Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Kejahatan Terselubung

Cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Kita harus mengamini firman Tuhan ini karena faktanya banyak terjadi perampokan, penipuan, manipulasi, pencurian, korupsi, dan perbuatan lain yang dapat disebut sebagai kejahatan karena masalah uang. Sering kali perbuatan melawan hukum yang kelihatan oleh mata saja yang kita sebut sebagai kejahatan. Padahal penyelewengan Amanat Agung, rentenir (membungakan uang), tidak memberi perpuluhan, dan kikir juga termasuk kejahatan. Inilah yang disebut kejahatan terselubung.

Mengapa disebut kejahatan terselubung? Karena perbuatan jenis tersebut seolah-olah tidak merugikan orang lain, cara kerjanya pelan-pelan, serta tidak tampak oleh mata. Apa yang dimaksud dengan penyelewengan Amanat Agung? Dalam Matius 28:19-20, Yesus menyuruh murid-murid-Nya pergi memberitakan Injil, mengajar, menjadikan semua bangsa murid Yesus, dan sekaligus membaptisnya. Bertolak dari firman Tuhan ini, kita sebagai orang percaya yang adalah murid Yesus, memiliki tugas menjalankan Amanat Agung tersebut.

Puji Tuhan bila tugas Amanat Agung tersebut dilaksanakan dalam dan dengan motivasi yang murni untuk menobatkan orang-orang berdosa. Bagaimana bila dilakukan dalam dan dengan motivasi untuk mengeruk keuntungan pribadi alias untuk mencari uang? Apakah ada perilaku yang seperti ini dalam diri murid-murid Yesus zaman sekarang? Jawabnya: Ada! Secara nyata jawaban ini tidak dapat dibuktikan, sebab siapakah yang mau mengakui dirinya ingin mencari uang dalam pelayanannya? Namun, dari sungut-sungut para murid Yesus zaman sekarang, dapat didengar dan diketahui bahwa banyak di antara mereka melayani hanya untuk mendapatkan uang.

1. Jangan Memanfaatkan Pelayanan sebagai Sarana Mencari Uang

Ada pelayan yang nekat mencalonkan diri sendiri untuk diangkat menjadi Pendeta Pembantu (Pdp.), Pendeta Muda (Pdm.), dan Pendeta(Pdt.). Ada juga yang mencalonkan diri untuk posisi teratas di tubuh organisasi gereja, dengan harapan punya nama untuk diundang naik mimbar. Dalam pikiran, mereka bila naik mimbar menyampaikan khotbah, maka salam tempelnya adalah uang. Ada lagi yang berlomba-lomba mencari pelayanan di rumah-rumah orang kaya dan gereja-gereja besar. Bahkan, dalam perlombaan ini, tidak jarang terjadi kecurangan. Bila dalam pertemuan biasa/sehari-hari, mereka mau bergandeng tangan, tetapi bila melayani, tidak mau melibatkan orang lain. Alasannya takut tersaingi, takut dicaplok. Jangan jadikan pelayanan sebagai ajang untuk mencari uang, sebab itu merupakan kejahatan terselubung.

2. Jangan Membungakan Uang

Firman Tuhan dalam Imamat 25:36-37, melarang umat-Nya mengambil "bunga" dari pinjaman orang lain. Pekerjaan yang cepat menghasilkan uang tanpa bekerja keras adalah membungakan uang atau istilah karenanya rentenir. Banyak orang Kristen yang menekuni profesi rentenir ini, tidak jelas apakah mereka mengetahui bahwa pekerjaan ini tidak diperbolehkan menurut ajaran Kristen. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian rentenir ialah pelepas uang, tukang riba, lintah darat. Kita semua tahu bahwa lintah adalah sejenis binatang kecil yang banyak hidup di rawa atau air berlumpur. Makanan lintah adalah darah. Lintah ini menempel di kulit manusia sambil mengisap darah dari tubuh orang tersebut. Sebelum kenyang, lintah ini tidak dapat dilepaskan. Ia akan terlepas sendiri setelah puas dan kenyang menghisap darah.

Mungkin persamaan inilah yang menjadikan rentenir disebut sebagai lintah darat, sebab tidak jarang bunga yang dikenakan kepada si peminjam sangat tinggi, sehingga melilit leher si peminjam. Karena tingginya bunga uang tersebut, akhirnya bunganya lebih besar dari pinjaman. Lebih parah lagi bila si peminjam tidak sanggup mengembalikan bunga dan modal, maka si rentenir tidak segan-segan menyita barang-barang si peminjam, yang pada akhirnya menimbulkan sakit hati bagi si peminjam. Bila sakit hati ini berkepanjangan, setan pun merajalela, akhirnya ia nekat mencabut nyawa si rentenir. Tragis memang. Ini juga disebut sebagai kejahatan terselubung.

3. Perpuluhan Itu Milik Tuhan

Banyak orang Kristen tidak mengetahui bahwa sepersepuluh dari pendapatannya adalah menjadi bagian Tuhan (Maleakhi 3:8). Memang, Pendeta maupun gereja tidak memaksa dan menghukum orang yang tidak memberikan persepuluhan.

4. Jangan Bersikap Kikir

Allah tidak menghendaki orang yang kikir. Itulah sebabnya, orang kikir tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah (1 Korintus 6:10). Lantas di mana bagiannya? Tentu saja neraka, sebab pada kesudahan zaman hanya ada dua tempat, yaitu Kerajaan Allah dan kerajaan setan di neraka. Neraka adalah tempat menampung segala dosa dan kejahatan. Apakah kita masih bertahan dengan sifat kikir? Jika tidak ingin mendapat bagian di neraka, lebih baik mengubah sifat menjadi pemurah (suka memberi).

Orang-orang Kristen yang menjadi pengikut dan murid Tuhan Yesus, waspadalah terhadap segala sifat dan tindak tandukmu. Introspeksi diri dengan jujur dan rendah hati. Adakah pelayananku berkenan di hadapan Tuhan? Adakah sifat-sifatku masuk kategori kejahatan terselubung? Mungkin pada mulanya motivasi dan sifat kita murni untuk melayani dan menjalankan panggilan. Namun di tengah jalan, iblis yang licik berbisik merdu menyelewengkan motivasi itu.

Bila tidak peka terhadap suara Roh Kudus, maka terjeratlah kita dalam perangkap iblis. Dengan liciknya iblis memoles pelayanan kita, yang di lihat dari luar begitu setia dan bersemangat, namun di dalam menyimpan niat mencari kepuasan diri. Pulang dari pelayanan bukannya menghitung dan melapor kepada Tuhan berapa jiwa yang bertobat dalam pelayananku, tetapi berapa banyak lembaran rupiah, pakaian, makanan, dan lain sebagainya yang kudapat. Singkapkan selubung kejahatan itu, agar tersedia tempat bagimu dalam kerajaan Allah. Jangan coba untuk mencintai uang, sebab dari situlah akar dari kejahatan terselubung itu.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul majalah : Pukat, Tahun XIV, Edisi Januari - Februari 1996
Penulis : Naomi
Penerbit : GBI Mawar Saron, Jakarta 1996
Halaman : 5 -- 6
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar