Laki-Laki dan Perempuan

"Allah menciptakan manusia itu menurut gambar Allah diciptakan-Nya: laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka," kata penulis Kitab Kejadian. Menurut legenda Yunani, adalah Zeus yang pertama-tama menciptakan makhluk tanpa jenis kelamin. Kemudian, dalam kemarahan ilahinya, ia membagi makhluk ini menjadi laki-laki dan perempuan. Pembagian manusia ke dalam dua jenis kelamin ini, dipahami sebagai suatu keadaan yang tidak sempurna, suatu kekuatan manusia yang semakin melemah karena kedua jenis kelamin itu berjalan di dua jalur yang saling bertentangan.

Namun, Kitab Kejadian menyatakan hal yang bertentangan dengan pandangan ini, dan menyatakan bahwa manusia -- laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang sudah direncanakan untuk diciptakan Allah. Kita justru diciptakan sebagai makhluk seksual, tetapi suatu bagian esensi dari menjadi manusia, memiliki citra Allah.

Sebagian besar orang Kristen setuju bahwa sifat Allah melewati batas seksualitas. Itulah yang diketengahkan oleh June Osborne, diaken Gereja St Matin's in the Bullring, Birmingham, Inggris, bahwa Allah tidak mengemban seksualitas laki-laki atau perempuan. Akan tetapi, dalam upaya untuk menjelaskan siapakah Allah itu, Alkitab sering menggunakan baik citra maskulin (bapa, gembala, raja) dan citra feminin (ibu, induk ayam). Dan dengan demikian, hal itu meneguhkan bahwa kedua jenis kelamin tersebut memiliki tugas untuk merefleksikan citra Allah.

June menegaskan, bahwa pandangan ini kadang-kadang dihindari oleh gereja Kristen dan yang ada dalam pikiran kebanyakan orang ialah pemahaman bahwa Allah yang berorientasi pada laki-laki. Namun, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa citra Allah tidaklah unik untuk satu jenis kelamin saja, lebih pada laki-laki dan perempuan bersama-sama menanggung tanggung jawab tersebut.

Laki-laki dan perempuan direncanakan untuk hidup dalam dunia Allah sedemikian rupa, sehingga kita memperlihatkan jejak dari sifat-Nya. Bagaimana seksualitas kita menolong kita untuk melakukan hal ini?

Hidup Sebagai Laki-Laki atau Perempuan

June menjabarkan bahwa seksualitas kita mengekspresikan bahwa kita adalah manusia, bukan binatang. Binatang berbagi dengan kita perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan; seksualitas manusia menembus setiap sudut dari keberadaan kita. Seksualitas kita memengaruhi naluri, jiwa, dan identitas kita.

Ilmu pengetahuan mengatakan kepada kita bahwa kita memperoleh seksualitas kita dalam suatu cara yang kompleks, sebagian melalui watak kita dan sebagian lagi melalui peran-peran yang kita harapkan dari anak-anak kita. Pengajaran kristiani sejalan dengan hal ini.

Dengan kata lain, seksualitas kita tidak dapat dihapuskan atau diberikan kepada kita. Di pihak lain, seksualitas kita merupakan suatu perjalanan, dengan mencoba menemukan apa artinya bagi kita menjadi pola Allah sebagai laki-laki dan perempuan. Adalah panggilan Allah bagi setiap manusia untuk mengeksplorasi apa yang sudah diciptakan-Nya bagi kita. Respons setiap orang terhadap panggilan tersebut tergantung pada kepribadian, latar belakang, masyarakat, dan kulturnya.

Mungkin juga, seperti yang dipercaya sementara kalangan Kristen, perbedaan fisik kita merupakan suatu sinyal yang kelihatan untuk suatu perbedaan fisik dan spiritual yang lebih maksimal, namun Alkitab tidak secara tersirat mengajarkan hal itu. Apa yang sangat jelas dalam pengajaran Alkitab ialah bahwa seksualitas itu baik. Seksualitas diberikan oleh Allah kepada kita untuk dinikmati. Kidung Agung Salomo dalam Perjanjian Lama merupakan suatu ekspresi cinta erotis yang indah, tanpa rasa bersalah dan rasa malu, dan menggemakan gambaran ciptaan Adam dan Hawa yang "telanjang,... tetapi mereka tidak merasa malu".

Ada orang Kristen yang menekankan bahwa tujuan utama dari seksualitas kita ialah memiliki anak. Namun, kisah penciptaan menurut Alkitab tidak mengajarkan hal ini. Alasan yang mereka berikan untuk seksualitas ialah bahwa kita harus menjalinnya dalam suatu hubungan satu sama lain.

Hidup dalam Hubungan

Allah sendiri bersifat pribadi: Ia memberikan diri-Nya kepada kita dalam hubungan. Dan itulah yang diinginkan-Nya dari kita. Ia tidak ingin Adam hidup sendiri. Tanpa ketergantungan satu sama lain, kita tidak akan pernah menjadi manusia yang utuh.

Hubungan harus didasarkan pada kasih yang saling memberi, saling memuji, saling menghormati, penerimaan, dan pertumbuhan. Ini dilihat dalam suatu cara yang istimewa dalam ikatan pernikahan, tetapi tidak terbatas hanya pada hal itu. Akan tetapi, orang Kristen percaya bahwa ekspresi yang tepat untuk sifat seksual kita ialah selalu terjalin dalam hubungan antarpribadi.

Dasar dari hubungan itu adalah kemitraan. Allah memerintahkan Adam dan Hawa berfungsi sebagai mitra. Yesus memperlakukan laki-laki dan perempuan sama sebagai mitra-Nya dalam misi. Laki-laki dan perempuan bersama yang pertama-tama menyebarkan kabar Injil.

Ketika satu jenis kelamin ditindas oleh jenis kelamin yang lain, hal itu merefleksikan suatu kondisi kemanusiaan yang rusak. Konflik antarseks merupakan buah dari pemisahan manusia dari Allah. Namun, di dalam Yesus Kristus, hubungan laki-laki/perempuan memiliki potensi untuk dipulihkan kepada cita-cita Allah yang semula. Tidak ada laki-laki dan perempuan, karena Anda semua satu di dalam Yesus Kristus, tulis Paulus.

Diambil dari:

Judul majalah : Kalam Hidup, Mei 2005
Judul artikel : Laki-laki dan Perempuan
Penulis : Wane
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 38 -- 40
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar