Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Pendidikan Perempuan

Diringkas oleh: S. Setyawati

Karya tulis Daniel Defoe yang berjudul "Pendidikan Kaum Wanita" adalah salah satu karya yang memberi inspirasi bagi pendidikan perempuan. Defoe membuat tulisan ini pada tahun 1719 sebagai teguran terhadap negara dan kelompok yang tidak banyak memberi perhatian tentang pendidikan bagi perempuan.

Setelah revolusi feminis [gerakan yang menuntut penghapusan hambatan-hambatan hukum dalam kesetaraan gender, ketidakadilan de facto, ketidakadilan dalam hukum, seksualitas, keluarga, tempat kerja, dan hak-hak reproduksi - Red.], jumlah perempuan yang bergelar sarjana semakin banyak dibandingkan laki-laki, "ayah rumah tangga" semakin banyak, dan banyak perempuan yang masuk ke "area" mata kuliah dan pekerjaan laki-laki seperti dunia teknik. Gerakan ini sepertinya membela para wanita terdidik, tetapi sebenarnya mengabaikan pola Kitab Suci bagi wanita.

Meskipun dalam kekristenan konservatif ada beberapa reaksi berlebihan terhadap feminisme, tetapi Russell Moore, seorang teolog sekaligus pemimpin Southern Baptist Ethics & Religious Liberty Commission, mengatakan bahwa wanita Kristen tidak perlu khawatir mengenai apa yang dipikirkan kaum laki-laki tentang mereka, termasuk dalam hal seksual dan pendidikan. Perempuan memiliki hak yang sama, meskipun di beberapa budaya mengharuskan istri untuk tunduk kepada suaminya dalam segala hal. Laki-laki Kristen tetap harus menghargai perempuan sekalipun pendapatnya mungkin bertentangan dengan pendapat mereka. Sebab, secara alkitabiah, wanita yang berpendidikan memiliki hak sosial dan intelektual untuk terlibat dalam percakapan politik, teologis, atau bahkan sepak bola, dengan laki-laki, selama ia melakukannya dalam penundukan kepada suaminya sendiri.

Pemikiran bahwa wanita harus diam di rumah dan mengurus keluarga, pada dasarnya merupakan faktor yang membuat gereja miskin. Wanita perlu dididik, tetapi bukan untuk memberi mereka wewenang atau meningkatkan harga diri mereka atau memampukan mereka mengambil alih pemerintahan. Wanita perlu dididik untuk membekali mereka menjadi penolong sepadan yang kompeten, ibu yang cakap, dan pelayan yang terampil di gereja. Wanita tidak perlu masuk perguruan tinggi agar berguna bagi Kerajaan Allah, tetapi harus menggunakan pikiran yang Allah berikan dengan baik. Entah Anda memiliki gelar Doktor atau tidak tamat SMA, Anda harus terus mengembangkan pikiran Anda.

Seorang wanita yang berpendidikan adalah suatu anugerah bagi suaminya. Matthew Henry mengatakan dalam komentarnya pada kitab Kejadian bahwa Allah membuat wanita dari bagian samping pria untuk memerintah bersamanya. Untuk itu, Anda perlu memahami dunia tempat suami Anda berinteraksi dan pekerjaannya. Defoe meminta "para pria mengambil wanita untuk menjadi pendamping, dan mendidik mereka sesuai dengan peranannya." Seorang suami lebih senang mendiskusikan tentang pekerjaannya, peristiwa-peristiwa dunia, dsb. dengan istrinya daripada mendengarkan cerita tentang banyaknya popok yang bocor.

Seorang wanita yang berpendidikan adalah suatu anugerah bagi anak-anaknya. Dalam dunia "home schooling", saya mendengar para ayah menjelaskan mengapa anak-anak gadis mereka tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Mereka berasumsi bahwa Allah menginginkan anak perempuan mereka menjadi seorang ibu. Padahal, bukan hanya itu.

Apabila Anda ingin membesarkan dan mendidik anak Anda untuk menjadi pendeta, misionaris, dll., Anda perlu memberikan pendidikan yang seharusnya ia peroleh. Hal ini tidak berarti bahwa Anda harus memiliki gelar sarjana, tetapi Anda harus membaca banyak buku, terutama mengenai sejarah gereja dan teologi sehingga Anda dapat membentuk jiwa-jiwa muda tersebut untuk pekerjaan Kerajaan dan kekekalan. Seorang wanita yang tidak memiliki gelar, tetapi memiliki pengetahuan yang baik tentang dunia serta buku-buku alkitabiah dan pemahaman teologis, dapat memberikan pembekalan untuk mempersiapkan anak-anaknya pergi dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus dalam dunia postmodern. Anak-anaknya menjadi sangat diberkati karena ibunya yang berpendidikan.

Pendidikan juga merupakan suatu anugerah bagi wanita itu sendiri. Pasalnya, dengan pendidikan wanita dapat memahami dunia serta mampu mengetahui dan menilai segala sesuatu yang didengarkannya. Amsal 19:8 mengatakan kepada kita bahwa "Siapa memperoleh akal budi, mengasihi dirinya; siapa berpegang pada pengertian, mendapat kebahagiaan." Seorang wanita yang berpendidikan secara teologi akan bertumbuh dalam kekudusan dan hikmat jauh lebih cepat daripada mereka yang mengabaikannya. Defoe juga menambahkan bahwa seorang wanita dikatakan tidak berpendidikan jika ia menyia-nyiakan kemampuan mental yang dikaruniakan Allah. Jika pengetahuan dan pengertian tidak memberikan tambahan yang berarti kepada semua jenis kelamin, Allah yang Mahakuasa tidak akan memberikan kapasitas kepada keduanya4 karena Ia tidak membuat sesuatu yang tidak berguna.

Selain itu, wanita yang berpendidikan adalah anugerah bagi gereja. Kitab Suci dan sejarah gereja didukung dengan contoh-contoh para wanita yang berpendidikan dan bijaksana, yang menggunakan karunia dan kemampuan mereka untuk memberkati gereja. Mereka tidak berusaha menguasai laki-laki [suami], tetapi memerintah di sampingnya, seperti yang dijelaskan Matthew Henry. "Seorang wanita yang berakal dan melahirkan keturunan akan memberikan cemoohan yang mengusik hak istimewa pria sebanyak cemoohan pria yang berakal untuk menindas kelemahan wanita," kata Defoe.

Ketakutan akan feminisme, akan perasaan tidak hormat, atau kurangnya penundukan seharusnya tidak membuat seorang wanita Kristen tidak menggunakan pikirannya. Sebaliknya, rasa takut kalau-kalau tidak menggunakan kemampuan yang telah diberikan Allah, seharusnya memotivasi wanita-wanita Kristen untuk lebih mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap pikiran (Matius 22:37). (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : The Christian Pundit
Alamat URL : http://thechristianpundit.org
Judul asli artikel : The Education of Women
Penulis : Rebecca VanDoodewaard
Tanggal akses : 4 Februari 2014

Download audio

Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 

Komentar