Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Di Mana Pun Berada, Seorang Istri Kristen Berkewajiban Memuliakan Allah

Ada pepatah kuno yang kini jarang kita dengar: "Kemurahan hati bermula di rumah." Pepatah ini merupakan nasihat yang bagus bagi kita, para istri.

Ranjang Pernikahan

Mari kita memulainya dari ranjang. Lingkup pernikahan merupakan hal yang penting bagi semua pernikahan Kristen yang baik. 1 Korintus 7:3-5 memberikan nasihat yang terbaik.

"Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak."

Sikap antusias dan sepenuh hati akan meyakinkan suami kita bahwa kasih kita bagi mereka adalah sungguh-sungguh. Peringatan untuk tidak mementingkan diri sendiri tidak boleh diremehkan. Kesatuan fisik ditahbiskan oleh Tuhan sebagai anugerah bersama yang Allah berikan kepada setiap pasangan; memecah kesatuan itu akan berujung pada godaan yang tidak perlu terjadi.

Yang tidak benar adalah bila kita memandang seks seperti dunia memandangnya. Seks bukanlah sebuah mainan. Tuhan memberikan seks agar bermanfaat bagi setiap pasangan. Seks harus dipandang dengan tanggung jawab, dengan selalu mengingat tujuannya yang ditahbiskan oleh Tuhan, yakni untuk menghasilkan keturunan. Hal ini harus menjadi perhatian pasangan Kristen. Perintah di Kejadian untuk beranak cucu dan bertambah banyak dan memenuhi bumi harus dilakukan oleh semua pasangan dalam seluruh generasi. Generasi modern ini, yang mudah sekali mendapatkan alat kontrasepsi, cenderung melupakan hal ini.

Banyak pasangan Kristen yang menunda memiliki anak tanpa alasan yang jelas selain untuk kenyamanan mereka sendiri. Saat mereka merasa bahwa saatnya tepat bagi mereka untuk memiliki anak, si istri telah berusia 35-an tahun. Pada usia tersebut, sering kali tingkat kesuburan telah menurun dan kehamilan sudah sulit terjadi. Beberapa pasangan terlambat menyadari bahwa mereka telah membuang kesempatan untuk memiliki anak. Bertindak dengan penuh tanggung jawab dalam hal ini adalah sesuatu hal yang penting. Ibrani 13:4 memberikan batasan yang jelas tentang kegiatan seksual: "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah."

Makanan Jasmani

Hal penting lain di mana seorang istri harus menghormati Allah adalah saat ia berbelanja. Uang benar-benar milik Allah dan Dia mengizinkan kita memakainya untuk memenuhi semua kebutuhan. Belanja harus dilakukan dengan bijaksana, ingatlah hal-hal yang dibutuhkan dan disukai oleh suami Anda. Adalah baik untuk memiliki persediaan makanan kalau-kalau ada tamu yang mendadak datang sehingga kita bisa menaati perintah Injil untuk bermurah hati. Penghasilan yang pas-pasan tidak berarti membuat kita tidak bisa bermurah hati, karena kita diajarkan untuk bermurah hati kepada orang lain tanpa bersungut-sungut. Kita diajarkan untuk menghibur orang asing, dan Lukas mengajarkan kepada kita untuk mengundang orang-orang yang miskin dan yang membutuhkan. Banyak makanan buatan rumah yang bisa disiapkan untuk sejumlah orang dengan biaya lebih murah daripada biaya makan untuk dua orang. Perencanaan dan belanja yang cermat akan membuat Anda dapat melakukan banyak hal dengan sedikit pengeluaran.

Dapur adalah tempat lain di mana istri harus menghormati Allah. Pertimbangan yang matang tentang menu-menu yang mengandung nutrisi untuk keluarga adalah hal yang penting. Waktu yang dihabiskan untuk mencari resep-resep makanan yang baik dan lezat akan menjadi waktu yang berguna. Istri yang mengatakan, "Saya bukan orang yang pandai memasak," menyiratkan kurangnya ketekunan untuk melakukan tugas yang akan mengasilkan sesuatu yang baik.

Memenangkan Suami Anda

Seorang wanita mungkin menjadi pengikut Kristus setelah menikah, dan suaminya tidak menerima imannya kepada Kristus serta masih menjadi orang yang tak percaya. Bagaimana orang percaya baru menghormati Tuhan di dalam dan di luar rumah? Jawabannya ada di 1 Petrus 2:25 hingga 3:1-4.

"Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu. Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka itu. Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah."

Orang Kristen baru sering kali mencoba mengajak suaminya untuk percaya kepada Kristus. Seorang istri dapat memenangkan suaminya bukan dengan perkataan, melainkan melalui perilakunya yang ilahi. Hal ini terutama menunjuk kepada perilakunya di rumah. Dia memiliki hak istimewa untuk menjadi saksi Kristus yang setia dengan menunjukkan kelembutan yang baru terhadap suaminya; rohnya yang lembut dan tenang, dibarengi dengan tindakan-tindakan yang sesuai terhadap suaminya, akan membuat suaminya melihat realitas pekerjaan istrinya dan dengan sendirinya membuatnya tertarik untuk mengikut Kristus. Beberapa petobat baru segera berpikir bahwa mereka harus memberikan setengah hidup mereka di gereja dan terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan di gereja.

Tidaklah bijaksana bagi seorang wanita yang suaminya belum bertobat untuk banyak terlibat di gereja. Hal tersebut justru akan semakin membuat suaminya jauh dari Kristus. Suami Anda harus menjadi pertimbangan yang utama, tidak peduli seberapa lama dia membutuhkan waktu untuk bisa menjadi pengikut Kristus. Pekalah terhadap kebutuhannya dan jangan abaikan dia. Mulailah tunduk kepadanya karena sekarang Anda sudah menjadi milik Allah. Dia harus dihormati sebagai suami Anda, meskipun dia belum menjadi orang percaya. Mintalah izin darinya untuk waktu yang akan Anda gunakan di gereja; dengan sendirinya dia akan tahu bahwa Anda ingin hadir secara rutin di tempat persekutuan karena sekarang Anda adalah orang percaya. Sebelum Anda bertanya kepada suami Anda tentang masalah-masalah gereja, cobalah terlebih dahulu meminta kepada Tuhan untuk membimbing suami Anda dalam mengambil keputusan, kemudian terimalah ide-ide suami Anda dengan ucapan syukur. Inilah cara untuk menghormati Tuhan. Merasa diri lebih baik dari suami karena Anda sekarang adalah orang Kristen dan merasa bahwa Anda bisa menilai segala sesuatu sendiri tanpa suami Anda adalah hal yang tidak sesuai dengan yang firman Tuhan. Ketaatan Anda adalah kepada Tuhan. Dia yang memberi Anda suami dan Anda adalah penolong yang sepadan baginya, khususnya karena sekarang Anda telah mendapatkan anugerah keselamatan. 1 Petrus 3:1-6 menjelaskan hal ini.

Dandanan yang Ilahi

Alkitab sangat jelas mengatakan bagaimana seorang istri harus berperilaku di gereja. 1 Petrus berlaku di gereja dan di tempat-tempat lainnya. Tuhan dihormati melalui roh istri yang lembut dan tenang di gerejanya. Ini juga ditegaskan dalam surat penggembalaan -- para wanita hendaknya berpakaian yang sederhana dan sopan. Pakaian yang aneh tidak tepat untuk istri yang taat, demikian pula dengan perhiasan yang terlalu banyak atau yang terkesan sengaja dipamerkan. 1 Timotius 2:13-15 mengatakan, "Seorang wanita harus belajar dalam ketenangan dan penuh ketundukan." Wanita tidak memiliki kuasa atas laki-laki. Mengapa?

"Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuanlah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman, kasih, dan kekudusan dengan segala kesederhanaan."

Tuhan memahami posisi wanita dan Dia telah merancang tanggung jawab yang sesuai bagi kita di gereja. Pria bertugas memimpin. Tuhan juga mengerti betapa rapuhnya seorang istri selama masa-masa mengandung dan melahirkan, dan janji-Nya, dengan beberapa syarat, harus diterapkan selama masa mengasuh keluarga. Ingat, Titus 2:4 mengatakan kepada kita bahwa wanita yang lebih tua harus mendukung dan melatih wanita yang lebih muda selama masa itu.

Wanita di Dunia Kerja

Sekarang ini banyak wanita yang terjun ke dunia kerja, beberapa sebelum melahirkan anak dan beberapa setelah melahirkan anak. Istri yang menghormati Allah akan meminta pendapat suaminya tentang apa yang suaminya pikir baik baginya. Beberapa istri menjadi sangat kelelahan karena bekerja sepanjang hari dan harus mengerjakan pekerjaan rumah. Tuhan memberikan tanggung jawab kepada suami dan istri atas pilihan-pilihan yang mereka buat di dunia kerja di luar rumah. Tanggung jawab utama seorang istri adalah suaminya, kemudian anak-anaknya. Tidak seorang pun yang bisa mengerjakan peran ini selain ia sendiri. Sikap cinta uang mendorong beberapa wanita mencari pekerjaan saat mereka seharusnya mengabdikan diri pada kegiatan-kegiatan yang memuliakan Tuhan. Bila istri bekerja penuh waktu, hampir tidak mungkin baginya untuk mengatur dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah Tuhan rencanakan baginya. Bila kita tidak berhati-hati, masyarakat kita yang matrealistis bisa dengan mudah membawa kita kepada hal-hal yang berbahaya.

Saya memiliki seorang teman yang masih muda dan lajang. Dia mengamati seorang wanita yang telah menikah yang bekerja dengannya. Dia menceritakan kepada saya tentang seorang wanita yang memikirkan pekerjaannya, membicarakan pekerjaannya, dan mengatur segala sesuatu tentang pekerjaannya. Suaminya jarang dia perhatikan. Dia mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa istri dan suami adalah "satu daging".

Salah satu teladan favorit dalam hal istri yang taat adalah almarhumah Bethan Lyoyd-Jones, istri Dr. Martyn Lloyd-Jones. Mereka berdua adalah pasangan muda yang cerdas. Bethan adalah seorang dokter yang berkualitas di London. Suaminya adalah seorang dokter terkemuka di London. Martyn menerima panggilan Tuhan untuk melakukan pelayanan. Mereka mematuhi panggilan itu. Mereka dipanggil untuk melayani dalam suatu wilayah di daerah South Wales, di mana banyak pria di sana adalah penambang. Pendapatan mereka menurun drastis, tetapi Bethan tidak mencoba untuk bekerja; dia tahu suaminya membutuhkannya di rumah sehingga dia merawat anak-anak mereka. Menjelang akhir pelayanan panjang mereka yang berujung di London, dia mengatakan bahwa tugasnya adalah "menjaga agar suaminya tetap di atas mimbar". Mereka berdua percaya bahwa pengabaran Injil membutuhkan kemampuan terbaik mereka dan itulah cara Tuhan menuntun mereka.

Belajar Patuh

Berkenaan dengan perilaku istri di mana pun mereka berada, sosok Sara, istri Abraham, adalah teladan yang tepat. Abraham berasal dari keluarga yang kaya dan berpengaruh di Kaldesi. Mereka menjalani hari-harinya dengan penuh kenyamanan. Tuhan memanggil mereka untuk pergi ke suatu tempat yang asing. Itu berarti, mereka harus meninggalkan semua kenyamanan tersebut dan menjadi pengembara. Kita tidak mendengar Sara mengeluh atau tidak mau pergi. Setelah mapan di Haran, kemudian mereka harus pindah ke Kanaan. Seperti yang kita ketahui dalam Alkitab, ada banyak orang-orang jahat dan asing yang tinggal di Kanaan. Sara harus menghadapi semua pergolakan itu, namun ia percaya dan menghormati suaminya serta menyebutnya sebagai tuan. Dia adalah wanita yang cantik, tetapi kita tidak pernah menemuinya tidak patuh.

Saya punya seorang teman yang suaminya bekerja di kantor pemerintah. Suaminya ini mendapat tawaran posisi yang lebih baik di daerah lain. Dia sangat tertarik pada tawaran ini, tetapi istrinya tidak mau pindah rumah. Jelas, tindakannya itu membuat suaminya frustrasi, dan kesaksiannya tentang Kristus rusak karena ketidaksediaannya untuk patuh. Siap pindah ke tempat di mana suami Anda akan pindah merupakan sebuah cara yang tepat untuk menunjukkan sikap patuh.

Seorang wanita yang biasanya menghormati suaminya mungkin tergoda untuk menunjukkan sikap tidak hormat di antara teman-temannya atau kerabatnya. Ketika para wanita mengobrol dan obrolan itu mulai "panas", sangatlah mungkin untuk mengatakan hal-hal yang mungkin akan disesali. "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya" (1 Petrus 5:8).

Sakit keras di rumah, kapan pun itu terjadi dalam hidup ini, bisa jadi sangat sulit dihadapi. Tuhan memberikan anugerah saat kita memintanya, dan sakit keras di rumah bisa Allah gunakan sebagai saksi yang berkuasa akan anugerah-Nya yang besar. Suami saya merawat seorang wanita yang sakit kanker. Wanita ini adalah orang percaya, tetapi ia jauh dari Tuhan. Dia dan suaminya, bersama-sama dengan anak-anak perempuannya yang berusia remaja, benar-benar menerima anugerah yang sejati saat ia menderita sakit. John, bersama anak perempuan wanita itu, berada di tempat tidur di mana wanita itu berbaring. Kemenangan iman jelas terjadi. Setelah ia meninggal, anak perempuannya berkata, "Ibuku telah bersama Tuhan selama 5 menit, dan wajahnya, yang masih basah oleh air mata, berseri-seri!"

Ada banyak kesempatan -- baik di dalam maupun luar rumah -- bagi istri Kristen untuk memuliakan Tuhan melalui pendekatannya yang ilahi kepada suaminya. "Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya." (Efesus 5:33) (t/Ratri)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : The Hayletts
Judul asli artikel : Where The Christian Wife Is To Honour The Lord
Penulis : Phyllis Mercer
Alamat URL : http://www.hayletts.net/fm/fm09_wife.html
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar