Teolog Wanita, Marianne Katoppo

Ditulis oleh: N.Risanti

Marianne Katoppo adalah putri dari Elvianus Katoppo, Menteri Pendidikan pada zaman Negara Indonesia Timur sekaligus tokoh pendiri Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), yang lahir pada tanggal 9 Juni 1943 di Tomohon, Sulawesi Utara. Selain mendapat gelar Sarjana Teologi dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta pada tahun 1977, Marianne Katoppo juga pernah memperdalam studinya di International Christian University (1964), Tokyo, serta di sebuah sekolah Teologi di Kyoto (1965). Pada tahun 1992, Marianne mendapat gelar theol.lic. dari Institute Oecumenique Bossey, Swiss, sebuah lembaga pendidikan teologi ternama di dunia.

M. Katoppo

Semenjak kecil, kehidupan yang dijalani oleh Marianne Katoppo bersama keluarganya adalah kehidupan yang mendukung kesetaraan gender. Tak heran jika persoalan-persoalan kemanusiaan yang terkait dengan penindasan terhadap kaum wanita menjadi passion Marrianne yang terbesar, yang kemudian menjadikannya sebagai seorang teolog wanita. Karyanya yang berjudul "Compassionate and Free: An Asian Woman's Theology" (1979) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Jerman, Swedia, dan Tagalog, serta dipakai sebagai buku ajar di berbagai sekolah teologi dan seminari di seluruh dunia, menjadikannya sebagai salah seorang teolog feminis pertama di Indonesia serta Asia.

Menurut Mutiara Andalas, SJ, dalam tulisannya "One Billion Rising: Marianne Katoppo (II)", "teologi Marianne Katoppo mengalir dari refleksi naratifnya sebagai seorang perempuan kristiani Asia yang mendaku kembali identitasnya sebagai ciptaan merdeka dan menanggapi panggilan Allah untuk peduli terhadap para *liyan yang menderita di dunia global." Bagi Marianne, kebebasan adalah sesuatu yang terkait erat dengan belas kasih, dan seharusnya juga digunakan untuk membebaskan individu lainnya. Masih menurut Andalas, "Marianne memandang penderitaan kaum perempuan dan perjumpaan mereka dengan Allah sebagai sumber penting dalam teologi perempuan Asia." Berbeda dari teologi yang diusung oleh teolog perempuan lainnya, teologi Marianne Katoppo tidak hanya sekadar mengedepankan kesetaraan gender, melainkan juga kepada panggilan Allah untuk peduli dan berjuang bagi mereka yang tertindas oleh karena sistem, budaya, maupun politik.

Kegelisahan, pergumulan, suasana batin, serta gagasannya akan kebebasan wanita yang sejati adalah warna yang sangat mendominasi karya-karya novel Marianne sebagai seorang penulis. "Dunia Tak Bermusim" (1974), "Anggrek Tak Pernah Berdusta" (1977), "Terbangnya Punai" (1978), "Rumah di Atas Jembatan" (1981) adalah karya-karyanya dalam dunia sastra Indonesia yang sering kali juga mencerminkan sikap teologinya mengenai perempuan. Melalui novelnya "Raumanen", yang bernada suram dan bercerita mengenai kisah cinta yang terbentur karena perbedaan budaya dan prinsip, Marianne Katoppo meraih penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (1975), Yayasan Buku Utama (1978), serta South East Asian Writer Award (1982).

Selain menjadi teolog, penulis, aktivis, dan pencetak opini, Marianne juga pernah menjabat sebagai anggota dari Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia. Selain itu, ia juga merupakan anggota pendiri dan mantan Koordinator Ecumenical Association of Third World Theologians (EATWOT) Indonesia (1982), Forum Demokrasi (1991), Kelompok HATI (1980), dan International Council WCRP. Tetap melajang sampai akhir hayatnya, Marianne Katoppo akhirnya menutup usia pada tanggal 12 Oktober 2007. Bersama teologinya, ia akan dikenang sebagai salah satu wanita yang berjuang untuk menjalani panggilan Tuhan melalui karya dan kehidupannya.

Catatan:
*liyan: 'the others', atau 'yang lain'. Dalam konteks ini, liyan adalah sesuatu yang tidak dianggap, tidak bermakna, dan tidak penting dalam kehidupan.

Sumber bacaan:

Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar