Apa yang Telah Yesus Lakukan Bagi Wanita

Pelayanan Yesus merevolusi cara wanita diperlakukan. Meskipun Ia bekerja dalam tradisi budaya pada masa-Nya, Ia mengabaikan pembatasan peran pada kaum wanita dengan memungkinkan mereka untuk mengikuti Dia secara terbuka dan turut berpartisipasi dalam pelayanan-Nya. Sikap pribadi-Nya kepada mereka menunjukkan bahwa Ia mengharapkan wanita untuk bekerja sebagai mitra dengan para murid pria dalam pekerjaan Injil.

Dalam Injil Yohanes, perempuan digambarkan sebagai pelayan yang aktif dan inovatif dalam kerajaan. Sebagai contoh, Yesus mengirimkan pesan kebangkitan-Nya kepada para pengikut-Nya melalui perempuan. Ia berdiskusi secara teologis dengan Martha mengenai doktrin kebangkitan, dan kepada perempuan Samaria tentang keselamatan. Metode-Nya dalam menangani keburukan sosial dalam prasangka gender pada prinsipnya sama dengan cara-Nya menangani dosa, yaitu bukan sekadar larangan dan hukuman, melainkan kasih sayang dan penyembuhan. Ia memperjuangkan hak-hak perempuan dalam berbagai cara proaktif, namun secara halus dan abadi.

Pertahanan Berisiko

Sebuah kejadian mengesankan dalam sikap-Nya terhadap perempuan adalah kisah akrab perempuan yang berzina dalam Yohanes 8:1-11. Peristiwa ini berlangsung saat hari masih sangat pagi ketika Yesus kembali dari waktu teduh-Nya di Bukit Zaitun, hanya delapan hari setelah Hari Raya Pondok Daun. Yerusalem masih ramai dengan para pengunjung perayaan, baik dari jarak jauh maupun dekat, saat orang dari Galilea itu memasuki bait pengadilan wanita, tempat semua laki-laki dan perempuan, Yahudi dan bukan Yahudi, dapat berkumpul untuk mendengarkan-Nya.

Begitu berita dari kehadiran-Nya disiarkan, orang banyak datang untuk mendengar Yesus, yang berada di puncak popularitas-Nya di tengah publik, meskipun juga sangat dikecam oleh para pemimpin agama. Ia mengajarkan orang banyak untuk menghancurkan belenggu dan tradisi kuno seperti halnya Ia memindahkan pikiran mereka dari bayang-bayang dan tipikal Perjanjian Lama kepada hubungan pribadi yang nyata dengan Tuhan. Ia membantu mereka memulihkan kekuatan Injil yang lama terkubur di bawah peraturan "lakukan dan tidak boleh".

Sementara Ia mengajar, beberapa ahli Taurat dan orang Farisi menerobos kerumunan dan menginterupsi Yesus dengan membawa seorang wanita yang mereka tuduh melakukan perzinaan, atau melanggar perintah ketujuh. Oleh karena perzinaan bisa dibuktikan hanya ketika dua pihak -- yang entah bertunangan dan akan menikah, atau sudah menikah dengan orang lain -- tertangkap dalam tindakan keintiman seksual, mereka juga harus membawa partner laki-lakinya. Namun, mereka tidak melakukannya, mungkin karena -- seperti yang sering diduga -- laki-laki itu adalah kaki tangan dari para penuduhnya. Dia mungkin juga adalah seorang guru agama yang berkuasa, sehingga para bawahannya terlibat untuk menutup-nutupi secara massal.

Apa pun alasannya, ia dilindungi oleh penuduh, yang berpura-pura menjadi pengamat setia dari Sepuluh Perintah Allah karena mereka mendorong wanita malang itu ke pusat keramaian dan melemparkan dirinya ke tanah di hadapan Yesus. Ini adalah tindakan yang sangat tidak biasa karena mereka memiliki kewenangan dalam pengadilan Sanhedrin untuk menuntut kasus tersebut. Itu mengungkapkan niat mereka untuk menjebak Yesus.

Wanita itu tidak bernama. Mungkin itu adalah upaya baik dari si penulis untuk melindungi identitasnya, setelah ia menjadi pemimpin yang terkenal pada masa gereja Kristen awal. Namun, adalah lebih mungkin bahwa namanya dihilangkan karena para penuduh dirinya yang lurus tidak dapat membiarkan diri mereka mengucapkan nama yang tidak tersentuh dan terbuang itu karena takut mencemari kesalehan pribadi mereka.

Namun, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak membawa perempuan itu kepada Yesus karena mereka terkejut dengan dosanya atau sedih dengan sikapnya. Mereka tidak peduli bahwa hukumannya nanti adalah akan mati dengan dirajam publik. Setiap orang hampir dapat melihat Setan mendalangi langkah ini untuk memanfaatkan orang berdosa itu dan menyandung Juru Selamat mereka sambil menantang-Nya dan berkata, "Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" (Yohanes 8:5).

Bayangkan adegan saat orang banyak berdiri terperanjat, bertanya-tanya bagaimana Yesus akan menangani situasi yang sulit tersebut. Jika Ia setuju bahwa wanita itu harus mati dengan dirajam, mereka akan melaporkan-Nya kepada Pilatus sebagai Raja yang diurapi, yang menghakimi kehidupan dan kematian dalam kendali-Nya sendiri. Jika Ia mengatakan bahwa wanita itu harus dibebaskan, mereka akan menuduh-Nya di hadapan massa sebagai orang yang menolak Hukum Musa dan merusak budaya keagamaan mereka.

Yesus tampak terjebak di antara batu dan sebuah tempat keras saat para penentang-Nya melihat dengan tamak, dan wanita itu tersungkur dengan malu pada kaki mereka. Para agamawan yang sombong itu mengeluarkan pendapat teologi dengan kata-kata perang terlempar dari mulut mereka ke wajah Yesus, tetapi Ia tegar, mengetahui bahwa Ia telah memenangkan perang kata-kata (Wahyu 12:7-8).

Wajah mereka adalah topeng kebanggaan dan kesombongan, seringaian mereka mengekspos keinginan balas dendam mereka untuk mengutuk. Mereka bersikeras bahwa dia tertangkap "pada tindakan" perzinaan, yang berarti mereka telah menyaksikannya dan menunggu saat ledakan kesempurnaan di atas kesalahan pasangan tersebut.

Yang mengejutkan mereka, Yesus tidak menjawabnya. Ia hanya berbalik, membungkuk, dan menulis dengan jari-Nya di tanah. Ia berpaling dari wajah mereka yang cemberut, untuk melihat dengan kasih sayang ke dalam mata wanita yang dilemparkan ke bawah untuk dipermalukan itu. Namun, Ia tidak mengatakan apa-apa!

Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi beranggapan bahwa keadaan diam-Nya berarti Ia tidak tahu harus berkata apa. Akan tetapi, tidak diragukan lagi bahwa Ia tahu persis bagaimana dan apa yang harus dikatakan. Keterampilan berbicara-Nya amat legendaris. Orang-orang selalu kagum pada otoritas-Nya saat berbicara, beberapa berkata, "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!" (Yohanes 7:46). Jadi, diam-Nya adalah jeda sementara sebelum pelajaran kekal berlangsung, yang masih menghibur orang-orang yang berdosa dan bingung, yang disebut orang-orang kudus.

Yesus membungkuk di tempat wanita itu berada sehingga Ia akhirnya bisa mengangkatnya ke tempat-Nya berdiri. Sementara penguasa agama berdiri untuk menghakimi, Sang Pencipta merendahkan diri, menjadi lebih rendah dari malaikat, dan membungkuk untuk menulis di tanah untuk menunjukkan kepada seorang wanita tak bernama, yang telah jatuh dan tidak bisa bangkit sendiri, bahwa Tuhan benar-benar peduli pada para pendosa (1 Petrus 5:6-7). Ia tidak membungkuk atau berdiri di atas satu lutut seperti sedang berbicara kepada bawahan-Nya. Ia dengan anggun turun dari tempat-Nya yang bermartabat, untuk menjadi setara dengan wanita yang bersalah dan direndahkan itu sehingga ia dapat melihat bahwa Yesus berada di sisinya.

Kemudian, Ia menulis dengan jari-Nya dalam debu, menunjukkan bahwa Ia menciptakan wanita itu dalam gambar-Nya sendiri, dan akan kembali menciptakan dirinya, tidak peduli seberapa rusak, terdistorsi, atau merosotnya ia oleh dosa.

Ia menulis di tanah dengan pukulan berani yang dinyatakan penuduhnya, "Yang satu ini adalah untuk Anda!" Dan, ketika mereka tetap meminta-Nya untuk menjawab, Yesus berdiri dan berkata kepada mereka, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yohanes 8:7)

Ia membungkuk untuk kedua kalinya dan menulis di tanah lagi. Apa pun yang ditambahkan-Nya pada tulisan pertama begitu kuat sehingga penuduh tidak hanya melihatnya, tetapi juga "mendengar" dering di telinga mereka. "Satu per satu, mulai dari yang tertua" (Yohanes 8:9), yang seharusnya tahu lebih baik. Orang-orang pun mulai pergi, meninggalkan Yesus sendiri dengan perempuan itu, di mana dia berada di tanah, di tengah pengadilan perempuan. Kemudian, Ia menyuruhnya berdiri, dan -- tampaknya, Ia dengan lembut mengangkatnya -- Yesus memanggilnya sebagai "perempuan", sebuah panggilan mesra yang juga digunakan-Nya untuk ibu-Nya (Yohanes 2:4).

Ketika wanita itu dibawa dalam keadaan malu, penuduhnya memanggilnya (Yohanes 8:4) "Gunaika" -- seorang wanita konyol -- yang lemah dibebani dengan dosa dan dipimpin oleh keinginan fasik (2 Timotius 3:6), dan itulah dia sebelumnya. Akan tetapi, ketika Yesus membangkitkannya, Ia mengubahnya menjadi "Gune" -- wanita dengan janji dan tujuan -- yang diperintahkan-Nya untuk "pergi" dan "jangan berbuat dosa lagi!" (Yohanes 8:11).

Singkatnya, Yesus tidak memperhatikan atau diyakinkan oleh sikap dan tindakan, dan pandangan umum terhadap wanita pada masa-Nya. Sebaliknya, Ia menegaskan, menyembuhkan, dan menghargai mereka sebagai anak-anak perempuan yang dihargai Allah. Ia menjalin hubungan dengan wanita sebagai teman dekat yang dipilih-Nya untuk menjadi saksi-Nya kepada masyarakat. Walaupun Ia tidak meninggalkan ajaran yang jelas tentang bagaimana memperlakukan wanita, kata-kata dan tindakan Yesus menunjukkan beberapa prinsip yang mengatur hubungannya dengan mereka.

Pertama, Ia mencintai dan memperlakukan perempuan sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Ia mengabaikan perbedaan seksual atau jenis kelamin, atau menghindari perempuan sebagai penggoda (seperti yang dilakukan para penguasa agama pada masa-Nya), dan tidak menganggap mereka sebagai objek kepuasan seksual (seperti norma pada masa kini). Ia tidak menciptakan pembedaan yang luar biasa dalam penerimaan atau aturan keterlibatan perempuan, tetapi mendekati mereka sebagai individu yang bertanggung jawab dan memiliki kemampuan, yang -- seperti rekan-rekan pria mereka -- adalah orang-orang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia-Nya.

Kedua, Yesus memperbolehkan -- bahkan mendorong wanita untuk melebihi peran mereka -- yang didefinisikan secara kultural -- sebagai istri dan ibu. Ia secara terbuka menentang larangan budaya ketika menyangkut perempuan, dan menilai bobot mereka tidak berdasarkan penampilan luar, tetapi pada hati mereka dan kemauan untuk berada di dalam hubungan dengan Dia.

Ketiga, Ia mendorong para wanita untuk mengikuti dan melayani-Nya dengan kemampuan terbaik yang mereka miliki. Ia sengaja tidak menentukan wilayah-wilayah tertentu adalah bagi pelayanan kaum wanita, sementara wilayah lainnya bagi kaum pria. Ia dengan murah hati menegaskan kedua jenis gender saat mereka menanggapi panggilan-Nya dan mengambil inisiatif dalam mempraktikkan talenta mereka.

Keempat, Yesus menunjukkan bahwa Dia bersedia menantang norma-norma budaya dan tradisi keagamaan dalam rangka melestarikan hak-hak perempuan dan tetap setia pada visi kesetaraan yang lebih tinggi, yang harus menjadi norma di dalam Kerajaan Allah. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Women of Spirit
Alamat URL : http://www.womenofspirit.com/?id=184
Judul asli artikel : What Jesus Did for Women
Penulis artikel : Hyveth Williams
Tanggal akses : 10 Desember 2014
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar