyanyikan lagu-lagu dengan suara Anda yang paling keras. Ceritakan kisah Kristus dengan ucapan syukur dan kekaguman. Bungkus setiap kado dalam kasih. Anda adalah alasan Yesus datang. Tidak ada yang memiliki alasan lebih untuk merayakannya dibandingkan Anda. (t/Jing-Jing)

Sumber asli:

Nama situs : Pentecostal Evangel
Alamat URL : http://www.pe.ag.org/Articles2001/4571_crabtree.cfm
Judul asli artikel : Finding the joy of Christmas
Penulis artikel : David B. Crabtree
Tanggal akses : 5 Februari 2015

Diambil dari:

Nama situs : Natal
Alamat URL : http://natal.sabda.org/mengalami_sukacita_natal
Tanggal akses : 4 November 2015
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar