Wanita dalam Penginjilan: Doa

Saya menyadari bahwa sejak mulai menulis blog ini, pikiran dan hati saya terus-menerus kembali pada penginjilan. Tidak mungkin kita membaca Alkitab dan mempelajari apa yang dikatakannya tanpa kembali pada sebuah gagasan, bahwa salah satu tugas utama kita adalah membawa orang-orang yang terhilang kepada Kristus. Saya sudah mengukur diri sendiri terhadap standar Alkitab, dan mendapati bahwa saya jauh dari sempurna. Ya, saya tahu bahwa mengajari anak-anak saya merupakan bagian penginjilan yang sangat besar. Akan tetapi, saya tidak berpikir bahwa peran saya sebagai wanita Kristen berhenti hanya sampai di situ. Saya ingin mengajak Anda bergabung dalam perjalanan pencarian saya selama saya mencoba mencari tempat sebagai seorang wanita percaya yang dipanggil untuk memberitakan Injil. Saya rasa, Anda setuju bahwa tempat terbaik untuk memulai adalah dari Kitab Suci. Saya telah memperhatikan setiap wanita yang disebutkan dalam Perjanjian Baru, dari Kisah Para Rasul hingga Wahyu. Selama lebih dari dua minggu berikutnya, kita akan bersama-sama mempelajari tentang apa yang dilakukan para wanita tersebut sebagai bentuk keikutsertaan mereka dalam penginjilan.

Saya rasa bukanlah sebuah kebetulan jika para wanita pengikut Yesus dalam Kisah Para Rasul kita jumpai untuk pertama kalinya sedang berdoa. "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus." (Kisah Para Rasul 1:14) Alkitab tidak memberi tahu kita apa yang mereka doakan, tetapi saya rasa kita dapat membuat beberapa dugaan yang baik. Yesus telah mati dan bangkit kembali. Orang-orang menceritakan bahwa mereka melihat Yesus naik ke langit setelah memberi tahu mereka untuk tinggal di sana sampai mereka diberi kuasa dari Roh Kudus. Semua pengikut Kristus dalam keadaan menunggu. Seandainya saya berada di sana, saya rasa saya akan bersyukur kepada Allah atas kebangkitan Yesus. Maria barangkali juga bersyukur kepada Allah untuk Yohanes yang merawatnya. Saya mungkin juga akan berdoa meminta hikmat untuk hari-hari yang akan datang.

Apakah Anda pernah diharuskan menunggu saat melayani Yesus? Mungkin Anda mengirimkan e-mail kepada seorang teman untuk menanyakan keadaannya, dan Anda tidak pernah mendapatkan balasan darinya. Mungkin Anda harus berhenti sejenak ketika beberapa tugas administrasi harus segera diselesaikan, seperti mengurus paspor untuk pergi ke luar negeri. Menantikan Tuhan merupakan sesuatu yang terjadi pada setiap orang Kristen. Marilah kita membuat keputusan untuk tidak sekadar memutar-mutarkan ibu jari kita selagi kita menunggu, tetapi sebaliknya, pakailah waktu-waktu itu untuk berdoa. Kita dapat mengucap syukur kepada Allah atas pemeliharaan-Nya, berdoa meminta hikmat dalam menghadapi masa yang akan datang, dan tentu saja, berdoa untuk teman-teman kita yang terhilang. Kita tahu bahwa Allah menjawab doa-doa semacam itu. Lihatlah apa yang terjadi ketika masa penantian para murid berakhir. Para rasul yang awalnya menangis tersedu-sedu kemudian berkata-kata dengan berani, dan tiga ribu orang diselamatkan dalam satu hari!

Ada juga peristiwa lain dalam Kisah Para Rasul, yaitu ketika para perempuan berdoa bagi saudara-saudara mereka dalam Kristus. Ketika Petrus ditangkap, dalam Kisah Para Rasul 12, banyak orang percaya yang berkumpul di rumah Maria (ibu Yohanes Markus). Lagi-lagi, kita tidak memiliki catatan doa spesifik yang mereka naikkan, tetapi kita dapat menebak bahwa mereka berdoa untuk keselamatan Petrus. Doa-doa mereka dijawab, bahkan sebelum mereka selesai berdoa, yaitu ketika Petrus yang dibebaskan dengan begitu ajaib sudah berada bersama-sama dengan mereka. Selanjutnya, dalam Kisah Para Rasul 21, semua istri dan anak-anak jemaat di kota Tira pergi ke pantai untuk menemui Paulus dan para pengikutnya. Selagi ada di sana, mereka berdoa bersama.

Saudari-saudari, kita seharusnya jangan pernah meremehkan kuasa doa-doa kita. Ketika kita berdoa bagi saudara seiman kita yang teraniaya karena memberitakan firman Tuhan atau ketika kita berdoa bagi pelayanan, sebenarnya kita sedang berperan serta dalam pelayanan mereka. Lukas tidak akan menaikkan doa di pantai jika doa tidak menjadi sesuatu yang begitu penting baginya dan orang-orang yang berada bersamanya. Melindungi saudara saudari kita dalam doa adalah pelayanan penting yang dapat kita lakukan dalam memberitakan Kabar Baik.

Saya dapat memikirkan beberapa contoh lain tentang bagaimana kita dapat berdoa sebagai bagian dari penginjilan kita. Seperti Paulus, kita dapat berdoa untuk jiwa-jiwa terhilang yang sedang kita jangkau (Roma 10:1). Kita dapat berdoa meminta hikmat dan keberanian dalam menjangkau mereka. Bahkan, Paulus, salah satu penginjil, meminta kita berdoa untuk menjangkau orang lain (Efesus 6:19-20). Doa adalah "senjata" yang ampuh (Yakobus 5:16). Ini seumpama karet yang bergesekan dengan jalan. Seperti halnya banyak bidang dalam hidup saya, saya membaca dan mempelajari tentang doa dengan baik, saya dapat menjelaskan tentang doa dengan baik, tetapi saya tidak begitu baik dalam mempraktikkannya. Saat ini, saya ingin membuat sebuah komitmen untuk berdoa setiap hari sebagai bagian dari tugas saya dalam melaksanakan Amanat Agung. Ketika saya harus menunggu, saya ingin mengisi waktu saya dengan doa. Saya ingin masuk ke hadirat Bapa demi orang-orang Kristen yang mengerjakan pekerjaan-Nya. Apakah Anda ingin bergabung dengan saya? (t/S. Setyawati)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Maid Servants of Christ
Alamat URL : http://www.maidservantsofchrist.com/
Judul asli artikel : Women in Evangelism: Prayer
Penulis : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 11 Desember 2013

Komentar