Apakah Arti Menjadi Istri Kristen?

"... sampai maut memisahkan kita. Amin," aku bergumam, tersipu malu dan mengalihkan pandangan ke bawah. Lalu, ia berbalik ke arahku dengan sorot matanya lembut menatap diriku, dan ia memberiku seuntai senyuman hangat yang menenteramkan. Senyuman yang sama itu sudah membuat hatiku berdebar-debar beberapa bulan yang lalu. Wajah yang sama itu telah mencuri hatiku sejak saat itu, bahkan aku terkenang akan dia dalam tidurku.

Detik-detik berikut, terdengar lagi suara pendeta khidmat, "Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, saya menyatakan kalian berdua sebagai suami dan istri". Suara organ berkumandang mengiringi mars pernikahan "Mendelssohns" yang megah. Ketika kami berbalik ke arah jemaat, seluruh jemaat itu segera berdiri. Ibuku dan beberapa wanita lain berusaha menahan air mata bahagia namun sia-sia. Seisi gereja itu diliputi suasana bahagia.

Kami berpegangan tangan tatkala ia menggandengku lembut sambil melangkah perlahan di antara deretan bangku-bangku gereja. Langkah-langkah kami terasa begitu lama meskipun gereja itu tidak terlalu besar. Aku seolah sedang menapak di atas awan-awan. Aku tak tahu harus memikirkan apa, yang kutahu kedua pipi dan telingaku terasa merona. Senyum-senyum ceria mengantarkan doa restu dan ketika kami melalui baris demi baris teman-teman serta kerabat, kami disambut dengan taburan manik-manik kertas berwarna-warni.

Pernikahan yang Indah

Dan ketika kami tiba di pintu gerbang keluar, aku dipenuhi dengan berbagai perasaan campur-baur tidak menentu. Ini bukan sekadar rasa cemas yang muncul akibat prosesi pernikahan ataupun kegirangan karena terpenuhinya impian masa remajaku. Ini adalah suatu perasaan asing yang tidak pernah kualami sebelumnya -- suatu perasaan tidak menentu menjelang memasuki hidup pernikahan.

Lelaki yang kucintai itu sekarang sudah menjadi suamiku, dan aku istrinya. Apakah artinya? Pada saat itu, ketika gamang dalam gelora emosi dan merasa tidak berpengalaman, aku belum juga menyadari maknanya yang sesungguhnya.

Idealisme Masa Muda

Dunia memiliki begitu banyak hal untuk ditawarkan. Aku merasa sungguh beruntung jika dibandingkan dengan para pendahuluku. Setelah melalui jalan berlika-liku, masyarakat kini sudah membuka pintu pendidikan yang lebih tinggi bagi para wanita. Walaupun kuakui aku adalah orang yang romantis, aku bukanlah wanita yang berpikiran lemah. Aku sudah cukup banyak belajar dan menyadari bahwa para wanita sudah bisa menggapai sesuatu yang lebih besar di dunia ini.

Aku memandang berbagai konsep pernikahan tradisional dalam masyarakat dengan rasa jeri [cemas, takut, bimbang, Red.] -- lembaga [pernikahan] yang dibuat oleh laki-laki untuk kaum mereka sendiri itu membelenggu wanita pada tugas-tugas kerumahtanggaan serta mengecilkan peran wanita sebatas objek kesenangan saja. Aku meyakini keunggulan [wanita] dalam masyarakat. Aku memunyai kesempatan dan kemampuan, serta keinginan untuk melakukannya.

Pada sisi lain, aku tidak siap untuk mencampakkan gagasan tentang pernikahan. Aku tetap perlu dicintai, merasakan kehangatan pelukan yang penuh kasih, sepasang bahu kukuh tempat bersandar ketika aku menangis sedih, dan seorang lelaki untuk berbagi impian serta kebahagiaan. Tetapi, aku sudah bertekad untuk tidak membiarkan diriku memasuki peran-peran istri yang "tradisional".

Aku yakin bahwa sebuah rumah ideal adalah tempat untuk sepasang suami dan istri yang sama-sama setara, dan mengambil keputusan dengan cara sama seperti yang kulakukan bersama rekan-rekan sekerja dalam bisnis -- ada banyak tawar-menawar dan kompromi. Aku yakin bahwa pekerjaan rumah tangga harus dikerjakan bersama, seadil-adilnya -- jika dibelah harus tepat di tengahnya. Aku yakin bisa menjadi wanita karier yang berhasil sekaligus istri yang hebat!

Pada tahun 1963 aku ingat tentang peluncuran sebuah buku baru yang menggemparkan pasar. Buku itu -- "The Feminine Mystique", ditulis oleh Betty Friedan -- menjadi buku terlaris pada waktu itu serta mengubah sejarah hidup ribuan laki-laki dan perempuan muda.

Friedan mendukung gagasan pembebasan wanita dari peran istri/ibu untuk menemukan identitas pribadi mereka sebagai orang-orang yang mengerjakan berbagai profesi, dan menjadi orang-orang yang berkembang. Sepanjang 10 tahun, buku itu sudah terjual lebih dari 2 juta eksemplar. Aku terkesan. Pandangan-pandangannya begitu sesuai dengan pendirianku, dan aku menerimanya.

Itu adalah masa-masa ketika kaum wanita benar-benar melakukan gebrakan-gebrakan penting di dalam masyarakat melalui politik, bisnis, pendidikan, hiburan, dan olahraga. Kami semua terhisap dalam gerakan Pembebasan Wanita, yang berjuang untuk kesetaraan dan persamaan hak. Apa pun maksud sesungguhnya di balik gerakan tersebut, tidak seorang pun di antara kami yang benar-benar mengetahuinya.

Aku mengikuti banyak kegiatan tanpa bertanya kepada Tuhan, apakah yang Ia sudah katakan mengenai semua perkara ini di dalam Alkitab. Aku tidak bersedia untuk direpotkan. Itu tidak kupertanyakan pada saat itu. Namun demikian, setelah beberapa lama menikah aku mulai memikirkan masalah ini dengan serius. Ini terpaksa; apa yang seharusnya menjadi puncak angan-anganku dan didasarkan pada kenyataan itu ternyata masih kasar, dan aku menyadari bahwa idealisme masa mudaku tidak bisa dijalankan.

Ketika guruku yang galak mengajariku bahwa makna pernikahan melebihi apa yang kubayangkan, ia tidak mengajariku apakah makna pernikahan itu.

Untung saja aku memunyai fondasi Kristen yang membuatku mulai berpaling pada halaman-halaman Alkitab, dan aku menemukan jawaban yang melegakan. Pada saat itulah rencana Tuhan disingkapkan secara luar biasa di depan mataku. Untuk pertama kalinya, aku menemukan kunci untuk pernikahan yang utuh dan berbahagia.

Sejak saat itu, aku mulai mengalami sukacita pernikahan dan menemukan makna menjadi istri yang sesungguhnya. Sang Mahakuasa memiliki suatu tujuan untuk segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Jika kita hidup sesuai dengan tujuan itu, sudah tersedia hidup yang berkelimpahan.

Pertama-tama, aku harus memahami mengapa Tuhan menciptakan wanita.

Penolong yang Sepadan

Aku membuka Kejadian 2:18,21-22 dan membaca:

" TUHAN Allah berfirman: 'Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.' Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. "

Ya, aku harus menjadi seorang "penolong yang sepadan baginya". Kata Ibrani asli untuk "sepadan" adalah "ezer kenegdo" (secara harfiah berarti "seorang penolong di depannya", yaitu "seorang penolong yang sesuai dengannya"), menunjukkan fungsi saling melengkapi. Seorang laki-laki tidak akan lengkap tanpa seorang perempuan.

Istri tidak seperti satu bagian mainan yang bisa dibongkar pasang karena ada yang hilang -- ia memenuhi kekurangan suaminya dan sang suami memenuhi kebutuhan istrinya. Dan "kesepadanan" itu adalah milik bersama, sebab mereka tidak lagi dua melainkan satu kesatuan. Mereka diciptakan bukan untuk bersaingan melainkan untuk saling melengkapi. Aku harus menjadi seseorang yang bukan diriku saja.

Sekarang, aku sudah menyadari betapa sia-sia perempuan mencoba bersaing dengan laki-laki. Itulah kebodohan sindrom "Annie Kompleks" -- "Segala sesuatu yang engkau bisa lakukan, aku bisa melakukannya dengan lebih baik. Aku bisa melakukan apa pun lebih baik dari dirimu."

Aku telah melihat unsur penyebab keretakan pernikahan. Tuhan tidak merencanakan bahwa perempuan harus menjadi seperti laki-laki. Tuhan menciptakan kita memang berbeda dalam hampir segala sesuatu, dan itu pasti bukan suatu kecelakaan. Istri adalah seorang penolong yang sepadan. Pada saat aku memahami bahwa ukuran pencapaian hidup terletak pada keberhasilan menjadi penolong [suami] dalam segala sesuatu yang dirancang Tuhan bagi dirinya, pada saat itulah aku mulai merasakan kebahagiaan seorang istri.

Identitas kita tidak hilang dalam proses itu, tidak seperti yang dipikirkan oleh kaum feminis garis keras mengenai kita. Bahkan, kita justru menguatkan identitas diri kita. Prestasinya adalah prestasiku, dan sukacitanya pun sukacitaku. Ia menyadari bahwa diriku adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilannya, entah apa pun bentuknya. Tanpa andil diriku, kebahagiaannya tidak akan sempurna.

Aku memunyai pandangan yang menarik mengenai 1 Korintus 11:8-9. Aku sudah belajar bahwa "laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki". Tuhan yang baik menciptakan diriku demikian khusus untuk dia [suami] agar aku menjadi penolongnya yang sepadan.

Pada saat aku menyingkirkan gagasan mengenai usaha untuk membuktikan martabat dan kemampuan diriku sebagai seorang pribadi di tengah masyarakat, pada saat itulah aku sudah menjadi seorang yang lebih berharga dan lebih mampu.

Seorang Kekasih

Kemudian, aku beralih ke Amsal 5:18-19:

"Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu: rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya."

Keluarga adalah tempat kelahiran cinta. Di antara suami dan istri tidak boleh ada apa pun selain cinta. Tidak jarang kita menemukan banyak kisah cinta, yang dimulai dengan gairah membara, akhirnya pudar menjadi kebosanan yang hampa. Biasanya, mereka menganggap martabat masing-masing sebagai suatu keniscayaan, namun mengabaikan perbuatan-perbuatan kecil yang menyatakan cinta -- banyak tindakan sederhana untuk mengungkapkan kasih sayang. Misalnya, menyiapkan makanan kesukaannya dan membelainya dengan lembut ketika ia tampak letih setelah seharian bekerja berat. Cinta itu bagaikan api yang harus dipertahankan nyalanya dengan hati-hati. Ia bisa dipadamkan oleh perkataan yang sembrono, dan atau oleh tindakan yang serampangan; entah sekecil apa pun.

Pernikahan yang bahagia juga memiliki unsur lain yang penting, dan banyak istri tidak menyadari unsur penting itu, terutama di kalangan wanita Asia. Unsur penting itu adalah peran seks dalam pernikahan.

Meskipun tidak dimungkiri bahwa seks berhubungan dengan menghasilkan keturunan, namun peran seks sebenarnya melebihi itu. Seks bukan sekadar persoalan kebutuhan jasmani, dan bahwa itu tidak boleh dilakukan di luar pernikahan. Di dalam pernikahan, seks merupakan puncak ungkapan kemurnian cinta: secara jasmani, psikologis, dan emosi. Seks mengungkapkan hubungan paling intim yang bisa dicapai oleh sepasang manusia bersama-sama, dan itu adalah tindakan saling memberi diri seutuhnya -- dari dan oleh keduanya seorang terhadap yang lain.

Dengan meminjam kata-kata Rasul Paulus:

"Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya [eufemisme Alkitab untuk seks], demikian pula istri terhadap suaminya. Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya. Janganlah kamu saling menjauhi [menolak berhubungan intim], kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali, hidup bersama-sama [seperti yang dimaksud oleh 'keduanya menjadi satu daging' dalam Matius 19:5], supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak." (1 Korintus 7:3-5)

Selanjutnya, aku sudah dapat melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang benar. Tidaklah benar bahwa penyerahan diri kepada suami menempatkan kita [istri] sebatas menjadi objek kesenangan semata. Dalam pernikahan yang benar, kepuasan terbesar kita dapatkan ketika kita saling memberikan diri sendiri. Seks didesain sebagai kekuatan perekat dalam pernikahan yang utuh. Seorang istri yang mencoba untuk menguasai dirinya sendiri akhirnya bukan hanya menghancurkan dirinya sendiri tetapi juga menghancurkan kekasih yang paling dicintainya, dan bahkan mungkin termasuk anak-anaknya. Peran sebagai seorang kekasih tetap memberikan banyak keuntungan.

Seorang Ibu

Setelah kejatuhan manusia, Tuhan Allah mengutuk [Iblis] dan berkata [kepada Hawa]:

"Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." (Kejadian 3:16)

Sejak saat itu, perempuan memiliki tugas utama untuk melahirkan dan membesarkan anak-anak.

Tetapi, ada orang yang mungkin menyanggah bahwa Perjanjian Baru telah mengubah keadaan itu. Mereka mengacu pada ketentuan sunat Perjanjian Lama yang menganggap bahwa kedudukan wanita lebih rendah sehingga tidak perlu disunat dan mereka bisa masuk ke dalam perjanjian itu semata-mata karena kesalehan suami mereka. Namun di dalam Perjanjian Baru, keselamatan itu diberikan kepada keduanya, laki-laki dan perempuan, sehingga keduanya bertanggung jawab untuk menerima Yesus Kristus secara pribadi dan dibaptiskan dalam nama-Nya agar bisa masuk ke dalam perjanjian kasih karunia. Oleh sebab itu, status perempuan sudah diangkat setara dengan laki-laki. Dan seiring perubahan itu, tentu saja, terjadi juga perubahan dalam hal tanggung jawab.

Memang benar jika dikatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab secara pribadi atas dosa-dosanya sendiri dan agar bisa diselamatkan mereka masing-masing dituntut untuk menerima Kristus secara pribadi. Bahkan, Paulus berkata dalam Galatia 3:27-29, "Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus... tidak ada laki-laki atau perempuan." Tetapi, jika kutipan ini diartikan sebagai hilangnya perbedaan di antara kedua jenis kelamin, maka itu adalah penyesatan.

Jika ayat itu hendak dibaca secara tepat, kita harus mengaitkannya dengan hubungan kita dengan Tuhan. Jadi, laki-laki dan perempuan itu sama dalam hal kedudukan mereka di hadapan Tuhan -- mereka adalah sesama ahli waris keselamatan dan, tentu saja, kerajaan masa depan. "Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan." (Markus 12:25)

Namun demikian, yang mendasari hubungan suami dan istri tidak berubah. Di dalam baptisan, kita dibebaskan dari dosa Adam tetapi bukan dari [hukuman] yang sudah diberikan oleh Tuhan; jika tidak demikian, seorang ibu Kristen tidak perlu menderita sakit bersalin. Apakah tanggung jawab kita? Ayat-ayat Alkitab mengarahkan perhatian pada hak istimewa para istri dan ibu untuk mengurus rumah tangganya.

Saya berharap Anda tidak berpikir bahwa saya menyerah pada keadaan terikat itu, dengan tidak beralas kaki di dapur dan tanpa hak untuk memutuskan kehamilan, tanpa berkomentar sedikit pun. Aku sudah menganggap tugas pemberian Tuhan ini sebagai satu kesenangan. Siapakah yang mampu menciptakan lingkungan yang baik untuk perkembangan anak-anakku sepenuhnya? Siapakah yang mampu menyediakan tempat untuk bernaung bagi suamiku tercinta?

Pada sisi lain, aku tidak mengatakan bahwa istri tidak boleh bekerja di luar rumah. Pada sejumlah kasus, para istri itu diharuskan untuk tanggap terhadap tekanan keadaan keuangan. Dan pada kasus-kasus lainnya, jikalau mereka diberi karunia khusus, Tuhan mungkin memanggil mereka untuk langsung mengabdi kepada negara (contohnya Debora).

Entah kita seorang ibu rumah tangga ataupun seorang wanita karier, tanggung jawab utama kita ialah untuk mengurus keluarga yang kita kasihi (Titus 2:4-5). Kita harus menguji apakah kita sudah abai atau tidak berperan sebagai istri dan ibu demi mengejar ambisi diri sendiri. Di manakah tepatnya pemusatan waktu dan tenaga kita? Sikap kita perlu diubah. Kita sebaiknya mulai menimbang-nimbang, yang manakah peran kita yang paling penting dari sudut pandang Alkitab, dan kita mulai mengarahkan kehidupan kita ke arah yang benar.

Mengalah Kepada Pasangan

Aku sudah mengatakan keyakinanku sebelumnya, bahwa istri di dalam keluarga berperan sebagai sesama rekan dalam pengertian yang sama seperti rekan bisnis. Kita seharusnya merupakan gabungan sesama kepala, demikian pikirku pada saat itu. Apakah hasilnya? Kebimbangan! Kebuntuan! Perang dingin di rumah!

Aku tidak bersedia mengalah kepada [suami] ataupun menerima keputusannya -- yang bertentangan dengan pendapatku -- dengan sepenuh hati. Dan meskipun aku melakukannya, aku tidak merasa senang. Mengapa aku harus berbuat seperti itu lagi? Kami berdua sama-sama manusia, sama-sama memiliki kualitas, kemampuan, dan pendidikanku juga tidak lebih rendah dari dia. Kami terus-menerus bersitegang.

Ya, kami kadang-kadang melakukan kompromi, tetapi pada saat-saat lain hubungan kami menjadi kaku. Dan kompromi itu sering cukup bodoh. Satu hal sudah pasti, kedamaian [sementara] itu tidak bertahan lama di rumah. Keluarga tidak bisa dijalankan dengan cara seperti orang mengelola bisnis!

Kemudian, beberapa ayat pembuka mata pun menghantamku. Di dalam 1 Korintus 11:3 disebutkan bahwa "Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah". Dan dalam 1 Petrus 3:1 tertulis, "Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya".

"Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat... Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu... dan isteri hendaklah menghormati suaminya." (Efesus 5:22-33)

Aku tidak percaya bahwa ayat-ayat ini menunjukkan ketidakberdayaan perempuan. Kata-kata "seperti kepada Tuhan" itu sangatlah penting. Istri terutama harus taat kepada Tuhan dan itu [dilakukan] melalui suami. Kita, tentu saja, tidak lebih rendah daripada laki-laki. Sebaliknya, Alkitab memerintahkan kita untuk menaati Kristus melalui ketaatan kita kepada suami. Sasaran dan motivasinya ialah kesalehan dan kerohanian. Inilah tugas kita sebagai istri Kristen. Ini juga adalah resep untuk pernikahan yang berhasil.

Pada mulanya memang ini terasa sulit untuk ditelan. Perubahan sikap ini harus menyeluruh. Kesombongan harus diletakkan. Sikap berserah artinya ialah pada saat kami tidak bisa sepakat, aku harus percaya kepada Tuhan dan bahwa Ia akan menuntun keputusan suamiku. Oleh sebab itu, sikap berserah ini bukanlah keputusan sepihak [oleh istri] melainkan penyerahan bersama [suami dan istri] agar Tuhan menyatakan kehendak-Nya melalui [suami]. Aku yakin inilah jalan seorang istri Kristen, dan hasilnya ternyata amat memuaskan. Itulah yang harus kita lakukan jika seseorang ingin hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

 

Singkatnya, hidup seorang istri Kristen artinya bersukacita. Hal itu juga berarti ia menjadi seorang ibu yang hebat dan seorang hamba Tuhan yang setia -- tetapi itu adalah topik yang lain di luar pokok bahasan kita saat ini. Jika dimungkinkan kelak, saya akan membahasnya lebih lanjut. Untuk saat ini, Tuhan sudah memberkati Anda dan keluarga Anda. Amin.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul majalah : Warta Sejati, edisi 48/1 - 2006
Penulis : Manna
Penerbit : Departemen Literatur, Gereja Yesus Sejati Indonesia, Jakarta 2006
Halaman : 38 -- 43
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar