Depresi

Depresi adalah penyakit klasik para wanita. Mengapa? Ganti dua huruf depan kata "depression" (depresi) sehingga menjadi "expression" (ekspresi). Bila kita tidak mengekspresikan apa yang kita rasakan -- apa yang menganggu kita -- dengan cara yang membangun dan memulihkan, sangat sering hasilnya adalah depresi: cara wanita menangis tanpa air mata.

Depresi itu seperti kabut yang mengelilingi Anda, membatasi kemampuan Anda untuk melihat apa yang benar-benar Anda rasakan. Sering kali saat kita depresi, ada sesuatu yang perlu kita lakukan, tetapi kita takut melakukannya.

Beberapa jenis depresi merupakan hal yang wajar. Saat Anda mengalami kehilangan, kemunduran, mimpi buruk, wajar bila Anda mengalami sedikit depresi. Depresi adalah salah satu dari lima tahap normal kesedihan, seperti yang dijelaskan oleh Dr. Elizabeth Kubler-Ross dalam bukunya, "On Death & Dying". Tetapi kebanyakan depresi, apalagi depresi kronis (kecuali karena ketidakseimbangan kimiawi), merupakan suatu tanda bahwa Anda bersembunyi dari sesuatu atau menghindari melakukan sesuatu. Dan sering kali, "sesuatu" itu adalah kemarahan.

Dalam dunia psikologi, ada suatu ungkapan lama: "Depresi adalah kemarahan yang diputarbalikkan." Kurang lebih ungkapan ini benar, tetapi depresi juga bisa jadi merupakan bentuk pemutarbalikan hal lain. Saya tidak mengenal Anda, tetapi ketika saya remaja saya tidak boleh mengungkapkan kemarahan. Dalam keluarga kami, kami tidak mengakui kemarahan yang ada. Saya merasakannya, dalam diri saya sendiri dan dalam diri orang tua serta saudara perempuan saya, tetapi kami tidak mengakuinya. Kami menguncinya di kamar mandi, tempat kemarahan itu menjadi semakin besar.

Saya ingat, ketika remaja saya pernah marah. Saat berjalan ke kamar mandi saya, saya terpeleset oleh ceceran air di lantai yang saudara perempuan saya tinggalkan. Saya mengumpat. Ketika saya melihat ke belakang atas peristiwa itu, saya merasa bahwa kemarahan saya sangatlah masuk akal dan teriakan serta umpatan satu atau dua kata itu sangat berguna. Tetapi hukuman atas pengungkapan kemarahan saya adalah larangan menghadiri pesta dansa yang saya tunggu-tunggu. Ibu saya juga tidak mau berbicara dengan saya sepanjang hari itu. Saya pun belajar menyembunyikan kemarahan saya untuk menghindari penolakan dan hukuman.

Gadis yang baik tidak berbicara seperti itu! Gadis yang baik tidak bertindak agresif. Gadis yang baik tidak memberontak. Gadis yang baik tidak marah kepada orang-orang yang mereka kasihi. Gadis yang baik mau belajar untuk menjadi orang yang menjadi korban, dikasihani. Gadis yang baik mau belajar mengungkapkan kemarahan mereka dengan diam-diam, dengan cara berpura-pura. Gadis yang baik mau tertekan. Gadis yang baik mau dilumpuhkan oleh semua perasaan yang menindas mereka dan rasa bersalah mereka karena menempatkan perasaan itu sebagai hal yang utama.

Bila Anda depresi, periksa dan lihatlah lebih dalam lagi apakah yang Anda rasakan sebenarnya adalah kemarahan. Kemarahan itu alami -- kemarahan adalah cara untuk mengatakan kepada diri Anda sendiri, "Hei, ada yang tidak beres!" Dalam budaya kita, kemarahan dan depresi dianggap "tidak baik". Kita percaya bahwa orang normal harus selalu tenang dan bahagia.

