Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

SUARA HATI

Nama saya M. Ayah saya adalah seorang yang taat akan agamanya. Saya menikah pada usia 13 tahun. Anak pertama saya meninggal pada usia 2 tahun. Saat itu suami saya berkata, "Ini terjadi karena kau bukan orang baik!" Saya telah berdoa, berpuasa, dan membaca kitab suci agama saya. Semakin saya membaca, semakin saya mengerti, maka semakin saya tidak dapat menerimanya. Saya menyadari bukan hidup seperti ini yang saya ingini.

Rencana Tuhan berbeda dengan rencana manusia. Inilah yang saya alami. Saya dan suami memutuskan untuk memiliki dua anak saja. Tetapi pada tahun 1998, saya melahirkan anak ketiga. Melalui kehamilan anak yang ketiga ini, ternyata Tuhan menunjukkan kuasa-Nya yang ajaib. Selama ini, keadaan tubuh saya tidak ada yang mencurigakan. Setiap kali melakukan "pap smear" [metode screening ginekologi untuk mendeteksi kanker rahim yang disebabkan oleh human papillomavirus atau HPV, Red.] hasilnya selalu baik.

Dua sahabat, lama tak jumpa, suatu hari bertemu. Yang satu menjadi ibu rumah tangga, satunya lagi wanita karier. Setelah bernostalgia sejenak, mereka menanyakan pekerjaan masing-masing.

"Enak ya kerja di kantor, bisa cari uang sendiri, tak tergantung suami," kata ibu rumah tangga dengan nada agak iri.

"Justru kamu lebih enak. Tak perlu bekerja, semua dicukupi suami, bisa menikmati enaknya tinggal di rumah," sanggah wanita karier.

"Tapi, di kantor kan pergaulanmu lebih luas. Lagi pula ada acara makan siang bersama rekan dan atasan," bantah ibu rumah tangga.

"Di rumah kamu bisa menikmati saat-saat indah bersama anak-anak, bukan?" gerutu wanita karier. "Yah, sebaliknya di kantor kamu lebih terpandang: ikut rapat, pelatihan, dan diskusi dengan para eksekutif," sela ibu rumah tangga.

Kami tinggal di daerah pertanian di Pegunungan Virginia, dan ibu saya sudah bertahun-tahun tinggal bersama kami. Tetapi suatu pagi waktu ibu bangun, ia lupa segalanya. Bertahun-tahun sesudah itu keadaannya semakin memburuk. Kemampuannya untuk berkomunikasi dengan orang lain sudah sirna. Saya tidak berdaya menghadapi keadaannya, sepertinya ia tidak lagi menjadi bagian dari kami. Bagi saya, rasanya ia juga tidak lagi menjadi milik Allah.

Dinodai, diculik, dijual dalam sebuah perkawinan, bahkan diancam untuk dibunuh. Semua itu adalah sebuah mimpi buruk yang mengerikan bagi seorang perempuan. SB, seorang Kristen di Pakistan yang berusia 40 tahun, harus mengalami penderitaan tersebut sebagai konsekuensi atas iman percayanya kepada Kristus.

Ia berjalan takut-takut menaiki tangga depan, seorang anak yang sangat kecil dan kotor, pakaiannya compang-camping, tidak bersepatu, dengan sebuah kotak sepatu kotor yang terikat pada tali kulit tergantung di bahunya. Ia terlihat sangat kecil -- hanya sedikit lebih besar dari anak saya yang berusia 5 tahun. Ia berusaha menggapai bel pintu. Saya memerhatikan saat pembantu saya yang berkewarganegaraan Honduras dan bertubuh besar membukakan pintu.

"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Timotius 4:7)

Tanggal 26 Juli 2010, pukul 10.30 malam, Ibu Ratna Bangun meninggal dunia karena sakit lupus yang dideritanya. Ibu Ratna meninggal di rumah sakit. Suaminya, Bapak Sembiring dan kedua putra mereka, Joshua (11) dan Nathan (6) melepas jenazah Ibu Ratna untuk dimakamkan pada tanggal 28 Juli 2010 di Haurgeulis, kota asal mereka.

Mereka dibagi ke dalam 24 sektor untuk bertugas bergantian, khusus pada hari raya keagamaan -- seperti Hari Raya Pentakosta atau Hari Raya Tabernakel. Semua imam itu bertugas bersama-sama. Setiap sektor melayani dua kali dalam setahun. Masing-masing 1 minggu.

Bagi para imam, melayani Allah di Bait Suci adalah saat yang ditunggu-tunggu. Masa terpenting dalam hidup mereka. Bila tiba gilirannya, mereka akan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Begitu pula Zakharia, yang hari itu mendapat tugas untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan.

Maria bertanya melalui jeruji-jeruji besi, "Varia, tidakkah kau menyesali apa yang kau lakukan?"

"Tidak," gadis Rusia ini menjawab. "Dan jika mereka mambebaskanku, aku akan melakukannya kembali dan akan mengatakan kepada mereka mengenai kasih Yesus yang besar. Jangan pikir bahwa aku menderita. Aku amat senang bahwa Tuhan amat mengasihiku dan memberikan kepadaku sukacita untuk bertahan demi nama-Nya."

Selama kekaisaran Roma diperintah oleh Markus Aurelius (161-170 SM), penganiayaan menyebar di beberapa kota di kekaisaran tersebut. Orang-orang Kristen di Galia (sekarang Perancis) menyimpan catatan tentang orang-orang percaya yang menjadi saksi iman.

"Ini tidak seperti yang saya bayangkan, kita memperoleh bayi kita yang pertama," kata wanita muda itu ketika sedang kontraksi. "Apakah kamu yakin ini cukup bersih?" dia bertanya kepada tunangannya, Yusuf.

Sejarah Penganiayaan

Orang-orang Kristen Pakistan seperti S diperlakukan lebih buruk daripada warga negara kelas dua. Mereka disebut "chora," yang artinya "tukang sapu kasta terendah." Mereka adalah orang-orang yang menjalani pekerjaan yang tidak dikehendaki. Pengadilan, polisi, dan pihak yang berwenang seringkali berprasangka buruk terhadap orang-orang Kristen, yang berjumlah hanya 2 persen dari populasi Pakistan. Hukum agama sedang diterapkan makin mendalam. Hukum ini mengizinkan kekerasan terhadap orang-orang Kristen atau mereka yang berkeyakinan lain. Hukum itu juga mengizinkan membunuh orang-orang "agama lain" yang meninggalkan agamanya. Oleh karena itu, penculikan dan penyerangan S pada bulan September 2007 bukanlah suatu hal yang luar biasa.

Tidak berapa lama, mereka mendapat kabar bahwa salah seorang anggota gereja telah diciduk dan salinan-salinan khotbah Vasile disita. Mereka juga mengetahui bahwa asisten gembala, sahabat, dan rekan sekerja mereka telah menjadi mata-mata musuh dan mengkhianati Vasile.

Tetapi bagi ribuan orang Kristen Korea Utara seperti CY, wajah negara ini tetap jahat. Adalah sulit sekali memahami suatu tempat yang begitu buruk. Orang-orang Kristen harus melarikan diri ke negara Komunis Tiongkok demi suatu kebebasan beribadah yang lebih baik. Korea Utara adalah lebih dari pemerintahan yang diktator. Korea Utara adalah rezim totaliter karena warga negaranya tidak hanya mendukung pemimpin komunis mereka, tetapi harus menyembah pemerintah selayaknya menyembah tuhan.

Keluarganya belum ada yang tahu kalau ia sudah menjadi Kristen. Setiap kali ke gereja Dewi beralasan pergi ke rumah teman atau jalan-jalan ke kota. Kadang-kadang Dewi masih menjalankan perintah agama sehingga tidak ada yang menaruh curiga kepadanya. Namun, lama-lama hatinya tidak tenang untuk berpijak pada dua tempat yang berbeda. Kebetulan, sekolah Dewi pindah dari Mj ke Mk dan harus tinggal di rumah bibinya. Ia sering bertanya kenapa Dewi tidak pernah menjalankan perintah agama. Dewi merasa tidak nyaman dan ingin bebas menentukan iman percayanya. Untunglah istri pak Kar menawarinya untuk tinggal bersama mereka. Dewi tinggal bersama mereka selama 2 tahun sampai tamat SMP. Ketika akan naik ke SMU, Dewi pindah lagi ke Mj.

Pages