Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Buanglah Segala Kepahitan

Saya terkesan sekali waktu membaca Kisah Para Rasul 8 baru-baru ini. Firman Tuhan membicarakan tentang Simon, si ahli sihir. Rasul Petrus, oleh ilham Roh Kudus berkata kepadanya, "hatimu tidak lurus di hadapan Allah."

Akar Penyebab

Selanjutnya Petrus berkata tentang bagaimana hal itu telah terjadi: "Sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan." Di sini Petrus menuju pada akar penyebab sebenarnya dari persoalan Simon. Ia terjerat dalam kejahatan karena kepahitan di dalam hidupnya.

Kepahitan adalah suatu Sikap

Kepahitan adalah suatu sikap yang mempengaruhi banyak orang, termasuk orang-orang Kristen. Paulus, waktu menulis kepada sidang jemaat Efesus menantang mereka :... segala kepahitan... hendaklah dibuang dari antara kamu." Selanjutnya ia berkata: "hendaklah... saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" (Ef. 4:31-32).

Definisi dari Kepahitan

Sangat jelas dari Firman Tuhan bahwa kepahitan berakar dari kurangnya pengampunan terhadap seseorang atau suatu keadaan. Apakah definisi dari kepahitan?

  1. Mempunyai selera yang tajam dan tidak mudah cocok.
  2. Menyebabkan atau menunjukkan kesedihan atau sakit.
  3. Tajam, tidak menyenangkan, kasar.

Beberapa contoh dari Alkitab

Tentang Kepahitan

Banyak contoh dari Alkitab yang dapat kita lihat. Di sini hanya dikemukakan beberapa saja, dan alasan-alasan dari kepahitan mereka:

  1. Ayub - Ayub 3:20; 7:11; 9:18; 10:1; 13:26; 21:25; 23:2.
  2. Esau, Kehilangan berkat - Kej. 27:34
  3. Israel, dalam perhambaan di Mesir - Kel. 1:14.
  4. Naomi, dalam kehilangan keluarganya - Rut 1:25.
  5. Hana, karena tidak mempunyai anak - 1 Sam. 1:10.
  6. Israel, dalam kekalahan - 2 Raj. 14:26.
  7. Mordekhai, karena Haman - Ester 4:1.
  8. Yehuda, dalam kekalahan - Rat. 1:4.
  9. Yeremia, karena penghancuran Yehuda dan Yerusalem - Rat. 3:15.
  10. Petrus, karena dosa - Mat. 26:75.

Kepahitan adalah Ketiadaan Pengampunan yang Berlanjut

Dengan demikian kepahitan adalah ketiadaan pengampunan yang berlanjut. Kepahitan berkembang menjadi satu sikap yang tetap. Kita cepat melihatnya sebagai yang diarahkan kepada manusia, tetapi akhirnya hal itu ditujukan kepada Allah. Sering kali kepahitan mulai ada karena perkataan, tindakan, atau perbuatan yang kurang baik dari seorang lain terhadap kita. Kita membiarkannya memasuki pikiran dan roh kita dan kemudian mengijinkan banyaknya "pengulangan kembali" dari apa yang telah mereka katakan -- dan sudah tentu dalam pengulangan kembali itu kita selalu menjadi "pusatnya". Satu contoh utama adalah Saul dan Daud (1 Sam. 18:6-11). Saul marah kepada Daud dan membiarkan kemarahan itu bersarang dalam hatinya. Akibat akhirnya adalah bahwa di kemudian hari ketika tombak ada di tangannya, ia melemparkannya dalam usaha membunuh Daud. Pelemparan tombak itu dimulai dengan satu sikap yang salah, yaitu ketika Daud dinyatakan lebih mulia daripada Saul.

Pohon Kepahitan:

Akar

Setiap pohon pasti memunyai akar dan akar dari kepahitan adalah ketidaksediaan untuk mengampuni. Perhatikan Ibrani 12:17 dan bandingkan dengan Amos 1:11... "Ia memendamkan amarahnya untuk selamanya."

Batang

Ini adalah yang tumbuh keluar dari akar dan bertumbuh karena kesediaan kita untuk terus merenungkan apa yang telah menyebabkan akar atau benih yang tertanam dalam hati kita itu. Alkitab penuh dengan peringatan tegas tentang hal ini. Kol. 3:19 ..."hai suami-suami kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia." Firman itu selanjutnya membicarakan tentang disiplin terhadap anak-anak agar tidak terjadi kepahitan di dalam keluarga. Bisa terjadi juga di antara tetangga, majikan, dan pegawai. Benih yang mungkin terjadi itu sering kali tidak jauh dari kita, karena itu kita perlu berhati-hati agar kita tidak membiarkannya bertumbuh dan menjadi satu batang. Sering kali pada keadaan ini kesalahannya dilemparkan kepada "Mengapa saya harus dilahirkan dalam keluarga miskin... dalam bangsa yang tidak tepat... di tempat yang salah... dengan tidak ada talenta dan kesanggupan," dan sebagainya? "Mengapa saya harus kehilangan suami saya... bayi saya... istri saya? MENGAPA SAYA, TUHAN!! Dan dengan cepat kepahitan bertumbuh di dalam kita.

Carang

Dari keadaan ini carang-carang mulai berkembang dan keseluruhan pernyataan menjadi apa yang ada di dalam kita. Carang-carang ini kemudian menghasilkan daun dan bunga, yang kemudian jatuh ke tanah dan lebih banyak benih dihasilkan siap bertumbuh dalam yang lain. Dengan perkataan lain kita menjadi sumber racun yang mempengaruhi orang-orang lain.

Ampuni!

Dasar apa untuk mencegah kepahitan? Tuhan telah mengampuni kita, mengapa kita juga tidak mengampuni? (Luk. 17:1-5). Sedikit-dikitnya kita harus mengampuni seseorang sebanyak 490 kali. Jika saudara menjumpai kesulitan untuk menghitungnya, maka saudara sudah dapat menangkap maksudnya. Sebagai akibat daripada ini murid-murid berkata: "Tuhan, tambahkanlah iman kami."

Ucapan yang Praktis

"Aku mengampuni engkau dalam nama Tuhan Yesus!"

Lanjutkan ke langkah yang ke dua dan ampunilah diri saudara sendiri. Jangan berjalan dalam tuduhan.

Jadilah orang Kristen yang bercahaya yang penuh kasih daripada Tuhan.

Diambil dari:

Judul artikel : Buanglah Segala Kepahitan
Judul majalah : Hidup dalam Kristus Vol. 18 No.2
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Pusat Hidup Baru
Halaman : 19 -- 20
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar