Artikel

Firman Tuhan memerintahkan suami untuk mengasihi istrinya (Efesus 5:33). Meski tidak dikemukakan secara eksplisit, kita dapat menyimpulkan bahwa dikasihi merupakan kebutuhan wanita yang pokok (sama seperti kebutuhan dihormati bagi para pria). Terpenuhinya kebutuhan ini, sedikit banyak menjamin kehidupan suami istri yang harmonis. Namun, saya pun melihat bahwa kebutuhan untuk dikasihi tidak berlaku untuk relasi pernikahan saja. Pemenuhan kebutuhan ini juga berpengaruh besar pada pertumbuhan anak perempuan menjadi wanita dewasa, dan ternyata peranan ibu dalam proses ini tidaklah dapat disepelekan.

"Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka akan belajar untuk mencintai. Jika anak-anak hidup dengan dukungan, mereka akan belajar untuk menyukai dirinya sendiri." - Dorothy Law Nolte

Mary Whelchel menjelaskan bagaimana banyak peranan wanita telah berubah dan bagaimana mereka mengatasi perubahan ini.

Pemerintah Amerika tidak yakin Saeed Abedini akan dapat dibebaskan dari penjara Iran.

Sebuah studi dari Pew Research baru-baru ini menemukan bahwa sebagian besar orang Amerika tidak melihat fertilisasi in vitro (proses pembuahan sperma dan sel telur yang berlangsung di luar tubuh, dan kemudian meletakkan embrio sebagai hasil pembuahan tersebut ke dalam uterus/rahim dari pihak ketiga - Red.) sebagai isu moral. Pandangan dalam tradisi-tradisi keagamaan dewasa ini, termasuk para pendeta, tampaknya cenderung mengatakan bahwa fertilisasi in vitro (disingkat FIV) "bukanlah masalah moral" daripada mengkritisi atau menolaknya.

Beberapa dari kita memiliki kesulitan dalam mengekspresikan diri kita sendiri. Kita tidak mampu untuk bercakap-cakap. Kita tidak jenaka. Apabila tidak berada bersama dengan orang-orang terdekat atau yang kita kenal dengan baik, kita bahkan akan tidak yakin apa yang harus dikatakan. Beberapa orang bahkan tidak pergi ke gereja karena mereka tidak tahan membayangkan berbicara dengan orang yang mereka tidak kenal. Yang lainnya pergi ke gereja, tetapi tiba pada menit terakhir, duduk di barisan belakang, dan segera bergegas keluar dari pintu setelah kata "Amin," diucapkan.

Ditulis oleh: N. Risanti

Apakah Anda mengenal seseorang yang tidak memenuhi standar dunia dalam hal kecantikan, tetapi Anda melihatnya sebagai seorang wanita yang cantik dan simpatik? Dulu, saya menganggap kecantikan fisik adalah sesuatu yang sudah berasal "dari sananya", dan beruntunglah orang yang dikaruniai anugerah tersebut semenjak lahir. Namun, saya harus mengoreksi kembali pemikiran tersebut karena kemudian saya menjumpai wanita-wanita yang dalam standar dunia adalah tidak cantik, tetapi begitu menarik dan menyenangkan untuk dilihat.

Pesan ini merupakan salah satu budaya kita yang dengan sungguh-sungguh diajarkan kepada anak perempuan dan para perempuan, dan dimulai pada masa awal kanak-kanak. Muncul kepada kita dari hampir segala sisi: televisi, film, musik, majalah, buku, dan iklan. Dalam kekompakan yang hampir sempurna, mereka melukiskan gambaran apa yang sebenarnya penting bagi kita. Akibatnya, para wanita bersikeras bahwa apa yang paling penting bagi mereka adalah keindahan-keindahan fisik. Bahkan, orang tua, saudara, guru, dan teman-teman kadang-kadang tanpa disadari menambahkan perbuatan yang senantiasa diulang: anak-anak "tersayang" mendapatkan ooh, aah, dan perhatian yang memuja, sementara anak-anak yang kurang menarik, kelebihan berat badan, atau kurus, mungkin menjadi sasaran kata-kata yang tidak baik, ketidakpedulian, atau bahkan penolakan secara terbuka.

Pelayanan Yesus merevolusi cara wanita diperlakukan. Meskipun Ia bekerja dalam tradisi budaya pada masa-Nya, Ia mengabaikan pembatasan peran pada kaum wanita dengan memungkinkan mereka untuk mengikuti Dia secara terbuka dan turut berpartisipasi dalam pelayanan-Nya. Sikap pribadi-Nya kepada mereka menunjukkan bahwa Ia mengharapkan wanita untuk bekerja sebagai mitra dengan para murid pria dalam pekerjaan Injil.

"Saya lelah merasa kehilangan dan sendirian, tetapi pikiran ini membuat saya merasa tidak setia pada mendiang suami saya. Apa yang harus saya lakukan?"

Selama bertahun-tahun saya merasa rendah diri dan saya tidak menyukai diri sendiri. Saya benci kepribadian saya dan saya membenci bunyi suara saya. Salah satu yang saya dapatkan melalui pelecehan yang saya alami saat bertumbuh dewasa, adalah terbentuknya rasa malu dalam diri saya. Saya tidak lagi malu dengan apa yang terjadi pada diri saya—saya menjadi malu tentang diri saya. Saya sakit hati dan, akibatnya, menyakiti orang lain.

Saya perlu mempercayai Tuhan untuk bantuan keuangan. Dia setia di masa lalu. Akankah Dia setia lagi?

"Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka." (Amsal 31:8-9)

Saya jatuh cinta dengan sepatu baru saya. Sepatu saya tiba melalui paket pos minggu lalu, dan saya tidak sabar untuk mencobanya. Sebab, itu bukan sembarang sepatu, melainkan sepatu tap hitam untuk drama yang saya mainkan. Saya bahkan tergoda untuk tidur dengan sepatu tersebut.

Malam ini adalah malam Natal. Seisi rumah mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu sejak pagi tadi. Begitu juga dengan aku. Sesudah misa malam Natal, biasanya kami sekeluarga berkumpul untuk saling mengucapkan selamat Natal dan makan malam bersama.

Pages