Mengampuni seperti Mesias Mengampuni: Kehidupan Corrie Ten Boom

Corrie Ten Boom lahir pada tahun 1892, sebuah keluarga Reformasi iman Belanda di Belanda. Bahkan sebelum pendudukan Jerman di Belanda selama Perang Dunia II, keluarga Ten Boom sudah dikenal memiliki kepedulian terhadap orang Yahudi. Ayahnya memiliki sebuah toko perhiasan kecil di wilayah tempat tinggal orang-orang Yahudi di kota mereka. Mereka juga sering bergabung dengan tetangga Yahudi mereka untuk merayakan Hari Sabat dan mempelajari Alkitab. Kakek Corrie adalah salah seorang tokoh yang mendukung upaya peningkatan hubungan antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Kristen pada abad ke-19. Saudara laki-lakinya, Willem, adalah seorang pendeta Gereja Reformasi Belanda dan mendapat tugas untuk mempertobatkan orang-orang Yahudi untuk masuk ke dalam kekristenan. Bukannya memaksa perpindahan keyakinan, Willem Ten Boom justru memelajari anti-Semitisme dan membuka sebuah panti jompo bagi orang-orang dari semua agama yang pada kemudian hari tempat berlindung bagi pengungsi Yahudi selama perang.

Komitmen Keluarga

Setelah perang dimulai, banyak anggota keluarga Ten Boom yang terlibat dalam upaya perlawanan. Corrie dan adiknya, Betsie, mulai menyembunyikan orang Yahudi di dalam rumah keluarga mereka. Corrie sendiri menjadi bagian dari perlawanan bawah tanah di Belanda untuk mendapatkan buku-buku bagi orang-orang Yahudi yang disembunyikannya, selain itu ia juga mengoordinasi penyembunyian orang-orang Yahudi yang lainnya di daerah pedesaan Belanda. Pekerjaan ini berlangsung selama delapan belas bulan, dan berkembang menjadi pusat gerakan bawah tanah yang menyebar secara nasional.

Suatu ketika, Corrie pernah menceritakan pengalamannya ketika dia meminta seorang pendeta lokal untuk melindungi seorang ibu Yahudi dan anak bayinya. Ketika pendeta itu menolak permintaan Corrie atas masalah keamanan, Casper Ten Boom, ayah Corrie, yang mendengar percakapan itu pun memasuki ruangan, merangkul anak tersebut dan berkata kepada pendeta itu, "Anda berkata bahwa kita bisa kehilangan nyawa kita karena anak ini, tapi saya menganggap hal ini sebagai kehormatan terbesar bagi keluarga saya."

Setia Sampai Mati

Polisi Jerman menyerbu rumah Ten Boom pada bulan Februari, 1944. Mereka yang bersembunyi tetap tidak ditemukan, sementara Corrie, bersama dengan ayahnya, dua saudara perempuan, saudara laki-laki, dan anggota keluarga lainnya ditangkap. Para pejuang perlawanan bersama dengan sekelompok teman-teman Corrie yang mengadakan pertemuan doa di ruang tamu rumah itu ketika penggerebekan terjadi juga ditangkap. Jumlah orang yang ditangkap hari itu adalah 30 orang.

Dari anggota keluarga Ten Boom yang telah ditangkap, semua dibebaskan kecuali Corrie, adiknya, Betsie, dan ayah mereka, Casper. Casper jatuh sakit tak lama setelah tiba di penjara dan meninggal sepuluh hari kemudian. Kedua bersaudara itu tetap di dalam penjara sampai bulan Juni, ketika mereka dipindahkan ke sebuah kamp kerja paksa di bagian lain negara itu. Pada bulan September, mereka dipindahkan ke kamp konsentrasi Ravensbrueck di Jerman.

Sementara di kamp konsentrasi, keduanya menggunakan Alkitab rahasia mereka untuk mengadakan pelayanan ibadah untuk para tahanan lainnya. Pelayanan ini berkembang menjadi Kerajaan Allah yang multi-denominasi. Corrie menulis, "Akhirnya baik Betsie atau saya akan membuka Alkitab. Karena hanya orang-orang yang berbahasa Belanda yang bisa memahami teks yang kami terjemahkan dalam bahasa Jerman. Dan kemudian kami akan mendengar kata-kata yang memberi hidup disampaikan kembali di sepanjang gang dalam bahasa Perancis, Polandia, Rusia, Ceko, dan kembali ke bahasa Belanda. Yang kami alami pada malam-malam itu adalah pertunjukan kecil tentang surga. "Betsie meninggal di kamp konsentrasi itu pada bulan Desember 1944, sementara Corrie dibebaskan beberapa hari kemudian karena sebuah kesalahan administrasi. Pembebasannya terjadi satu minggu sebelum semua wanita seusianya di kamp dibunuh.

Sebuah Kehidupan tentang Pengampunan

Apa yang sangat penting tentang Corrie Ten Boom adalah hidupnya setelah perang. Selain berbicara tentang peran sentral dari iman Kristennya di dalam tindakan masa perang, dia terbukti berkomitmen pada ajaran Mesias tentang pengampunan. Di salah satu ceramah, dia bertemu kembali dengan seorang penjaga Ravenbrueck, seorang pria yang paling berperan dalam kematian tragis adiknya. Pria itu meminta maaf padanya atas tindakannya yang keji, dan Corrie menemukan bahwa imannya memberinya kekuatan untuk mengampuni.

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Chosen People.Com
Alamat URL : http://www.chosenpeople.com/main/personal-stories/258-forgiving-as-the-m...
Judul asli artikel : Forgiving as Messiah Forgave
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 17 April 2013
Tipe Bahan: 
kategori: 

Komentar