Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Melawan Konsumerisme

Orang yang mengenakan sepatu tenis terbaru tampak lebih modern dan lebih gembira. Seseorang belum terlihat keren jika tidak mengenakan pakaian dari merk ternama. Produk-produk kecantikan membuat orang-orang lebih menawan.

Apakah anak-anak Anda mencerna pesan-pesan semacam ini sebagai bagian dari makanan sehari-hari mereka?

Sering kali, iklan dirancang untuk menggoda konsumen untuk membelanjakan uang, menarik orang-orang ke dalam pola pikir materialistis dan mengkritik diri sendiri.

"Pengiklan menghabiskan 6 miliar dollar setahun pada produk-produk pemasaran," kata Dr. Jean Kilbourne, "dan kita adalah produk mereka." Dalam halama-halaman jurnal perdagangan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia industri, jaringan populer MTV menawarkan kepada orang-orang yang membeli tayangan mereka, sebuah kesempatan untuk mempengaruhi pemirsa yang, sesumbar mereka, akan melakukan apa pun yang dikatakan oleh jaringan televisi tersebut. Majalah diarahkan kepada gadis-gadis muda dengan sering kali mengedepankan artikel tentang pentingnya menjadi langsing yang diletakkan di samping iklan untuk produk penurun berat badan. Bukan sebuah kebetulan.

Iklan, baik iklan majalah maupun baliho di jalan, secara terus-menerus mengatakan kepada orang-orang muda bagaimana mereka seharusnya terlihat, berpakaian, dan menghabiskan uang mereka.

Akan tetapi, efek buruk dari iklan tidak hanya menembus uang saku. "Jauh di dalam, aku masih ingin jadi supermodel," tulis seorang model muda tentang cita-citanya. "Selama mereka ada di sana, berteriak padaku dari televisi, menatapku dari majalah, aku terjebak dalam perangkap model. Aku membenci mereka terlebih dahulu. Kemudian tumbuh seperti mereka. Mencintai mereka. Meniru mereka. Mati dengan menjadi seperti mereka. Semuanya, sementara aku berdoa siklus ini akan berakhir."

Karena anak-anak terekspos dengan rata-rata 20.000 iklan di televisi setiap tahun, sangat penting bagi orang tua untuk mengajar mereka memahami pesan sesungguhnya di balik gambar-gambar iklan di Madison Avenue (sebuah pojok jalan di New York, Amerika Serikat, yang terkenal dengan papan iklan-nya untuk produk-produk ternama - red.). Ketika orang-orang muda menyadari bahwa para pembuat iklan mencari keuntungan dengan membuat mereka merasa tidak nyaman dan tidak puas dengan kenyataan, mereka dapat menghadapi pesan-pesan media yang merusak dengan kebenaran yang sungguh menohok.

Sementara iklan-iklan di lembaran mengkilap mengajarkan motos-mitos modern seperti, "Kebebasan adalah jalan menuju pencerahan", "Uang versus kebebasan", dan "Memiliki materi akan membuatmu bahagia", Alkitab menawarkan sebuah pesan bertolak belakang yang tidak akan berakhir saat dunia mode telah berakhir.

Rasul Paulus, yang tidak asing dengan kemewahan dan kekayaan serta kejamnya kemiskinan, yang mengalami persaudaraan dan pencabutan hak, dan yang dulunya tidak mengenal Tuhan tetapi kemudian menjadi seorang Kristen, menawarkan pesan tajam untuk masyarakat konsumen kita.

Sadari perbedaan antara kebijaksanaan Paulus dan kebijakan para pengiklan dalam tayangan di televisi. Misalnya, iklan mobil mempromosikan gagasan bahwa barang mahal bisa menghibur dan melindungi orang: Sebuah mobil mewah meluncur di trotoar di tengah hujan. Penumpangnya terlindung dengan nyaman oleh daya tahan dan kekuatan mobil. Suara yang menenangkan, menyatakannya dengan sederhana, "... sebuah mobil yang akan menyelamatkan jiwa Anda."

Akan tetapi, Paulus mengantarkan pesan yang berbeda. "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6-8) Ia menulis: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."(Filipi 4:19)

Dengan mempermainkan sifat kegelisahan dalam masyarakat, iklan kartu kredit berikut meyakinkan pemirsa bahwa uang dapat membuat kehidupan membosankan menjadi lebih memuaskan: Seorang pasangan muda yang baru menikah telah melupakan ulang tahun pernikahan pertamanya. Pada menit terakhir, sang suami menelpon agen perjalanan dan memesan tiket untuk sebuah perjalanan eksotis: melihat burung-burung Asia. Tentu, ia membayar tagihan dengan kartu kredit. Seorang penyiar meyakinkan pemirsa bahwa kartu kredit akan berada, "di mana pun Anda inginkan."

Akan tetapi, Paulus mendapati bahwa di sepanjang hidupnya yang memiliki banyak keinginan, uang bukanlah rahasia kepuasan. "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangann. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:12-13)

Iklan pertelevisian berikut ini menyiarkan pesan yang menganggap kepemilikan material dapat membuat anak muda memiliki banyak teman. Sebuah kelompok remaja berpakaian keren menari di tengah irama band yang menghentak. Mereka semua tampak menawan dan gembira. Meski iklan ini tidak mengetengahkan suara apa pun, pesannya muncul dengan sangat keras dan jelas: pakailah pakaian-pakaian ini dan kamu akan memiliki banyak teman yang menyenangkan.

Paulus menulis dengan sesungghnya tentang sifat temporal harta benda, "Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." (1 Tim. 6:7-9)

Untuk menghadapi iklan-iklan semacam ini, Paulus mengarahkan orang-orang muda pada kepuasan yang sejati. Kebutuhan akan cinta dan penerimaan dapat dikatakan sebagai pendorong terkuat manusia, dan hanya Tuhan yang dapat memuaskannya di saat yang lain tidak dapat. Dia mengasihi tanpa batas dan menerima tanpa menahan diri. Ketika orang-orang muda memahami hal ini, mereka tidak akan tertarik pada penggantinya yang bersifat duniawi. Cinta tanpa syarat adalah hadiah yang tak ternilai, dan tidak bisa dibeli dengan uang.(t/N.Risanti)

Diterjemahkan dan disesuaikan dari:

Nama situs : Power to Change
Alamat URL : http://powertochange.com/discover/life/consumerism/
Judul asli artikel : Countering Counsumerism
Penulis artikel : Tonya Stoneman
Tanggal akses : 25 Oktober 2013
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar