Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Bersama Keluarga Melayani Kota

Untuk apa menikah?

  1. Supaya dicintai.
  2. Supaya tidak lagi kesepian.
  3. Memiliki anak.
  4. Memiliki pasangan untuk berhubungan intim.
  5. Supaya lebih aman di bidang keuangan.
  6. Menjalani kehidupan normal seperti orang banyak.
  7. Untuk berbagi tugas kehidupan sehari-hari.
  8. Untuk memenuhi kebutuhan emosional paling mendalam.

Itu semua merupakan alasan praktis. Namun, saat direnungkan lebih jauh, banyak orang mempertanyakan apa sebenarnya makna pernikahan.

Saat ini terlalu banyak orang menikah dengan berfokus pada hal-hal yang salah. Mereka cenderung mengejar kepentingan diri sendiri. Sikap ini dikenal dengan istilah mitos "realisasi diri". Dipermukaan, sikap ini tampaknya tidak salah, bahkan mungkin bijaksana dan tepat bagi kehidupan yang semakin individualis saat ini.

Akan tetapi, jika ditelusuri lebih jauh, memprioritaskan kebahagiaan pribadi dengan tidak memedulikan orang lain adalah racun. Bukan hanya dari sudut pandang rohani, melainkan juga dari sisi kehidupan sosial yang duniawi. Kehidupan masyarakat yang baik selalu ditopang oleh komitmen dari orang-orang yang mau mengesampingkan kepentingan pribadi untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

Lebih lanjut, ada cukup bukti dalam penelitian psikologis dan pengalaman klinis dari para praktisi kesehatan mental yang menunjukkan bahwa mitos "realisasi diri" tidak tepat. Orang-orang yang memiliki kondisi mental yang baik dan memiliki hubungan antar pribadi yang baik adalah orang-orang yang tidak mencari kepuasan diri sendiri, melainkan hidup untuk tujuan yang lebih besar dan lebih mulia. Inilah orang-orang yang lebih mampu mengatasi ketidakpastian. Merekalah orang-orang yang siap mengatasi krisis yang tidak terelakkan dalam hidup ini. Mereka orang-orang yang mengerti makna hidup yang sesungguhnya. Sikap ini pula yang membuat kita mudah menemukan makna pernikahan yang benar.

Makna Pernikahan

Orang-orang beriman mengakui bahwa mereka diciptakan menurut gambar (citra) Allah yang menghargai hubungan dan berpegang teguh pada perjanjian-Nya. Makna dari pernikahan, bahkan pernikahan yang cacat sekalipun, dapat ditemukan dengan merenungkan Allah yang memegang janji, yang datang ke dunia sebagai hamba yang menderita, yang memberi kasih sekalipun tidak menerima kasih.

Makna seperti ini tidak dimengerti oleh banyak orang dalam kebudayaan kita. Ini berlawanan dengan pendekatan mementingkan diri sendiri/realisasi terhadap kehidupan.

Betapapun pedihnya menghadapi kenyataan pernikahan yang hancur, selalu ada jalan pemulihan bagi orang yang mau melihat makna pernikahan yang lebih luas. Bukan dengan cara yang pasrah dan sekadar bertahan terhadap situasi buruk yang ada, melainkan dengan semangat untuk menaati Allah dan menentang budaya realisasi diri.

Meskipun dalam pernikahan yang hancur masih terdapat makna, semua kita dipanggil untuk menemukan makna dalam pernikahan. Setidak-tidaknya bagi orang beriman ada empat tujuan nyata dari pernikahan:

  1. Melayani Pasangan
  2. Pernikahan adalah tempat di mana setiap pasangan saling melayani satu sama lain, tolong-menolong untuk bertumbuh secara emosi, sosial, intelektual, dan rohani dalam perjalanan untuk menjadi seperti yang Allah kehendaki.

  3. Melayani Anak-Anak
  4. Bagian dalam misi pernikahan adalah membesarkan anak-anak untuk mencapai potensi mereka yang sepenuhnya dan mengarahkan mereka untuk mengasihi dan melayani Allah. Sekalipun pasangan suami-istri menerima karunia untuk menjadi orang tua, mereka memiliki prioritas yang baru dan terpenting, yaitu melakukan apa pun yang perlu supaya anak-anak mereka bertumbuh dan berkembang sepenuhnya. Tidak ada pelayanan yang lebih penting bagi orang tua selain melihat anak-anak mereka menjadi seperti yang Allah kehendaki.

  5. Melayani Komunitas Iman
  6. Pernikahan yang berhasil melaksanakan kedua hal di atas, dipanggil untuk bergerak maju ke pelayanan yang lebih luas. Setiap pasangan beriman kepada Kristus, dipanggil untuk menggunakan talentanya bagi kehidupan tubuh Kristus. Akan tetapi setiap pasangan harus bisa memastikan bahwa keterlibatan mereka di gereja tidak mengurangi makna kehidupan keluarga.

  7. Melayani Dunia
  8. Pernikahan yang tidak memiliki "sesuatu" untuk dibagikan keluar, bagaikan cangkir kosong bagi dunia yang haus. Setiap pernikahan seharusnya memiliki komitmen untuk memiliki suatu pelayanan yang bisa ditawarkan kepada dunia atau komunitas yang lebih luas. Bisa berupa proyek-proyek pelayanan yang terorganisir secara formal maupun non formal untuk melayani dunia yang terhilang atau hancur. Kunci pelayanan ini bagi pasangan adalah menemukan suatu kebutuhan, mengidentifikasi kekuatan yang ada pada mereka untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan membenamkan diri dalam sebuah misi yang sama.

Pasangan yang menemukan makna pernikahan seperti di atas adalah pasangan yang memandang dirinya sedang menaati Allah, membangun dirinya, dan menjadi orang yang sedang menentang budaya realisasi diri atau yang mencari kepentingan diri sendiri.

Diambil dari:

Judul Majalah : Abbalove, Edisi Sahabat Kota Kita, Volume 1
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Abbalove Ministries, Jakarta
Halaman : 18 -- 19
Tipe Bahan: 
kategori: 

Komentar