Perempuan Indonesia "Permata" di Ladang Misi

Women to Women

Karena mengandung risiko dan bahaya, ladang misi biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Namun, Tuhan telah membangkitkan kaum wanita yang berani untuk memperluas kerajaan-Nya dengan menjangkau kaum wanita yang belum terjangkau di Indonesia, berikut adalah kisah mereka.

Dalam bahasa Indonesia, "Jewel" berarti permata -- sebuah kata yang nampaknya tidak berlebihan untuk menggambarkan kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat mayoritas SALAM.

Kisah Nitta*

Nitta lahir dari suku yang sangat fanatik dengan agamanya. Di daerah asalnya, banyak orang mengatakan merupakan suatu daerah yang paling sulit di Indonesia untuk menerima Injil. "Ayah saya adalah seorang SALAM yang taat, beliau memiliki empat istri. Saya anak dari istri yang kedua," Nitta memulai kisahnya. Sama seperti anak-anak lain dari suku ayahnya, ia dibesarkan di sebuah pesantren. Orangtuanya punya harapan yang besar kepadanya untuk menjadi seorang wanita M yang baik. Namun, atas campur tangan Ilahi, ia tidak dapat memenuhi apa yang menjadi mimpi orangtuanya. Di pesantren di mana ia belajar segala sesuatu tentang agamanya, ia malah berjumpa dengan Isa. "Ketika saya menemukan Isa (Yesus) dalam Alkitab, saya langsung terpikat. Saya mulai bertanya-tanya dengan berbagai pertanyaan tentang Dia, namun guru di sekolahnya mencela dia," ia menceritakan.

"Tuhan membukakan pintu bagi saya melalui peristiwa perceraian ibu saya, dan saya dibawa ke satu daerah yang banyak orang Kristennya dan saya diurus oleh kerabat ibu saya yang Kristen," lanjutnya. "Mereka kemudian mulai memperkenalkan saya tentang kekristenan dan akhirnya saya memutuskan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat saya."

Pertobatan serta komitmennya untuk melayani Tuhan sebagai misionaris penuh waktu merupakan sebuah keputusan yang berani. Nitta mengikuti pelatihan-pelatihan misionaris dan mulai memberitakan Injil di daerah yang penduduknya mayoritas kaum SALAM. Memulai pelayanannya pada usia 22 tahun, memiliki latar belakang sebagai mantan SALAM membuat banyak orang menjadi mudah untuk memahami Injil melalui penjelasan Nitta. "Tuhan menggunakan masa lalunya untuk memenangkan kaum SALAM," katanya. "Tetapi saat ini, agak sulit untuk memberitakan Injil tanpa menimbulkan kecurigaan tetangga karena kebanyakan dari mereka sudah tahu siapa saya dan apa yang saya lakukan." Di kota kecil seperti ini, di mana semua orang saling kenal satu dengan yang lain, Nitta biasanya menyusuri jalan-jalan sambil menceritakan tentang kisah keselamatan, namun sering juga menimbulkan kecurigaan di antara para penjual makanan. "Pernah sekali waktu, seorang warga mengancam saya dengan pisau dan mengatakan jangan datang kembali ke tempat ini," katanya.

Kisah Ella*

Kisah "Permata" yang lain di ladang misi bernama Ella. Bersama dengan suaminya, ia berkomitmen untuk menjangkau kaum SALAM kepada Tuhan. Seperti Nitta, Ella berasal dari keluarga SALAM. Ia berjumpa dengan Yesus melalui teman-temannya. Waktu ia bertamu ke rumah temannya, ia diajak untuk datang ke sebuah persekutuan. "Saya orangnya sering merasa sungkan untuk menolak," kenangnya.

Sebuah pesan sederhana tentang kasih tanpa syarat dari Bapa Surgawi telah menyentuh hati Ella, yang menyebabkan dia memberikan hidupnya kepada Yesus dan mengikuti Dia dengan segenap kekuatannya. Tentunya, menjadi mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah keputusan yang diambil oleh Ella, yaitu terputusnya ikatan suatu hubungan keluarga, di mana hal ini juga bisa menjadi penentu arah masa depannya. "Hidup sendirian di usia muda sulit. Akan tetapi, oleh kasih karunia Tuhan, sebuah panti asuhan Kristen mau membiayai seluruh hidup saya dan biaya kuliah saya sampai selesai. Saya masuk sekolah seminari dan memutuskan untuk menjadi seorang hamba Tuhan." Di seminari, ia bertemu dengan calon suaminya, dua pribadi yang dinamis, mereka menikah, dan bersama dengan kedua orang anaknya, sekarang melayani Tuhan dengan menggembalakan jaringan kaum SALAM di pulau Jawa.

Permata-permata ladang misi, yakni Nitta dan Ella merupakan mitra kerja Open Doors. Nitta secara teratur hadir dalam pertemuan persekutuan para penginjil. "Saya sangat diberkati oleh pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh OD, merupakan kesempatan bagi saya untuk belajar lagi. Terima kasih Open Doors," katanya. Sementara Ella dan suaminya terus melengkapi ratusan orang percaya baru dengan dukungan OD dalam memberikan pinjaman modal (Socio Economic Development), pelatihan dan pemuridan, membagikan Alkitab Kontekstual dan buku-buku rohani yang dibutuhkan, sehingga lebih banyak lagi para pekerja misi yang menjangkau daerah mereka masing-masing.

*Nama-nama diubah untuk alasan keamanan

Diambil dari:
Judul buletin : Open Doors Frontline Faith
Edisi : November-Desember 2015
Penulis artikel : Redaksi Open Doors
Halaman : 8 -- 9
Tipe Bahan: 
kategori: 

Komentar