Kita hanya benar-benar depresi ketika kita tidak peduli pada perasaan kita. Bila kita peduli pada perasaan-perasaan kita dan memperlakukannya dengan baik, meskipun itu perasaan sedih, kita berada dalam proses pemulihan yang sangat sehat.

Jangan menyebut diri Anda sendiri atau membiarkan orang lain menyebut Anda sebagai orang yang depresi bila sebenarnya pada waktu itu Anda sedang mengalami perasaan yang sesungguhnya. Saya tidak berbicara tentang berkubang dalam pengasihan akan diri sendiri -- itu merugikan diri sendiri. Saya berbicara tentang mengungkapkan ketakutan dan kemarahan Anda dan menghadapi semuanya itu. Bila Anda merasa depresi, perjelaslah: Apa yang Anda rasakan? Sebutkan. Keluarkan perasaan itu.

Marge mengalami depresi dan tidak tahu apa sebabnya. Dengan pendalaman yang lembut, kami mengungkap bahwa perasaan dia yang sebenarnya adalah kesedihan. Dia sedih atas kenyataan bahwa dia menikah dan suaminya tidak mampu memahami berbagai perasaan dan kebutuhannya. Dia merasa sendirian, frustrasi, dan tidak sehat. Dia menutupi kesedihan dan kesepiannya dengan depresi yang samar-samar karena dia takut bila dia menyuarakan perasaannya yang sebenarnya, suaminya akan meninggalkan dia.

Hasil dari kerja sama kami dalam terapi, dia menemukan apa yang tidak dia dapatkan dalam pernikahan dan dia dapat menemukan cara untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Dia memilih untuk mempertahankan pernikahannya dan berkonsentrasi pada berbagai sisi positif pernikahannya. Dia melepaskan ketergantungannya pada suaminya yang sia-sia -- harapannya bahwa suaminya akan memenuhi semua kebutuhannya. Sebagai gantinya, dia belajar mengoperasikan komputer, membuka bisnis sendiri, mulai membangun hubungan baru, berhubungan kembali dengan teman-temannya yang sudah lama ditinggalkannya. Depresi yang dialami Marge merupakan suatu petunjuk berharga bahwa dia menutupi perasaan-perasaan yang penting dan membatasi hidupnya.

Sulit bagi kita untuk menerima luapan kemarahan orang lain. Itulah salah satu alasan mengapa sangat penting bagi kita untuk belajar berhenti menutupi kemarahan, mengenggamnya sampai kemarahan itu menjadi depresi yang merusak diri sendiri atau menjadi ledakan yang tak terkendali. Menghantam pasangan atau memukul anjing bukanlah tindakan yang membangun, tetapi memukul karung tinju, memukul tempat tidur Anda, atau bermain permainan yang agresif, "squash" misalnya, adalah tindakan yang membangun.

Bila Anda tidak memberi kesempatan kepada diri Anda sendiri untuk peduli pada perasaan Anda, bagaimana Anda dapat mengekspresikannya? Sekali lagi:

  1. Sadarilah apa yang ada di balik perasaan depresi Anda.

  2. Kenalilah hal itu dalam diri Anda dan pada orang lain. Ungkapkan itu dengan cara yang membangun. Berteriak di jalan bebas hambatan tidak akan melukai Anda atau orang yang membuat Anda depresi.

  3. Terimalah kemarahan, ketakutan atau perasaan tersembunyi apa saja yang Anda rasakan. Anda adalah manusia; karena itu Anda akan memiliki seluruh perasaan manusia, tidak peduli apakah Anda mau menerimanya atau tidak.

Ketika Anda menggabungkan ketiga kunci ini dalam hidup Anda, topeng ketakutan perlahan-lahan akan hilang. (t/Ratri)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Courage To Be Yourself
Judul asli artikel : Depression
Penulis : Sue Patton Thoele
Penerbit : Pyramid Press, Inc., California 1988
Halaman : 48 -- 52
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar