Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Temperamen yang Diubahkan

Terminologi

Temperamen adalah kombinasi pembawaan yang kita warisi dari orang tua kita. Pembawaan ini diwariskan melalui gen. Secara sadar atau pun sering kali tidak sadar, temperamen memengaruhi seluruh aspek tindakan kita. Temperamen yang telah "dibudayakan" melalui pembentukan lingkungan disebut sebagai karakter. Sedangkan kepribadian adalah "sosok" yang kita tampilkan dalam relasi dengan orang lain. Bisa jadi, kepribadian sebagai "sosok" yang kita tampilkan berbeda dengan karakter kita yang sesungguhnya. Hal ini bergantung pada kejujuran kita dalam menampilkan diri.

Dengan mengerti secara sekilas perbedaan antara temperamen, karakter, dan kepribadian, kita mendapati bahwa temperamen adalah "bahan dasar" yang membentuk karakter dan pada akhirnya kepribadian kita.

Teori Empat Temperamen

Teori yang sekarang mungkin paling terkenal berkenaan dengan temperamen adalah teori empat temperamen. Teori empat temperamen pertama kali dikemukakan oleh Hipokrates (460 -- 370 SM). Hipokrates mengemukakan bahwa pada dasarnya manusia terbagi atas empat golongan temperamen : Sanguin, Koleris, Melankolis, dan Flegmatis. Temperamen yang dimiliki oleh seseorang, menurut Hipokrates bergantung pada "cairan" yang ada di dalam tubuhnya: darah, empedu hitam, empedu kuning, dan flegma.

Dalam perkembangannya, pemikiran Hipokrates pertama kali dimunculkan di Eropa oleh seorang filsuf tenar bernama Immanuel Kant pada tahun 1798. Setelah Immanuel Kant, teori empat kepribadian digemakan oleh Dr. W. Wundt, yang mengadakan penelitian saksama tentang hal ini pada tahun 1879. Teori yang sama diadopsi oleh seorang teolog besar Inggris, yaitu Alexander Whyte, untuk menganalisa tokoh-tokoh yang ada di dalam Alkitab. Pemikiran Hipokrates ini kembali dimunculkan pada abad ke-20 oleh tokoh-tokoh seperti Tim Lahaye dan Florence Littauer, dan mengalami "booming", yang mungkin sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Hipokrates.

Mengenal Empat Temperamen

Berikut ini akan dipaparkan karakteristik -- positif maupun negatif -- dari masing-masing temperamen. Daftar ini disusun berdasarkan analisa La Haye dan Littauer.

Beberapa karakteristik positif dari temperamen sanguin adalah: ramah, optimis, impulsif, bersahabat, menyenangkan, mudah terharu, rasa humor yang baik, periang, tulus, ekspresif, penuh rasa ingin tahu, dan baik di panggung. Sementara karakteristik negatifnya adalah: egois, sulit berkonsentrasi, resah, tidak disiplin, mudah patah semangat, emosional, polos, dan labil.

Karakteristik positif dari temperamen koleris adalah: berbakat pemimpin, dinamis, berkemauan kuat, memancarkan keyakinan, visioner, tegas, disiplin. Sisi negatifnya adalah: cepat "panas", dingin (tidak sensitif), sarkastis, tidak simpatik.

Karakteristik positif dari temperamen melankolis adalah: analitis, tekun, artistik, sensitif, idealis, dan teratur. Sedangkan sisi negatifnya adalah: perfeksionis, pesimistis, berprasangka, menyimpan kebencian, dan labil.

Karakteristik positif dari temperamen flegmatis adalah: rendah hati, mudah bergaul, tenang, konsisten, cinta damai, dan efisien. Sementara, karakteristik negatifnya adalah: lamban, pesimistis, keras kepala, kurang motivasi, dan cenderung kurang ekspresif.

Empat jenis temperamen tersebut adalah temperamen dasar yang memengaruhi seseorang. Pada kenyataannya, tidak ada seorang pun yang hanya memunyai satu jenis temperamen. Setidaknya, setiap orang adalah perpaduan yang unik antara dua atau bahkan mungkin tiga jenis temperamen. La Haye mendaftarkan setidaknya ada dua belas perpaduan temperamen, yaitu : San-Kol, San-Mel, San-Fleg, Kol-San, Kol-Mel, Kol-Fleg, Mel-San, Mel-Kol, Mel-Fleg, Fleg-San, Fleg-Kol, dan Fleg-Mel.

Perpaduan antara beberapa jenis temperamen ini tentunya memunyai implikasi yang nyata pada daftar kekuatan atau pun kelemahan seseorang. Satu hal yang mendasar yang menjadi jelas bagi kita adalah bahwa tiap-tiap manusia adalah pribadi yang unik dan tidak ada duanya.

Diubahkan Oleh Kuasa Tuhan

Apabila kita menggunakan teori empat temperamen untuk menganalisa tokoh-tokoh dalam Alkitab, maka kita mendapati satu kenyataan yang menarik.

Kita akan mendapati Petrus si Sanguin, Paulus si Koleris, Musa si Melankolis, dan Abraham si Flegmatis adalah orang-orang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Tuhan telah memakai mereka dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang mereka miliki.

Bagaimana Tuhan bisa memakai mereka menjadi alat untuk kemuliaan-Nya?

Tuhan tidak mengubah temperamen mereka. Tuhan tidak menjadikan mereka "orang lain". Yang Tuhan lakukan adalah mentransformasi temperamen tersebut.

Transformasi temperamen diberikan Tuhan dengan kepenuhan kehadiran Roh-Nya yang kudus. Petrus adalah tetap seorang sanguin, tetapi seorang sanguin yang dipenuhi oleh Roh Allah. Demikian juga dengan Paulus, Musa, dan Abraham.

Masing-masing menjadi pribadi yang optimal dengan temperamen masing-masing oleh karena kehadiran Tuhan di dalam kehidupannya.

Sebagai contohnya, mari kita perhatikan apa yang terjadi dengan Petrus.

Karakteristik Petrus yang sanguin terlihat ketika ia untuk pertama kalinya mendengar panggilan Mesias (Mat. 4:20). Secara spontan, Ia segera berjalan mengikut Yesus. Kecekatannya dalam bertindak juga terlihat ketika ia melihat Yesus berjalan di atas air. Ia berkata, "Suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air" (Mat. 14:28-29). Sifat spontan dari Petrus juga terlihat ketika ia melihat Yesus mengalami transfigurasi. Petrus segera mengusulkan untuk membangun tempat kediaman bagi Elia, Musa, dan Kristus (Mat. 17:1-13). Demikian juga, ketika prajurit-prajurit Romawi menangkap Yesus, Petrus segera menghunuskan pedangnya (Yoh. 18:10).

Salah satu karakteristik sanguin yang jelas terlihat dalam pribadi Petrus adalah kelugasannya dalam berbicara. Ketika para murid bergumul tentang siapakah Yesus, Petrus segera berbicara dengan lugas tentang siapakah Yesus dan Yesus memuji kelugasan Petrus ini (Mat. 16:13-20). Petrus, si sanguin ini adalah "orang panggung" yang selalu tampil dengan spontanitas dan kelugasannya dalam berbicara dan mengambil tindakan.

Sisi negatif dari karakteristik sanguin yang terlihat dalam kehidupan Petrus adalah sifat mudah berubahnya. Penyangkalannya terhadap Yesus hingga tiga kali menunjukkan betapa mudah berubahnya Petrus (Mat. 26:69-70).

Padahal sebelumnya dengan arogan ia menyatakan bahwa meskipun semua murid meninggalkan Yesus, ia akan tetap tinggal (Mat. 26:31). Arogansi Petrus ini muncul dari kecenderungannya yang bergerak ke arah kepentingan diri sendiri atau egoistis (Mat. 19:27).

Tetapi, Petrus pascaturunnya Roh Kudus adalah Petrus yang diubahkan.

Dari hati dan bibir yang labil, telah diubahkan Allah untuk menjadi pengkhotbah besar dengan hasil yang besar pula (Kis. 4:4). Emosi Petrus pun juga mengalami suatu pengubahan yang luar biasa -- dari pribadi yang meledak-ledak menjadi seorang yang tenang dan mampu bersikap bijaksana.

Perhatikan reaksinya ketika ia ditantang oleh para imam untuk tidak memberitakan Yesus Kristus, Petrus dengan sangat tenang dan bijaksana mengatakan, "... Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia ..." (Kis. 5:29). Demikian juga akhir kehidupan Petrus. Petrus bukan lagi seorang yang labil, tetapi dengan mantap ia menghadapi kematiannya di Roma.

Bagaimana Pengubahan Itu Terjadi?

Paulus menyatakan dalam 2 Kor. 5:17, "Jadi siapa dalam Kristus adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Apa yang hendak dikatakan Paulus adalah hadirnya suatu natur baru di dalam diri setiap orang Kristen. Natur illahi dihadirkan Allah di dalam diri setiap orang Kristen. Natur ilahi ini tidak akan melenyapkan temperamen yang ada, tetapi akan memperlengkapi dan mentransformasinya. Bukti kehadiran dari natur ini dijelaskan oleh Paulus dalam Gal. 5:22-23.

Paulus menyatakannya, "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran (tahan menderita, KJV), kemurahan (kelembutan, KJV), kebaikan, kesetiaan (iman, KJV), kelemahlembutan (tidak melawan, KJV), dan penguasaan diri." Seorang sanguin telah dilahirkan dengan rasa kasih, sukacita, dan kebaikan; sehingga Roh Kudus hanya akan memurnikan karakter ini seturut dengan kehendak-Nya. Roh Kudus perlu "memasok" damai sejahtera untuk orang sanguin yang mudah gelisah.

Demikian juga tahan menderita ganti mudah menyerah, kelembutan ganti sikap "grusa-grusu", sikap tidak melawan ganti egoistis, iman ganti rasa takut/kurang aman, dan yang terutama adalah penguasaan diri ganti kurang displin.

Orang koleris yang sudah dilahirkan dengan disiplin, tahan menderita, dan ketekunan, membutuhkan pemurnian oleh kuasa Allah dalam hal-hal tersebut.

Kebutuhan utama yang harus "dipasok" oleh Roh Kudus adalah rasa kasih dan belas kasihan yang akan memungkinkannya lebih sensitif terhadap perasaan orang lain. Demikian juga ia membutuhkan damai sejahtera ganti ketergesaan, kelembutan ganti sikap sarkastis, sikap tidak melawan ganti kecenderungan untuk memberontak, dan iman ganti kepercayaan terhadap diri sendiri.

Seorang melankolis dilahirkan dengan sikap lembut, penguasaan diri, dan tahan menderita. Tinggal bagaimana Roh Allah memaksimalkan karakter bawaan ini. Kebutuhan utama seorang melankolis adalah kasih terhadap diri sendiri dan orang lain sebagai ganti dari sikap perfeksionisnya. Sukacita ganti kecenderungannya yang muram, damai sejahtera ganti kecenderungan sikap mengkritik atau pun menghakimi, serta iman ganti kekhawatiran yang terus menguasainya.

Seorang flegmatis yang dilahirkan dengan kelembutan dan keramahan hanya memerlukan pemenuhan Roh Allah di dalam kehidupannya sehingga karakter tersebut betul-betul menjadi berkat bagi orang lain.

Kebutuhan utama yang harus "dipasok" oleh Roh Allah adalah kasih dan belas kasihan terhadap yang lain. Demikian juga daya tahan ganti kecenderungan cepat menyerah.

Iman ganti segala kekhawatiran yang ada, dan penguasaan diri ganti kecenderungan untuk aman.

Dalam pemenuhan yang terus-menerus oleh Roh Kudus, maka keempat temperamen ini akan menjadi temperamen yang diubahkan (ditransformasikan) oleh Allah.

Pemenuhan ini tentunya menuntut kehidupan yang dipimpin oleh Roh Allah.

Seperti yang dinyatakan oleh Paulus, "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin Roh." (Gal. 5:25)

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama milis : permata-gbkp
Penulis : Wahyu Pramudya
Alamat URL : http://groups.yahoo.com/group/permata-gbkp/message/2882
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar