Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Haruskah Istri Tunduk?

"Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan." (Efesus 5:22) Masih berlakukah ayat itu? Betulkah istri harus tunduk kepada suami? Mengapa ada ayat seperti itu di Alkitab? Mungkin zaman dulu cocok, tetapi bagaimana zaman sekarang? Bukankah perempuan dan lelaki sama harkat dan martabatnya? Mengapa yang disuruh tunduk cuma istri? Bukankah itu merupakan pelecehan kepada perempuan?

Membaca Alkitab memang susah. Ayat seperti itu sering menimbulkan salah kaprah. Di satu pihak ada yang berpendapat bahwa perintah itu harus dilaksanakan karena sudah tertulis di Alkitab. Akibatnya, ada suami yang suka memaksakan segala keinginannya sehingga istri merasa tertindas. Di lain pihak ada yang berpendapat bahwa ayat itu sudah kuno sehingga tidak usah dibaca lagi. Kedua anggapan itu salah kaprah.

Langkah minimal untuk memahami sebuah ayat adalah dengan mempelajari ayat-ayat sebelumnya dan ayat-ayat sesudahnya atau perikopnya. Perikop adalah kelompok ayat yang merupakan sebuah satuan. Paling tidak kita membaca seluruh pasal yang bersangkutan.

Sekarang kita kembali ke perintah kepada istri untuk tunduk itu, dengan memerhatikan letak ayat tersebut di halaman Alkitab kita. Di Alkitab kita, ay. 22 ini terpotong dari ayat yang di atasnya karena terpenggal oleh judul. Akan tetapi, di Alkitab BIMK, ay. 22 ini tidak terpisah dari ay. 21 sebab judulnya bukan terletak antara ay. 21 dan ay. 22, melainkan di atas ay. 21.

Dari perbandingan kedua Alkitab itu, manakah yang sesuai dengan bahasa aslinya? Kedua-duanya pun tidak sesuai! Mengapa?

Oleh karena dalam Alkitab bahasa aslinya tidak ada pembagian pasal, ayat, dan judul. Pembagian ke dalam pasal-pasal baru dilakukan pada tahun 1226 oleh Stephen Langton, uskup Canterburry, Inggris, dan pembagian ke dalam ayat-ayat pada tahun 1551 oleh Robert Estienne, pemilik percetakan di Lyon, Perancis (lihat bab "Teka-teki Alkitab" di buku Selamat Berpelita).

Apakah dalam bahasa aslinya struktur kalimat ay. 21 dan 22 itu sama dengan Alkitab kita? Tentu berbeda! Tertulis, "... hupotassomenoi allelois en fobo khristou. Ai gunaikes tois idiois andrasin hos to kurio". Terjemahan tekstualnya, "... tunduk saling dalam takut akan Kristus. Istri-istri kepada mereka sendiri suami-suami seperti kepada Tuhan". Terjemahan literal, "... tunduk satu sama lain dalam takut akan Kristus. Istri-istri kepada suami-suami mereka sendiri seperti kepada Tuhan".

Bandingkan perbedaannya dengan bunyi Alkitab kita, "... dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan."

Apa perbedaannya? Alkitab kita memberi kesan bahwa yang tunduk adalah istri. Padahal menurut bahasa aslinya baik istri maupun suami harus saling tunduk.

Dalam bahasa aslinya, saling tunduk itu sudah ditekankan dalam ay. 21. Lalu dalam ay. 22 dirinci bahwa istri tunduk kepada suami. Mengapa tidak ada rincian bahwa suami perlu tunduk kepada istri?

Ada! Bacalah ayat-ayat berikutnya. Di ay. 25 tertulis, "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat ...." Mengapa dalam ayat itu perintah kepada suami bukan merupakan perintah untuk tunduk, melainkan perintah untuk mengasihi?

Bagus, Anda cukup teliti. Akan tetapi, simak lagi terjemahan tekstual bahasa aslinya tadi. Di ay. 21 ada perintah untuk saling tunduk. Lalu di ay. 22 dirinci perintah kepada istri tanpa kata kerja apa pun! Lalu di ay. 25 perintah kepada suami dengan kata kerja mengasihi. Jelas di antara dua ayat itu terdapat keseimbangan.

Akan tetapi, verba tunduk masih kurang enak didengar. Kata itu mempunyai konotasi netral atau positif jika digunakan dalam kalimat seperti tunduk kepada hukum. Namun, konotasi menjadi negatif jika digunakan dalam kalimat tunduk kepada istri atau tunduk kepada suami. Verba itu terkesan menyuruh kita taat membabi buta, tidak bersikap kritis, atau tidak punya pendirian.

Verba bahasa aslinya berarti tunduk, takluk, patuh, taat, mengambil posisi rendah, dan membuat diri bertanggung jawab. Konsep itu juga dipakai dalam ranah tata negara di budaya Yunani Romawi. Rakyat membuat diri bertanggung jawab kepada pemimpin. Namun, juga sebaliknya, pemimpin membuat diri bertanggung jawab kepada rakyat. Jadi, di sini tidak ada pihak yang ditindas atau yang menindas.

Kemudian, apa konsep yang memotivasi saling tunduk antara suami istri dalam perikop ini? Surat Efesus ini, yang agaknya ditulis oleh murid Rasul Paulus beberapa tahun setelah kematiannya, merupakan doktrin Paulus yang antara lain berciri pengutamaan kristologi (ajaran tentang Kristus).

Kristologi itu tampak dalam perikop ini, yakni bahwa saling tunduk antara suami istri mengacu kepada diri Kristus. Inilah deretan konsep dalam perikop ini. Saling tunduk "di dalam takut akan Kristus" (ay. 21). Istri tunduk kepada suami "seperti kepada Tuhan" (ay. 22). Penyebabnya adalah karena suami merupakan kepala "sama seperti Kristus adalah kepala jemaat" (ay. 23a). Juga karena "Dialah yang menyelamatkan tubuh." (ay. 23b) Sejajar dengan "sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus." (ay. 24) Selanjutnya, motivasi perintah kepada suami adalah "sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat." (ay. 25a) Bahkan juga "telah menyerahkan diri-Nya baginya." (ay. 25b). Lalu dibulatkan dengan dasar bahwa Kristus "menguduskannya ... menyucikannya ... memandikannya dengan air dan firman." (ay. 26)

Perhatikan bahwa hanya dalam beberapa kalimat saja untuk satu isu ini, penulis surat menderetkan tujuh konsep kristologi sebagai argumentasi. Hal ini menunjukkan bahwa gereja pada abad pertama berorientasi kepada karya Kristus, berbeda dengan beberapa gereja tertentu di kemudian hari yang cenderung lebih berorientasi kepada pneumatologi, yaitu karya Roh.

Apakah dasar dari ketujuh argumentasi tadi? Dasarnya adalah "di dalam takut akan Kristus." (ay. 21) Konsep "di dalam Kristus" merupakan teologi mistik Rasul Paulus. Dan budaya Yahudi, Paulus mendapat pengaruh apokaliptik, yaitu pandangan tentang alam ilahi yang visual dan simbolis, sedangkan dari budaya Yunani ia mendapat pengaruh esoterik, yaitu pandangan tentang alam ilahi yang misterius dan rahasia. Lalu Paulus menganut teologi mistik, yaitu dambaan berpadunya umat dengan Kristus seperti falsafah Jawa manunggaling kawula Gusti (lihat bab "Sehati Sepikir dalam Tuhan" di buku Selamat Sehati).

Itulah duduk perkara ayat ini, yaitu tentang saling respek antara suami istri seperti kita respek kepada Kristus. Jadi, ayat ini sama sekali tidak melecehkan martabat perempuan. Juga tidak ada urusan dengan kekuasaan suami atau istri. Yang pasti, juga tidak ASS (Asal Suami Senang) atau AIS (Asal Istri Senang).

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Selamat Berpadu
Judul bab : Haruskah Istri Tunduk?
Penulis : Andar Ismail
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 2014
Halaman : 47 -- 50
Tipe Bahan: 

Komentar